Close

Menag Dukung Pusat Kajian Manuskrip Jadi Sumber Rujukan Pengembangan Ilmu dan Riset

Jakarta (9 Februari 2018). Badan Litbang dan Diklat melalui Puslitbang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) duduk bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin guna membahas rencana pembentukan Pusat Kajian Manuskrip, Jumat (9/2).

Peserta yang hadir antara lain Kepala Badan Litbang dan Diklat Prof. Abd. Rahman Mas’ud, Ph.D, Kepala Puslitbang LKKMO Dr. Muhammad Zain, Staf Ahli Menteri Prof. Oman Fathurahman, tim dari UIN Syarif Hidayatullah, dan pejabat dari Puslitbang LKKMO.

Acara diawali dengan paparan Kepala Puslitbang LKKMO mengenai grand design Pusat Kajian Manuskrip. Hal lain yg mendesak untuk segera dibahas dan dipaparkan dihadapan Menteri Agama (Menag) adalah draft PMA tentang tahqiq karena sangat strategis sebagai amanat undang-undang.

Menanggapi paparan tersebut, Menteri Agama (Menag) menilai persoalan manuskrip merupakan hal yang sangat penting namun belum banyak diketahui orang. “Indonesia ini bisa menjadi besar karena ada masa lalu, dan manuskrip itu adalah bagian yang tidak terpisahkan. Masa lalu perlu kita kuasai, bahkan semua kitab suci membahas masa lalu,” ujar Menag.

“Ide besar pendirian Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan ini karena tidak semua orang mengerti dan peduli manuskrip. Ini merupakan barang yang sophisticated namun memuat rekaman masa lalu. Perlu dibuat program prioritas guna berburu manuskrip dan digitalisasi naskah.,” tambah Menag.

Senada dengan Menag, Kepala Badan Litbang dan Diklat Prof. Abd. Rahman Mas'ud menambahkan informasi bahwa program prioritas tersebut juga terkoneksi dengan tiga Balai Litbang Agama (BLA) lainnya, yaitu BLA Jakarta, BLA Semarang, dan BLA Makassar.  “Benchmarking tadi sudah diprogramkan oleh BLA Jakarta ke beberapa negara di Asia Tenggara seperti Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand. Program ini bisa dilanjutkan dan dikembangkan lebih jauh lagi,” usul Kepala Badan.

Selanjutnya Menag mengatakan bahwa Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan kedepan harus benar-benar menjadi sumber rujukan dalam pengembangan ilmu dan riset. “Perlu dibuat program unggulan guna menyedot perhatian publik dengan tantangan yang akan dihadapi adalah bagaimana menyosialisasikan content manuskrip kepada generasi milenial. Program ini perlu digaungkan lewat media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan lainnya,” ungkap Menag dengan antusias.

diad/diad