Close

Kearifal Lokal Gunung Rinjani di Balik Bencana Alam

Jakarta (18 Mei 2018). “Pulau Sasak kecil sekali -- tapi gunungnya besar dan tinggi.” Demikian syair TGKH. Maulana Syekh Zainuddin Abdul Madjid dalam Wasiat Renungan Masa. Gunung dimaksud adalah Gunung Rinjani. Masyarakat Sasak meyakini gunung ini sebagai salah satu pasak bumi. Secara matematis, besar dan tinggi Gunung Rinjani berada di daerah yang memiliki satu daratan yang tidak luas. Ketinggian Gunung Rinjani melebihi Gunung Himalaya yang membawahi wilayah jauh lebih luas.

Di balik ketinggian dan kebesarannya, gunung ini menyimpan banyak rahasia. Maulana Syekh melanjutkan dalam syairnya “Kalau orang pandai mengkaji -- Pastilah sujud seribu kali”. Syair ini mengandung makna bahwa rahasia Yang Maha Kuasa sangat banyak tersimpan di dalam gunung ini dan patut dikaji secara fokus dan mendalam. Secara kasat mata, terlihat bahwa fisik gunung ini telah memberikan kesejahteraan. Tidak hanya bagi masyarakat Lombok, melainkan juga bagi masyarakat dunia secara umum. Tampilannya yang indah dengan Segara Anak-nya telah menarik minat wisatawan dalam dan luar negeri untuk mendaki gunung ini. Gunung ini juga menyediakan lahan subur bagi pertanian masyarakat sekitar, termasuk sumber air melimpah bagi semua warga Sasak. Di samping itu, aroma mistik juga mewarnai gunung ini.

Para tokoh masyarakat mengatakan bahwa gunung ini diriwayatkan menjadi pusat pertemuan para wali. Karomah kewalian mereka mampu menjaga Rinjani tenang. Gejolak kecil yang acapkali terjadi oleh masyarakat setempat disebut, “gunung sedang batuk”. Di sisi lain, gunung ini dianggap ada penunggunya, yaitu Dewi Anjani, raja yang menguasai segala jin. Oleh karenanya, masyarakat setempat menerapkan tatakrama dan etika tertentu dalam menghadapinya agar Dewi Anjani tidak murka dan menurunkan petaka. Masih banyak lagi rahasia lain yang bisa diungkap terkait keberadaan gunung ini di wilayah Lombok.

Pada abad ke-13 M, gunung ini telah mengguncangkan dunia. Dia mengubah dunia menjadi berbeda dengan sebelumnya. Letusan dan guncangannya menjadikan bencana alam bagi manusia dan makhluk sekitar khususnya serta dunia pada umumnya. Akibat letusan dahsyatnya, setengah ketinggiannya runtuh tergerus lahar. Demikian papar Dr. Muslihun dalam wawancara singkat seputar pandangan masyarakat terkait letusan dahsyat Gunung Rinjani di masa lalu.

Fakta tentang meletusnya Gunung Rinjani ini ternyata dimuat dalam manuskrip beralaskan lontar karya para penulis lokal yang peduli lingkungannya. Di samping itu, lontar kuno lainnya juga memuat pesan-pesan penting dalam bentuk mitos sebagai pembelajaran bagi masyarakat Sasak. Sesuai dengan perkembangan agama di wilayah ini yang dimulai dari agama Boda, Buddha, Hindu, kemudian Islam, nuansa keagamaan dalam pengajaran dan peringatan kepada umatnya sangat kental di dalamnya. Berbagai legenda yang termuat dalam manuskrip masih menjadi anutan dan kepercayaan masyarakat setempat hingga saat ini.

Selain cerita rakyat, petuah para ulama setempat pun banyak meriwayatkan tentang kejadian dan hikmah di balik Gunung Rinjani ini. Cerita-cerita lepas juga banyak ditemukan di masyarakat. Sayangnya informasi kearifan lokal di balik gunung ini belum diungkap secara detail dan ilmiah dalam bentuk penelitian, terlebih menggunakan sumber manuskrip dalam bentuk takepan daun lontar. Karena itu, Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi menugaskan para peneliti untuk mengkaji bencana alam di wilayah Lombok berbasis pada kajian manuskrip. Tim terdiri dari peneliti pusat dan daerah, yaitu Fakhriati, Jamaluddin, Retno Kartini, Lalu Napsiah, serta dibantu oleh Ida Swidaningsih dan Siti Nurul Khaerani. Penelitian mengambil fokus “Menyingkap Kearifan Lokal Gunung Rinjani di Balik Bencana Alam Lombok”.

Penelitian dilakukan selama tujuh hari, mulai tanggal 8 sampai 14 Mei 2018. Selama penelitian berlangsung, tim peneliti mengumpulkan manuskrip-manuskrip keagamaan terkait bencana alam, baik yang menjadi koleksi masyarakat maupun lembaga pemerintah Nusa Tenggara Barat, yaitu Museum Negeri NTB. Selain itu, juga melakukan wawancara dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan budayawan. Tim peneliti juga mendata cerita-cerita rakyat yang berhubungan dengan Gunung Rinjani. Referensi tertulis tambahan, selain manuskrip juga dihimpun guna memperkaya analisa dan kajian. Harapan tentunya, hasil penelitian ini dapat memberi kontribusi berharga, khususnya bagi pemerintah setempat seiring dengan penetapan Taman Nasional Gunung Rinjani sebagai Geopark dunia pada tanggal 12 April 2018 dalam sidang UNESCO di Paris. (FI-JM-IDA-RET/bas).