Close

Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Terjunkan Peneliti untuk Survei Nasional Indeks Kesalehan Sosial

Jakarta (Juni 2018). Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan (BALK) adakan Survei Nasional Indeks Kesalehan Sosial pada tahun anggaran 2018 ini. “Survei ini sudah menjadi keharusan dilakukan oleh Puslitbang BALK, karena Indeks Kesalehan Sosial merupakan bagian dari Perjanjian Kinerja semua Eselon 1 Bimas Agama”, jelas Muharam Marzuki, Kepala Puslitbang BALK, saat memberikan arahan pada Rapat Pembahasan Desain Operasional (DO) dan Instrumen Pengumpulan Data (IPD) di Hotel Millenum Jakarta Pusat hari Kamis (26/4) lalu . 

Sejumlah 15 peneliti diterjunkan ke beberapa Kabupaten/Kota. Sesuai metode random sampling, lokasi survei antara lain: Kota Padang, Kota Pekanbaru, Kota Bandar Lampung, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Bekasi, Karawang, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Kendal, Klaten, Boyolali, Blitar, Malang, Jember, Pontianak, Samarinda, dan Makassar (populasi Islam); Nias Selatan, Deli Serdang, Jakarta Timur, dan Kota Manado (populasi Kristen); Kota Pare-pare dan Manggarai Timur (populasi Katolik); Kota Denpasar dan Gianyar (populasi Hindu); Jakarta Barat (populasi Buddha), dan Kota Bangka (populasi Konghucu).

Tahap pencarian data lapangan survei berlangsung selama delapan hari, dengan durasi waktu mulai 15 Mei hingga 1 Juni 2018. Pelaksanaan survei ini dikoordinir oleh Bidang Litbang Bimas Agama, Aliran, dan Kerukunan, yang dikepalai oleh Solahuddin. Dalam kesempatan yang sama, Sholahuddin menjelaskan bahwa survei ini menyasar pada 30 Responden setiap lokasi. Karena terkait tema kesalehan sosial, maka basis populasinya berangkat dari rumah ibadat, tambah Solahuddin.

Elma Haryani, Ketua Pelaksana Survei, saat memberikan sambutan pada Pembukaan Pembahasan DO dan IPD Survei Indeks Kesalehan Sosial sehari sebelumnya (25/4) menjelaskan, “Kami sengaja mengundang peserta dari Ditjen Bimas-bimas Agama agar mendapatkan masukan dan saran demi penguatan substansi survei kesalehan sosial”. Bukan apa-apa, supaya konsep “kesalehan sosial” yang dimaksudkan di sini bisa diterima dan disepakati oleh semua agama, imbuh peneliti muda berdarah Madura ini.

Sebelum ini, Survei Indeks Kesalehan Sosial pernah dilakukan pada tahun 2014. Saat itu ditemukan data kuantitatif yang menjelaskan bahwa kesalehan sosial umat dominan dipengaruhi oleh aspek pengetahuan (65%). Nah, aspek lain di luar pengetahuan coba ditelusuri dalam survey IKS tahun 2018 ini, demikian penjelasan Farhan Muntafa, konsultan survei ini. Di dalam angket, di samping pertanyaan soal Sikap Peduli (Caring), Sikap Berbagi (Giving),  Menghargai Perbedaan, Tidak Memaksakan Nilai, Good Governance, Mencegah Kekerasan, Konservasi, dan Restorasi, tahun ini juga mengangkat soal nilai-nilai luhur yang ditanamkan keluarga (Habituasi Keluarga), tokoh yang menginspirasi, dan program Kementerian Agama. []

Edijun/Puslitbang1/diad

Sumber foto: http://indonesia.ucanews.com