Close

Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Selenggarakan Bedah Buku

Jakarta (5 Juni 2018). Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan menyelenggarakan bedah buku “Islam dan Kristen; Dinamika Pascakonflik dan Masa Depan Perdamaian di Ambon karya Sumanto Al-Qurtuby, Ph.D dan “Agama dan Perdamaian; Landasan, Tujuan dan Realitas Kehidupan Beragama di Indonesia” karya Prof. Dr. H. M. Ridwan Lubis, MA., bertempat di Hotel Millenium, Jakarta Pusat, Senin (5/6).

Kegiatan ini dihadiri Kepala Badan Litbang dan Diklat Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D., Kapuslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Dr. H. Muharram Marzuki, perwakilan Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, perwakilan Ditjen Bimas Kristen, Bimas Hindu, Bimas Budha, dan pejabat struktural dan fungsional serta sejumlah peneliti di lingkungan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan.

Dalam paparannya, Sumanto Al-Qurtuby mengatakan meskipun kajian yang ditulisnya sudah lama, namun perlu ‘dihangatkan kembali’. Konflik seperti di Ambon beberapa tahun lalu dikhawatirkan muncul lagi. Kita harus tetap waspada bahaya laten antar pemeluk agama. “Harus diakui bahwa konflik Ambon sudah jauh di belakang kita. Namun, bekas-bekas luka tersebut mungkin masih ada,” terangnya.

Lebih lanjut, dosen Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Dhahran, Arab Saudi ini mengungkapkan bahwa bukunya mempelajari akar konflik dan proses perdamaian pasca kekerasan, di samping juga menguji dinamika relasi Kristen-Muslim baik sebelum, pada saat, maupun setelah konflik komunal meletus, termasuk menjawab pertanyaan: apakah setelah konflik, persepsi dan sikap kedua pihak terhadap yang lain sama seperti sebelum kerusuhan atau ada perbedaan/perubahan signifikan? Seandainya ada perubahan, dalam hal apa dan bagaimana perubahan itu terjadi?

“Relasi umat Islam dan Kristen yang seolah “selalu berada dalam posisi tegang” membuat buku ini relevan bagi siapapun yang peduli pada kehidupan masyarakat yang rukun dan toleran,” ungkap Sumanto. Dosen yang telah menulis lebih dari 18 buku dan ratusan artikel ilmiah serta ribuan esai populer ini memberikan rekomendasi tentang pentingnya investasi pendidikan dan revitalisasi kearifan lokal (local wisdom) serta membangun budaya damai (culture building) dan bangunan perdamaian (peace building) sebagai upaya mencegah konflik (conflict) dan kekerasan (violence).    .   

Sementara itu, Prof. Dr. Ridwan Lubis menyatakan terdapat perkembangan baru bagaimana umat manusia memandang keberadaan agama yang dijelaskan oleh teori-teori sosiologis. Menurut dia, teori sosiologis adalah kombinasi pengamatan dan pandangan yang menawarkan penjelasan sistematis tentang kehidupan sosial. Pada masa dahulu, kata Ridwan Lubis, persepsi manusia terhadap agama ialah sesuatu kesan manusia yang sangat mendalam terhadap dirinya dan kehidupan sosial. Dalam kaitan itu, mereka berpandangan bahwa agama adalah sesuatu yang tidak tersimbolisasikan namun dirasakan hadir dalam relung-relung batinnya. Perkembangan agama pada masyarakat bersahaja dikendalikan oleh sumber referensi sosial yang disebut primus interpares.

Akan tetapi, lanjut Ridwan Lubis, pandangan agama kemudian mengalami perkembangan yaitu simbolisasi nilai-nilai kedahsyatan (tremendum) dan kesyahduan (fascinosum) melahirkan perumusan abstraksi keberagamaan yang dibangun menjadi ideologi. Ideologi agama adalah suatu prinsip dasar yang dianut dalam agama tertentu yang menjelaskan perbedaannya dengan kepercayaan yang dianut oleh orang lain. Ideologi, tegas Ridwan Lubis, mengalami penguatan oleh karena pengertian masyarakat terhadap agamanya beririsan dengan ras maupun etnisitas. Dan terbentuknya semangat perdamaian tidaklah bisa datang dengan sendirinya, akan tetapi memerlukan rekayasa dari pemerintah bersama pemuka agama dan lembaga kemasyarakatan lainnya.

Dalam kesempatan ini, Kepala Badan Litbang dan Diklat Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D. mengapresiasi hasil temuan riset dari dua buku yang cukup bagus ini terutama tentang kerukunan/harmoni. Keduanya ditulis oleh pakar yang memang ahli di bidangnya masing-masing. Keduanya sangat produktif dan bahasanya cukup mengalir. Para peneliti di Balitbangdiklat  semoga bisa belajar dari keduanya. Ke depan semoga hasil kajian kita semua bisa digunakan pada unit eselon 1 lainnya di Kementerian Agama, tidak dinikmati sendiri di kalangan Balitbangdiklat. Misalnya, nanti digunakan pada Bimas Agama atau Ditjen Pendidikan Islam.

“Dan pentingnya nanti ada SKB 3 Menteri (Menag, Mendikbud dan Menristekdikti) mengingat akhir-akhir ini adanya radikalisme agama dalam dunia pendidikan. Meskipun masih pada gagasan awal tapi semoga bisa kita buat naskah akademiknya pada tahun ini secara rampung,” pungkas Mas’ud. (Nasrullah Nurdin/bas)