Close

Perpusnas Selenggarakan Seminar Nasional Forum Perpustakaan Khusus Indonesia

Jakarta (5 November 2018). Bertempat di Auditorium Perpustakaan Nasional Jalan Merdeka Selatan, diselenggarakan  Seminar Nasional Forum Perpustakaan Khusus Indonesia, Senin (5/11). Seminar mengambil tema “Arah Tata Kelola Perpustakaan Khusus di Indonesia dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0.” Hadir sebagai narasumber Hendro Subagyo (PDII-LIPI), Yogi Hartono (Industri Media), Farli Elnumeri (Perpustakaan Hukum Daniel S. Lev), dan Mukmin Suprayogi (UIN Jakarta).

Acara yang berlangsung sejak pukul 9 pagi sampai pukul 13 siang ini dibuka oleh Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando. Dalam arahannya Muhammad Syarif Bando mengatakan pengelola perpustakaan khusus jangan memble.  Perpustakaan kelembagaan harus bersatu.   Perpustakaan Nasional akan menjadi mediator.

“Tidak bisa lagi kita terpisah-pisah, tapi perpustakaan harus saling terintegrasi sehingga menjadi kuat. Bersatu lebih baik dan kuat,” uangkap Kepala Perpustakaan Nasional.

Mengutip pernyataan Blasius Sudarsono (mantan kepala PDII LIPI) dalam FB-nya, Muhammad Syarif Bando mengungkapkan “Semoga kita bukan bagian dari orang-orang yang berkumpul bersama tetapi menjadi sumber masalah. Di era teknologi 4.0 pikiran kita sudah bisa terdekteksi sehingga tidak ada lagi tempat yang sembunyi.”

Selanjutnya, Muhammad Syarif Bando menegaskan saat ini kita tidak bisa lagi bekerja masing-masing kelembagaan. Kita harus berintegrasi untuk menghadapi era revolusi industri dan memajukan bangsa melalui profesi kepustakawanan. Oleh karena itu, kata Muhammad Syarif Bando, Perpusnas akan menyiapkan infrastruktur dan  Perpusnas siap mempromosikan program-program perpustakaan kelembagaan. Perpusnas juga membutuhkan rekomendasi-rekomendasi dari perpustakaan kelembagaan untuk kemajuan dunia perpustakaan secara umum.

Pada kesempatan ini, Muhammad Syarif Bando berharap Perpustakaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama sebagai bagian dari perpustakaan khusus dapat mengambil peran dalam memajukan tata kelola perpustakaan khusus di Indonesia terutama dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Misalnya, perpustakaan harus meng-upgrade layanannnya, dari yang pasif berubah menjadi interaktif, dan yang tertinggi adalah menjadi konsultatif. “Pada tingkatan konsultatif ini terjadi dialog antara user  dan pustakawan dalam memenuhi kebutuhan informasi mereka yang tidak bisa dilakukan oleh internet atau robot”, ujarnya.

Di akhir arahannya, Muhammad Syarif Bando mengingatkan tantangan perpustakaan dan pustakawan adalah perpustakaan  mengalami otomatisasi yang bisa jadi tanpa awak, sementara pustakawan adalah information expert, dia bukan lagi pendukung peneliti, tetapi partner peneliti dan elit repositori institusi. (HAR/bas/diad/ar)