Close

Persiapan dan Pemantapan Rakor Puslitbang LKKMO

Jakarta (19 Februari 2018). Ibarat permainan sepak bola, Rapat Koordinasi (Rakor) itu adalah usaha untuk memastikan dimana posisi gawang. Siapapun pesepak bola dunia, jika bermain bola tanpa gawang pasti tidak bisa menghasilkan apa-apa. Begitu pula kita dalam bekerja, mindset kita harus sama, bahwa menendang bola perlu diarahkan pada gawang yang tepat.

Hal ini disampaikan Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Muhammad Zain pada rapat pemantapan dan persiapan rakor dengan para Kepala Balai Litbang Agama, sejumlah Kepala Bidang dan peneliti, Senin (19/2).

Rapat koordinasi LKKMO merupakan gerbang implementasi berbagai program yang telah dirancang. Rakor ini dijadwalkan akan dilaksanakan di Belitong tanggal 21-23 Februari 2018.

Pada kesempatan itu, Kapuslitbang LKKMO menyampaikan beberapa hal penting. Pertama adalah persoalan anggaran yang kurang memadai sehingga perlunya kolaborasi dan strategi pelaksanaan kegiatan. Hal ini menurutnya pernah disampaikan kepada Menteri Agama dalam diskusi tentang pusat kajian manuskrip nusantara. Kedua, Puslitbang dan Balai Litbang agar segera merancang program unggulan dan prioritas untuk diajukan anggaran APBNP. Menurut Zain, program-program ini bisa dalam bentuk sinergi maupun program yang harus dilakukan mandiri. Ketiga, menindaklanjuti respon Menag, maka rekan-rekan Puslitbang LKKMO sedang merancang kegiatan Benchmark ke berbagai negara untuk hunting naskah dan menambah wawasan terkait dengan pusat kajian manuskrip. Keempat, program pusat kajian manuskrip nusantara merupakan program monumental yang memerlukan energi banyak karena menyerap anggaran sangat besar, oleh karenanya perlu dukungan semua pihak. Kelima, program besar dan strategis lainnya adalah penilaian buku teks keagamaan yang harus segera dirancang dan dipersiapkan meliputi pihak-pihak mana saja yang dilibatkan, bagaimana pembiayaannya, serta bagaimana mekanisme kerja dari awal hingga akhir. Hal ini penting karena di Pendis mencapai 2000 orang yang terlibat dalam persoalan buku teks keagamaan, ini melebihi yang telah dilakukan Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud hanya sekitar 1000 orang. Keenam, Puslitbang LKKMO menargetkan serapan tahun ini 95%, ini sangat mugkin kita lakukan jika kita mau bergerak cepat dan siap bekerja anytime, ibarat kata, bilapun esok langit runtuh hari ini kita tetap melakukan apa yang telah kita programkan, tandas Kapus.

Menyambut baik apa yang telah disampaikan Kapuslitbang, Prof. Kuswinarno, menginginkan dibangun model dan pola koordinasi pusat dan daerah sehingga implementasi program dapat berjalan optimal. Terkait hal tersebut, Kepala BLA Semarang ini mengingatkan kesepakatan yang telah ditetapkan dalam rakor Badan Litbang dan Diklat di Bandung tahun 2017, bahwa Puslitbang LKKMO mendapatkan tugas melakukan penelitian indeks layanan keagamaan, nah apakah hal ini akan melibatkan balai-balai ataukah hanya dilakukan oleh pusat. Bagi balai, sesungguhnya ke depan sangat memungkinkan dilakukan penelitian kolaborasi dengan mengalokasikan anggaran ke daerah atau tetap dialokasikan di pusat namun dalam pelaksanaannya dilakukan bersama-sama daerah.

Balai Litbang Agama Semarang, tegas Kuswinarno, tahun ini hanya melakukan tugas jenis penelitian, pertama penelitian radikalisme di Perguruan Tinggi, penelitian ini sesungguhnya telah dilakukan dua tahun ke belakang dengan lokus berbeda yakni organisasi kemasyarakatan dan terakhir rohis di sekolah, kedua riset kompetitif internal untuk memberikan kesempatan para peneliti berkompetisi melakukan penelitian baik personal maupun kelompok, dan terakhir adalah penelitian tentang literasi media keagamaan di kalangan pelajar Madrasah Aliyah. Keterbatasan anggaran di BLA ini, menurutnya sangat memungkinkan bila kedepan dipersiapkan penelitian kolaboratif.

Menurut M. Zain bahwa penelitian kolaboratif sangat dan harus dilakukan sebagaimana pesan Menag dalam acara rakornas beberapa minggu lalu yang menegaskan bahwa para peneliti harus melakukan kolaborasi baik dengan sesama peneliti maupun dengan dosen di Perguruan Tinggi.

Adlin Sila dari BLA Jakarta menyambut penjelasan Kapus dengan mengharapkan adanya sinergi terhadap program-proram prioritas. Menurutnya, sebagaimana dikatakan Kapus bahwa penyuluh kita ada 45 ribu orang, maka kedepan jika dilakukan penelitian indeks terkait penyuluh agama perlu disinergikan dan dijadikan program prioritas. Sepakat dengan tema yang dibahas, Idham kepala BLA Makassar pun memberikan sinyal positif kemungkinan dilakukannya penelitian kolaboratif tahun 2019. Oleh karena itu, menurutnya harus sejak saat ini dilakukan berbagai persiapan dan akhir tahun 2018 diharapkan selesai DO dan IPD nya. Dengan demikian, awal tahun depan langsung dapat dilakukan koordinasi pemantapan dan turun ke lapangan.

Dalam rapat disepakati draf yang dibuat BLA semarang untuk diusulkan ke Kementerian Keuangan khususnya SBK beberapa aspek pembiayaan penelitian yang belum terakomodir dalam PMK seperti pembelian naskah yang selama ini masih jadi kendala. Di sisi lain, di sampaikan Kepala Bidang Khazanah M. Yasin bahwa perlunya akun tersendiri ini merupakan ikhtiar kehati-hatian agar tidak menjadi temuan dalam pemeriksaan oleh Itjen maupun oleh BPK. Hal ini tentu sudah maklum karena standar pemeriksaan keuangan mengacu pada PMK, bila tidak ditemukan aturan maka bisa dinyatakan menyimpang.

Di akhir rapat, M. Zain mendorong semua pihak melakukan persiapan untuk dimantapkan pada saat rakor nanti, termasuk kemungkinan kolaborasi penelitian indeks layanan keagamaan dengan fokus penyuluh agama yang diajukan dalam APBNP sehingga tahun ini pula dapat terlaksana. []

IA/diad/diad