Close

Museum Adalah Jendela Peradaban Bangsa

Jakarta (28 November 2018). Sebanyak 26 museum telah diteliti oleh Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO). Hasil temuan di lapangan kemudian dipresentasikan oleh peneliti dengan meminta masukan dari narasumber dan peserta guna perbaikan hasil penelitian.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ahmad Yunani, koordinator Seminar Inventarisasi dan Pemetaan Khazanah Keagamaan di Museum, Rabu (28/11). Yunani pun menambahkan bahwa menurut para peneliti Puslitbang LKKMO, persoalan yang kerap kali ditemukan secara umum di museum adalah soal SDM, dana, dan manajemen yang belum profesional.

Narasumber pertama Wanny Rahardjo, dosen arkeologi Universitas Indonesia mengatakan bahwa museum adalah jendela peradaban suatu bangsa. “Kalau mau mengetahui peradaban suatu bangsa lihat museumnya. Bangsa indonesia belum terlalu memfungsikan museum,” ujarnya.

Hal tersebut melatarbelakangi perlunya kerjasama dengan berbagai pihak agar museum menjadi lebih baik. Dengan demikian museum sebagai tempat warisan budaya, jendela peradaban bangsa yang mendeskripsikan local genius dan local wisdom bangsa. Koleksi museum berisikan rekaman sejarah bangsa yang menghubungkan masa lalu dengan masa sekarang.

Koleksi museum mengidentifikasikan memori koleksi bangsa yang membanggakan dan mencirikan identitas/ karakter bangsa. Koleksi museum berfungsi edukatif kultural dan rekreatif yang bentuknya tangible. Hal penting untuk disampaikan kepada masyarakat adalah knowledge yang ada dibalik keberadaan benda-benda bersejarah tersebut.

“Jadi informasi yang intangible terkait benda-benda bersejarah bila disampaikan secara tepat, benar dan menarik kepada masyarakat (pengunjung) akan menumbuhkan kesadaran dan kebanggaan terhadap identitas jati diri bangsa sehingga menumbuhkan kerinduan kepada masyarakat untuk kembali datang berkunjung ke museum,” lanjut Wanny.

Di sinilah posisi penting peran peneliti, yaitu menghasilkan knowledge, pengetahuan nilai-nilai yang intangible yang ada dibalik benda bersejarah. Banyak benda yang ada di museum tidak memiliki konteks, benda tersebut kehilangan konteks awal, perlu diberi konteks baru sehingga menjadi benda yang bermakna dan berharga.

Makna baru itu bisa saja makna kekinian. Misalnya sebuah keris dipamerkan sekaligus diinformasikan pemaknaan kontekstual dari keris tersebut, baik itu dari konteks ideologi keagamaan, teknologi maupun sosial keagamaan.

Selain itu peran peneliti juga penting dalam hal bagaimana benda agar tetap lestari, bertahan, Bagaimana cara menyimpannya, menjadi tugas peneliti. Karena itu museum diharapkan mau terbuka terhadap peneliti, diberi akses kepada peneliti supaya benda-benda yang dikoleksi menjadi bermakna bagi masyarakat.

Manfaat penelitian terhadap koleksi benda-benda di museum adalah memberikan penjelasan lengkap terhadap benda koleksi untuk katalog; peningkatan data dan informasi yang diperlukan bagi program dan aktivitas museum; acuan kebijakan museum; sumber pengetahuan baru bagi museum dan masyarakat; kelestarian koleksi museum.

Museum ditinggalkan karena tidak menggambarkan jati diri kita, siapa diri kita. Benda-benda itu menyimpan memori kolektif. Hal inilah yang perlu dihadirkan kembali, sehinga menjadi ingatan bersama kita, dan pengunjung menjadi senang dan betah.

Para peneliti mempresentasikan hasil temuannya melalui inventarisir khazanah keagamaan diketahui profil tokoh ulama kiai mojo. Kiai mojo pahlawan nasional temannya pangeran diponegoro yang diasingkan ke benteng rotterdam makasar. Kemudian kiai mojo diasingkan di tondano minahasa. Benda benda peninggalan kiai mojo seperti tutup kepalanya, tasbih, kitab tasawuf, miniatur masjidnya ada dipamerkan di museum manado.

Selain itu melalui inventarisasi khazanah museum diketahui walaupun indonesia mempunyai keragaman etnis, suku, agama dan budaya namun memiliki kesamaan. Misalnya manuskrip/naskah keagamaan di palembang dan bengkulu sama sama ditulis pada serat kayu yang dilipat-lipat. Naskah tersebut juga ditulis dengan huruf kaganga. Artefak keagamaan upacara kematian yang disebut dengan tiwah tradisi budaya suku dayak tidak hanya terdapat di kalimantan tengah tetapi juga di kalimantan barat dan kalimantan selatan.

Tampil sebagai narasumber kedua adalah Isman Pratama yang menyampaikan bahwa inventarisasi ini dikhususkan kepada koleksi museum khazanah keagamaan. Koleksi khazanah keagamaan berhubungan dengan sistem keagamaan, ritual keagamaan, kelompok keagamaan, emosi keagamaan, dan benda keagamaan.

Koleksi keagamaan yang diinventarisir diberikan deskripsinya sehingga jelas nuansa keagamaannya. Misalnya jeungki alat penumpuk padi tradisional aceh. Jeungki digunakan untuk menumbuk beras menjadi tepung pada bulan ramadhan. Jeungki diangkat oleh 3-4 orang perempuan yang bershalawat sambil menumbuk beras untuk membuat kue persiapan hari raya idul fitri.

Dalam penutupnya kabid khazanah keagamaan yasin rahmat anshori menyampaikan bahwa hasil dari inventarisasi dan pemetaan khazanah keagamaan ini nantinya akan dijadikan buku bahan bacaan/ bahan referensi mencerahkan.

Kegiatan inventarisasi khazanah museum ini nanti akan berlanjut dengan penelitian terhadap koleksi yang bekerjasama dengan kementerian pendidikan dan kebudayaan maupun institusi lainnya. Selain itu juga akan digitalisasikan/dikonservasi sehingga terjaga dan terpelihara rekaman informasi koleksi museum khazanah keagamaan yang ada di seluruh indonesia.[]

(AS/NS)