Close

Sesban, dari 3 Mantra hingga Pengembangan SDM

Yogyakarta (30 Januari 2019). Sekretaris Badan Litbang dan Diklat Moh. Isom memberikan materi pada internal meeting Balai Diklat Keagamaan pada kegiatan Capacity Building dan Outbound bersama 5 BDK di Yogyakarta, Rabu (30/01).

Pada kesempatan tersebut, Moh. Isom mengagendakan dua topik besar yang disampaikan dihadapan 374 peserta dari 5 BDK se-Jawa dan Kalimantan. Topik pertama adalah sosialisasi semangat Rakernas 2019, sedangkan topik kedua bertajuk pembinaan pegawai sesuai dengan 8 area revolusi birokrasi.

“Pertama saya akan mensosialisasikan hasil Rakernas Kementerian Agama Tahun 2019. Menag berpesan untuk betul-betul memegang tiga mantra yang harus menjadi ruh dan jiwa di Kementerian Agama,” ujar Isom.

Mantra pertama yang harus menjadi ruh dan jiwa Kemenag adalah moderasi beragama. Moderasi beragama perlu menjadi mantra yang senantiasa diulang, karena ini sesuatu yang semakin memiliki relevansi dan tingkat urgensi yang tinggi di tengah kehidupan kegamaan.

"Ajaran agama selalu menyeimbangkan setiap elemen kehidupan. Setiap agama yang dianut harus sesuai dengan fitrahnya, yaitu wassatiyyah atau moderat, yaitu berada di tengah-tengah, bukan ekstrem kiri atau ekstrem kanan,” kata Sesban menambahkan.

Mantra kedua adalah kebersamaan. Kebersamaan diperlukan seiring dengan semakin munculnya keragaman ke permukaan kehidupan masyarakat. Perbedaan yang ada akibat adanya keragaman, harus diikat dengan kebersamaan.

“Indonesia adalah milik semua, bukan milik salah satu umat saja. Diperlukan kebersamaan umat untuk menjaganya, maka khususnya kita ASN Kemenag diharapkan jangan sampai terseret kepentingan politik jangka pendek yang memecah belah kerukunan umat,” tandas Sesban.

Mantra yang terakhir ialah integrasi data. Sesban menuturkan sesungguhnya integrasi data merupakan sebuah keniscayaan.

“Saat ini Kemenag sedang membangun MoRA One Search sebagai wadah untuk mengintegrasikan semua data dan aplikasi yang terdapat di Kementerian Agama. Untuk itu, pencarian data dan informasi bisa melalui PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Atap) dengan format digitalisasi data sehingga pendayagunaan dari data-data yang besar dan banyak tersebut bisa lebih maksimal dan optimal, khususnya bagi kita data kediklatan dalam aplikasi Simdiklat, jelas Sesban.

Selanjutnya Sesban Moh. Isom membahas mengenai pembinaan pegawai sesuai dengan 8 area revolusi birokrasi. Ia menitikberatkan pada pengembangan SDM, yaitu agar ASN jangan hanya terjebak dengan hal-hal yang bersifat administratif dan formalitas saja.

“Harus diakui bahwa saat ini kinerja kita masih berbasis output yang kuantitatif, belum berbasis outcome. Maka saya berharap semua ASN Badan Litbang dan Diklat harus punya cita-cita yang tinggi, jadilah ahli pada bidang dan jabatannya untuk selalu berinovasi mengukir prestasi”, tutupnya. []

diad/diad