Close

Buku Otobiografi Kaban Dibedah Puslitbang Penda

Jakarta (3 Mei 2019). Buku otobiografi intelektual karya Kepala Badan (Kaban) Litbang dan Diklat Kementerian Agama Prof. H. Abdurrahman Mas’ud. Ph.D. dibedah Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan. Buku berjudul “Mendakwahkan Smiling Islam: Dialog Kemanusiaan Islam dan Barat itu” dibedah di Hotel Takes Mansion Jakarta, Jumat (3/5).

Bedah buku menghadirkan dua narasumber, Prof. Ronald Lukens-Bull, Ph.D. (Profesor Antropologi dan Studi Agama University of North Florida Amerika Serikat), dan Prof. Syafiq A Mughni, MA, Ph.D. (Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hubungan Antaragama dan Peradaban).

Dalam sambutannya, Kaban sangat mengapresiasi Puslitbang Penda yang mengagendakan bedah buku tersebut. “Saya salut atas keberanian Puslitbang Penda sebagai pihak yang pertama membedah buku karya pimpinannya sendiri,” ujar Kaban berseloroh.

Naskah buku ini, lanjut Kaban, sejatinya sudah siap lima tahun silam. “Di buku ada prolog almarhum Pak Slamet Effendi Yusuf sebagai pihak pertama yang memperkenalkan tradisi tulis-menulis waktu beliau masih menjadi editor di Harian Pelita,” ujarnya mengawali paparan.

Secara khusus, Kaban berterima kasih atas kehadiran dua narasumber. Ia menyebut keduanya sebagai sahabat. “Prof Syafiq Mughni ini senior di UCLA. Beliau juga sebagai penunjuk jalan selama di Amerika,” ujar peraih beasiswa Fullbright ini.

Sementara Ronald Lukens-Bull, lanjut Kaban, merupakan kawan akrab selama di negeri Paman Sam. “Bahkan putrinya juga akrab dengan putri saya. Setelah sekian lama tidak bertemu, saat ketemu pun masih akrab. Ini yang saya maksud sebagai dialog lintas peradaban,” tandasnya.

Kaban menyatakan bahwa identitas muslim di Indonesia sangat ramah dan moderat. Oleh karena itu, muslim Indonesia harus terus mempertahankan identitasnya tersebut dengan cara aktif bersuara seperti di media sosial dan media arus utama.

Syafiq Mughni dalam paparannya mengaku baru tahu jika sapaan akrab Kaban adalah Pak Dur. “Terima kasih atas undangan ini. Saya baru tahu ternyata Pak Rahman ini panggilannya Pak Dur,” ujarnya mengawali sambutan.

Waktu masih muda, kata Syafiq, dirinya dan Mas’ud sama-sama aktif di ormawa (organisasi mahasiswa). “Beliau di PMII. Saya di HMI. Lalu, beliau di ormas NU. Saya di Muhammadiyah. Tetapi sama-sama di Kemenag, sekarang menjadi utusan presiden setingkat menteri. Proses yang panjang itulah yang mengantarkan sebagai smiling figure,” ujarnya. 

Pentingnya Smiling Islam

Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban ini menegaskan pentingnya menampilkan smiling Islam. “Di kantor kami di UKP menyebutnya sebagai Islam Wasathiyah. Presiden meminta memperkenalkan Islam model ini baik nasional maupun internasional. Sebagai agama yang diwahyukan tentu tetap satu. Tetapi dalam pengamalan kita bisa berbeda-beda,” ujarnya.

Kedua, lanjut Syafiq, ada problem bersama yang kita hadapi yang sering disebut islamophobia. Hal itu akibat sedikit umat kita yang dalam berdakwah sangat kurang produktif. Banyak peran media termasuk dalam  mencitrakan Islam. Bahkan, ada penelitian di AS yang menyebut bahwa agama yang paling sering ditampilkan di televisi adalah Islam.

“Sayangnya yang paling banyak ditampilkan adalah tentang kekerasan. Sehingga berkembangnya ekstrimisme dan kekerasan. Oleh karena itu, buku ini penting untuk menampilkan smiling Islam sekalipun ada teori clash of civilization,” tandas Syafiq.

Menurut dia, hal itu sebagai peringatan untuk lebih serius lagi dalam mengawalnya. Akan tetapi, kalau kita lihat perjuangan perlu ada pemahaman sejarah yang tepat. Pemahaman seperti ini perlu kita kembangkan agar tidak membuat orang takut.

“Dalam situasi ketidakadilan bisa mendorong orang untuk berbuat ekstrim dan kekerasan. Jika kita konsen kepada ajaran agama bagi hubungan antaragama dan peradaban maka itu akan terjadi selama agama tidak memperhatikan hal-hal seperti itu. Intinya, agama jangan dijadikan landasan terorisme,” tegasnya.

Dalam laporan sekaligus mewakili Kepala Puslitbang Penda, Kabid Litbang RA dan Madrasah Hj Alfinar Aziz mengatakan, bedah buku dihadiri para peneliti, para aktivis ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Al-Washliyah, PMII, dan HMI. “Selain itu, juga hadir para akademisi dan perwakilan guru madrasah,” kata Alfinar. (Musthofa Asrori/bas)