Close

Betulkah Trend Islam Indonesia Semakin ke Kanan?

Yogyakarta (22 November 2018). Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) bekerjasama dengan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta selenggarakan Seminar Penelitian Trend Islam Kontemporer di Indonesia Berbasis Teks, Kamis (22/11).

Seminar bertujuan untuk mendiskusikan hasil penelitian yang telah dilakukan di tiga wilayah, yaitu Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang.

Penelitian ini dilakukan untuk menggali informasi tentang trend pemikiran wacana keislaman pada saat ini yang berbasis buku, khususnya buku terjemahan.

“Pemilihan ketiga kota ini didasari alasan yang cukup signifikan. Yogyakarta dijadikan sasaran lokasi penelitian karena kota ini adalah kota pelajar, maraknya pemikiran keagamaan dari yang progresif sampai yang radikal. Sementara Surakarta dijadikan sasaran penelitian adalah diketahui bahwa dari penelitian sebelumnya terdapat penerbit-penerbit buku yang mengarah kepada ideologi radikal dan jihadis. Sedangkan Semarang adalah didasari kepada alasan ditemukan beberapa penerbit buku tradisional di wilayah ini. Di Kota ini tergambarkan perkembangan literatur-literatur terjemah di Semarang,” ungkap Kapuslitbang LKKMO Muhammad Zain pada saat pembukaan.

Zain menambahkan bahwa Islam di Indonesia pasca reformasi terindikasi kepada konservatifisasi, Islam kanan, bukan ke kiri. “Indikasi ini perlu dibuktikan melalui hasil penelitian, sehingga menghasilkan data yang akurat dan rekomendasi yang tepat serta berguna bagi stakeholders terutama Kementerian Agama dalam mengambil kebijakan yang tepat sasaran dan bermanfaat langsung bagi penggunanya,” ujar Zain menambahkan.

Selanjutnya Zain menegaskan bahwa pemerintah mutlak harus merujuk kepada hasil riset dalam segenap gerak langkahnya dalam menentukan kebijakan. “Upaya penyelamatan bangsa perlu berdasarkan informasi dari hasil riset. Karena bila tidak, maka capaian sasaran akan berbanding terbalik,” katanya.

Seperti Afrika Selatan yang menjadi bukti ril sebagai negara yang pernah membuat kebijakan tidak merujuk pada hasil penelitian. Saat itu hasil penelitian menunjukkan bahwa kematian terbesar di Afrika Selatan adalah akibat mewabahnya penyakit HIV/AIDS, namun pemerintah malah meyakini karena busung lapar. Akibatnya adalah semakin banyak rakyat menjadi korban. Karena itu, penelitian merupakan hasil yang sangat penting untuk diperhatikan secara serius.

Terakhir Zain menekankan tentang pentingnya penelitian terkait buku untuk dilakukan secara mendalam agar dapat membantu pemerintah dalam menentukan kebijkan yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat Indonesia.

Disadari atau tidak, kondisi Indonesia masih rendah literasi. Banyak sekali informasi yang hilang dan tidak diketahui karena kurangnya pemahaman literasi. Contoh rendahnya literasi dapat dilihat dari pemaknaan kata kafir. Kata ini banyak salah pemahaman sehingga ditempatkan pada posisi yang salah dan mengakibat kepada tindakan yang keliru juga.

“Kafir bukanlah identitas agama, melainkan sikap menutup kebenaran. Kafir itu dapat berlaku kepada siapa pun, bukan kepada agama yang dianut. Karena itu, membaca dan membaca dan terus membaca adalah kunci memperkaya literasi dan dapat menjaga “kewarasan” dalam menjalani hidup,” tegas Kapuslitbang LKKMO.

Seminar dilanjutkan dengan presentasi dari peneliti mengenai sejumlah temuan di tiga lokasi wilayah penelitian. Masing-masing wilayah memiliki karakter tersendiri dan warna yang berbeda antara satu sama lainnya.

Hasil penelitian menemukan bahwa trend literatur keislaman terjemah di tiga kota di Jawa Tengah secara umum ditandai dengan kecenderungan makin kuatnya produksi dan distribusi literatur keislaman terjemah konservatif dan radikal.

Meski demikian, secara khusus masing-masing kota mempunyai dinamikanya tersendiri. Diketahui di Semarang ada pergeseran dari dominasi literatur keislaman moderat tradisional ke literatur konservatif salafi; sementara di Surakarta terdapat dominasi konservatif dan radikal, dan di Yogyakarta terlihat adanya serangan balik dari kelompok moderat-progresif Muhammadiyah, NU, dan Syiah terhadap dominasi literatur keislaman terjemah yang konservatif dan radikal.

Akhirnya, hasil penelitian ini akan ditindaklanjuti dalam bentuk policy brief yang akan diserahkan kepada stakeholders, terutama di Kementerian Agama, dengan harapan dapat memberikan masukan yang bermanfaat tentang trend yang sedang berkembang di Indonesia sekarang ini.[]

FI/diad