Close

Kabadan: Aswaja Sebagai Benteng Islam Washatiyah

Malang (17 Mei 2017). Perkembangan IT dan globalisasi sedikit banyak menjadi akses pembuka bagi varian-varian baru Islam internasional untuk masuk ke Indonesia. Istilah Islam transnasional yang cenderung radikal menjadi trendsetter pasca terjadinya peristiwa pengeboman Pentagon tahun 2001 di Amerika.

Iklim kondusif Islam ala Indonesia yang cenderung menggunakan manhaj Aswaja dan tasawuf, setelah Reformasi saat ini secara bertahap mulai under-attack dengan masuknya pengaruh varian-varian baru Islam transnasional yang cenderung mengedepankan metode yang lebih keras/tegas. Selama kurun 19 tahun pasca Reformasi berbagai varian Islam transnasional tersebut secara sistemik dan terstruktur sudah mulai masuk dan menyebar pada setiap lini kehidupan masyarakat, baik pada wilayah pendidikan, wilayah sosial, wilayah ekonomi maupun wilayah politik.

Demikian pernyataan disampaikan Kepala Badan Litbang dan Diklat Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D. pada acara workshop “Strategi dan Model Pembelajaran Agama Berbasis Aswaja dalam Membendung Paham Radikalisme dan Liberalisme di Indonesia” yang diselenggarakan Lembaga Pengkajian Islam dan Keaswajaan (LPIK) Universitas Islam Malang, bertempat di Hall Oesman Mansur, Universitas Islam Malang, (17/5).

Selanjutnya, Mas’ud mengatakan jika pada era sebelumnya wajah Islam Indonesia cenderung santun, ramah, damai, harmonis dan homogen: smiling Islam, maka saat ini wajah Islam di Indonesia semakin heterogen dengan berbagai varian dan manhaj yang berbeda-beda, cenderung eksklusif: angry Islam. “Model qadim cenderung mengedepankan ketawadlhuan, kearifan. dan kebijaksanaan melalui taklim-taklim secara face to face yang dilakukan di pesantren, masjid, mushola, dan madrasah diniyah, “ungkapnya. “Maka, model keislaman saat ini yang ada adalah ghozwul fikr, upaya untuk menonjolkan truth claim dari masing-masing varian Islam melalui halaqah, mentoring (liqa), pengajian Youtube, Media Sosial, Google, dan sebagainya, “ungkapnya lagi.

Dalam situasi seperti itu, kata Mas’ud, Aswaja (Ahlussunah wal Jama`ah) mampu tampil sebagai benteng Islam washatiyah karena memiliki ciri-ciri: pertama, tidak memberontak terhadap sistem pemerintahan yang mapan. Kedua, rigiditas, ketangguhannya dalam mempertahankan kesatuan melawan segala bentuk disintegrasi dan kekacauan. Ketiga, lebih mengutamakan konsep jama`ah, majority, dan supremasi sunnah. Keempat,  memiliki sikap jalan tengah, tawassuth, middle of the road,  antara teologi dan politik yang ekstrim ( khawarij)  dan syi`ah. Kelima, lebih menampakkan diri sebagai "a normative society," kaum normatif, dengan berdiri tegak mempertahankan prinsip kebebasan spiritual dan menegakkan etika standar dan syari`ah.

Mas’ud menegaskan selain sebagai representasi Islam rahmah dan prototype peradaban Islam, Aswaja juga bisa menjadi perekat ukhuwah di internal umat Islam itu sendiri.

Ditambah lagi dengan memiliki prinsip wasathiyah (moderasi) dan tawazun (seimbang), serta terbiasa dengan dinamika umat menjadikan Aswaja/Islam Nusantara dalam menyikapi persoalan dan konflik selalu menekankan sikap jalan tengah dan objektif.  Melalui prinsip ini perbedaan antar firqoh akan mampu diminimalisir dan Islam Nusantara bisa menjadi referensi bagi kedamaian global.

Terkait konsep idealitas pembelajaran Aswaja, Mas’ud menyarankan: pertama, perlu adanya penyatuan kurikulum terpadu secara nasional terkait dengan materi Aswaja sebagai supply utama bagi pesantren dan sekolah-sekolah NU/Maarif. Kedua, perlu memperluas dan memperkaya materi dan literatur pembelajaran Aswaja baik dalam hal kajian-kajian kitab-kitab klasik maupun dalam konteks kekinian yang bisa menyesuaikan selera umat. Karena kajian Aswaja tidak hanya terbatas pada Syafiiyah dan al Gazali saja.

Ketiga, perlu nuansa baru dalam kajian keilmuan Aswaja secara komprehensif. Memahami Imam Syafii tidak hanya sebatas sebagai pakar fiqh, tetapi juga sebagai ilmuwan dalam keilmuan sejarah, sastra dan sebagainya. Selain itu juga bisa mengkaji karya-karya imam Aswaja lainnya yang belum banyak dikaji seperti, al Mas’udi, Ibn Hazm, Syahrastani, Ibnu Khaldun yang otoritas akademiknya tidak diragukan.

Keempat, perlu memaksimalkan dan mengembangkan model dan metode pembelajaran baru yang berbasis IT yang selalu up to date. Memanfaatkan perangkat media seperti TV, Radio, medsos, google, youtube, dan sebagainya.

Kelima, perlu penguatan kualitas SDM bagi tenaga pengajar, baik guru, ustadz maupun mentor terkait penguasaan pendalaman materi dan juga metode pengajarannya yang berbasis pada humanisme religius. (bas)