Close

Menyongsong Pesantren Internasional : Kemenag Mengkaji Pelayanan Santri Luar Negeri di Indonesia

Jakarta (22 Mei 2018). Menindaklanjuti gagasan  Kementerian Agama yang menginginkan Indonesia sebagai salah satu kiblat pendidikan Islam dunia, Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Kementerian Agama pada tahun 2018 ini akan melakukan kajian kebutuhan layanan pesantren untuk santri luar negeri di Indonesia. Kajian ini diawali dengan Workshop Penelitian Layanan Pendidikan Pesantren Bagi Santri Luar Negeri yang berlangsung di Takes Mansion, Selasa (22/5).

Kegiatan ini diambil sebagai tindak lanjut Halaqah Ulama Asean 2017 yang mengagendakan perlunya  kajian peningkatan layanan dan kerjasama pendidikan keagamaan (Pesantren) di Asean.  Penelitian ini bertujuan memetakan motivasi santri luar negeri menempuh pendidikan agama di Pesantren Indonesia;  sejauh mana pesantren-pesantren yang diminati santri luar negeri memberikan layanan pendidikan kepada mereka; mengetahui harapan santri luar terhadap pendidikan pesantren di Indonesia.

Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan keagamaan, Amsal Bahtiar, dalam arahannya pada acara workshop menyebutkan bahwa kajian ini penting untuk meningkatkan layanan pendidikan di Pesantren dalam konteks masyarakat global, termasuk mengantisipasi terbentuknya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). “Kita perlu mengetahui motivasi santri asing belajar di pesantren  Indonesia. Dan nantinya kita bisa bercermin terhadap harapan santri yang berasal dari luar negeri terhadap layanan yang diberikan pesantren kita,” tandasnya.

Selain memetakan kepuasan layanan yang diterima santri luar negeri hari ini, Amsal Bakhtiar menambahkan perlu dikaji juga kiprah santri luar negeri yang telah menjadi alumni di negara mereka. Gambaran tentang kiprah santri luar negeri yang telah menjadi alumni akan sangat menarik untuk mengembangkan kebijakan pengembanngan layanan pesantren di Indonesia.

Menurut laporan Muhamad Murtadlo, Kabid Litbang Pendidikan Keagamaan sekaligus penanggung jawab pelaksanaan kegiatan penelitian ini, menyatakan bahwa berdasarkan studi awal yang dilakukan ke beberapa provinsi ditemukan bahwa santri luar negeri yang belajar di pesantren di Indonesia hari ini ternyata jumlahnya cukup banyak. Jumlah santri luar negeri yang berhasil ditemukan pada studi awal mencapai jumlah 1.504 santri dan masih memungkinkan adanya tambahan dari pesantren-pesantren yang belum melaporkan keberadaan santri luar negeri di lembaga mereka. Jumlah terbesar berasal dari kawasan negara Asean, bahkan di Aceh terdapat banyak anak dari negara-negara Eropa.

Dari jumlah yang berhasil dipetakan, jumlah paling besar berada di wilayah Jawa Timur dengan jumlah terbanyak di Pesantren Temboro (Magetan), Pesantren Sirojul Muhlasin Magelang , dan Pesantren Gontor 3 di Kediri. Ada beberapa pesantren yang ternyata memiliki santri luar negeri lebih dari 50 santri selain Temboro dan Gontor 3, seperti pesantren Wahid Hasyim di Semarang, Pesantren Darul Habib di Sukabumi, serta Pesantren Al Muhlasin di Magelang.

Ada dugaan banyak masalah yang ditemui santri dari luar negeri pada awal mereka belajar di pesantren di Indonesia seperti masalah adaptasi budaya, penyesuaian bahasa, proses belajar mengajar  dan makanan sehari-hari. Untuk mengoptimalkan layanan pesantren terhadap santri luar negeri dan  mengundang lebih banyak lagi santri dari luar negeri ke Indonesia, maka kementerian agama perlu melakukan treatment khusus. penelitian-penelitian tentang layanan santri luar negeri seperti ini perlu lebih banyak dilakukan, tambah Murtadlo.

Hadir dalam acara workshop ini narasumber dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yaitu dari P3M yang dihadiri oleh Agus Muhammad dan dari Unit Pengambil Kebijakan di Direktorat Pendidikan Pesantren, Basnan Said. Hadir juga sebagai peserta yang memberikan masukan dari dosen-dosen UIN Jakarta.

Agus Muhammad dari P3M menyambut baik kegiatan penelitian ini, karena penelitian ini relatif baru yang mengambil sasaran pada santri luar negeri di Indonesia. Karena kebaruan tema ini, maka dapat dipastikan hasil dari penelitian ini akan menarik. Secara metodologi, Agus Muhammad menggaris bawahi penelitian seperti ini lebih baik didalami secara kualitatif, karena memungkinkan intreprestasi yang lebih dalam. Karena itu dia setuju dengan pilihan metodologi yang sudah diambil.

Basnan Said, Kasubdit Pendidikan Pesantren, selain penelitian ini menanyakan tingkat layanan pesantren Indonesia, penting juga kajian ini membaca kemampuan santri luar negeri dalam memahami Islam khas pesantren Indonesia, yaitu Islam Wassatiyah.  Hal ini penting untuk mewujudkan pengembangan moderatisme Islam yang menjadi misi utama pesantren di Indonesia sehingga menjadi warna ketika mereka kembali ke negara mereka masing-masing.

Data sementara santri dari luar negeri  yang berhasil dikumpulkan tersebar sebagai berikut: Jawa Timur 948 santri, Jawa Tengah ada 338 santri, Jawa Barat 107 orang, Banten 9 orang, Yogyakarta 39 orang, Aceh 45 orang, Sulawesi Selatan 5 orang, dan NTB 18 orang. Fenomena yang menunjukkan bahwa peminat pesantren tidak saja dari dalam negeri, namun juga santri luar negeri. []

Murtadlo/diad