Close

Puslitbang LKKMO Selenggarakan Seminar Hasil Benchmarking Model Preservasi Naskah Klasik Keagamaan di Turki, Iran, Mesir, dan Maroko

Bogor (25 November 2018). Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) menyelenggarakan Seminar Benchmarking Model Preservasi Naskah Klasik Keagamaan di Turki, Iran, Mesir, dan Maroko, bertempat di Hotel Sahira Butik Bogor, Minggu (25/11). Seminar dihadiri Kepala Badan Litbang dan Diklat (Kaban) Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, P.hD., Kapuslitbang LKKMO Dr. Muhammad Zain, para peserta, dan peneliti di lingkungan Puslitbang LKKMO.

Dalam laporannya, Zain mengatakan kegiatan benchmarking terlaksana berkat dukungan Kaban. Menurut Zain, salah satu maksud benchmarking adalah hendak membawa manuskrip-manuskrip diaspora milik bangsa kita yang dulu dibawa oleh Raffles sebagaimana kita ketahui dari sejarah. Banyak hal dapat kita ketahui dan pelajari dalam sejarah, khususnya sejarah Islam. Misalnya, umumnya kita hanya kenal Marcopolo sebagai penjelajah dunia. Padahal ada penjelajah Islam terhebat yang menjelajah dunia untuk siar agama yaitu Ibnu Batutah.

Sementara itu, dalam sambutannya Mas’ud menekankan tiga hal. Pertama, mengemukakan alasan fondasional mengapa benchmarking perlu dilakukan seiring dengan zaman globalisasi dan modernisasi. Artinya zaman dimana dunia seolah tanpa batas (borderless), manusia dapat berkomunikasi dengan siapa saja dan kapan saja di seluruh dunia berkat kemajuan teknologi informasi. Hal tersebut, kata Mas’ud, melahirkan societas tanpa batas, menciptakan global citizen. Salah satu karakter warga global itu adalah open-minded, belajar satu sama lain, dan suka berdiskusi/berdialog. Sejatinya karakter ini juga merupakan karaktek Islami sebagai agama yang moderat, yang terbuka terhadap segala perbedaan, mau mendengar, menyerap yang lain demi perbaikan kehidupan bersama, dan jauh dari prasangka. “Maka, dalam konteks kehidupan zaman now, benchmarking itu merupakan sebuah keniscayaan sebagai upaya pembelajaran untuk menjadi warga global yang berkualitas dan berdaya saing tinggi,” ungkap Mas’ud.

Kedua, apa yang menjadi core business Puslitbang LKKMO adalah legacy, history, tradition, civilization. Karena itu, LKKMO mempunyai cakupan yang sangat luas dan mendalam. Bukan hanya locally, tapi juga globally-international-interconnection.

Ketiga, mengenal dan mengetahui sejarah dengan baik adalah modal utama untuk membangun kemajuan bangsa. Karena itu, kita harus akrab dengan sejarah. Apalagi LKKMO mempunyai signifikansi dengan history. Sejarah, kata Mas’ud, merupakan buku kehidupan yang mengandung hamparan nilai dan makna yang mutlak dibutuhkan oleh manusia maupun bangsa. Bangsa yang lupa sejarahnya adalah bangsa yang pikun, bangsa yang tidak bisa diharapkan apa-apa, tidak memiliki aspirasi dan inspirasi hidup baru. Sebaliknya bangsa yang dapat menghargai sejarah, mengenal sejarah, mau belajar dari sejarah dan mengingat sejarah sebagai legacy, maka bangsa tersebut akan memiliki visi yang kuat, mendapat inspirasi dan aspirasi dari kehidupan leluhurnya.

“Memberikan contoh bagaimana terbentuk karakter Islami sarat dengan sejarah, merupakan proses kontinuitas yang terjadi terus menerus. Al-Quran sendiri bukan inagurasi agama baru tetapi memiliki connection sebagai kesinambungan dan perkembangan dari wahyu ilahi yang diajarkan kepada Nabi Musa sama dengan yang diajarkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW,” ujar Mas’ud.

Di akhir sambutannya, Mas’ud menitipkan pesan sebagai sebuah harapan. “Di zaman now, orang milenial sangat akrab dengan elektronik dan teknologi dalam hidupnya. Maka akan sangat berguna jika hasil-hasil benchmarking dapat dibuat dalam bentuk elektronik dengan sebuah aplikasi mesin pencari semacam google. Dengan demikian, siapa saja yang membutuhkan rujukan terkait manuskrip dan hasil-hasil penelitian dengan cepat dapat langsung diakses dan diketahui masyarakat luas,” pungkasnya. (AS/bas/ar)