Close

Literasi Informasi Digital untuk “Masyarakat” Balitbangdiklat Kemenag

Jakarta (2 Mei 2019). Bertempat di Hotel Grand Mercure Harmoni Jakarta,Balitbangdiklat Kemenag melalui Sub Bagian Perpustakaan menggelar Bimtek Literasi Informasi Digital bagi Pustakawan, Peneliti, Widyaiswara, dan Pengelola Jurnal Ilmiah. Acara ini diikuti oleh 30 peserta di lingkungan Balitbangdiklat, antara lain Sekretariat Balitbangdiklat, Puslitbang Bimas Agama dan Layanaan Keagamaan, Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi, Pusdiklat Teknis, Pusdiklat Admin, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Balai Litbang Agama Jakarta, dan Balai Diklat Keagamaan Jakarta.

Acara yang digelar dua hari, 2-3 Mei 2019 ini  menghadirkan narasumber dari Perpustakaan Nasional dan Universitas Indonesia. Pada hari pertama narasumber menyampaikan tentang Literasi Informasi Digital dan Repositori Institusi, serta Manfaat dan Sumber-Sumber Literasi Informasi Digital dan Pengenalan Database Online. Pada hari kedua, narasumber menyampaikan tentang Penggunaan Turnitin sebagai salah satu mesin plagiarism checker dan penggunaan referensi online Mendeley dan Zotero.

Kegiatan ini dibuka oleh Prof. Dr. Moh. Isom selaku Sekretaris Balitbangdiklat Kemenag. “Ramaikan perpustakaan dengan referensi berupa  rujukan-rujukan hasil-hasil kelitbangan. Perpustakaan bank data tersedia teori-teori, kajian-kajian agama dan keagamaan, yang tidak hanya diakses oleh peneliti internal tetapi pihak lain dan mancanegara. Bahkan modul-modul widyaiswara juga terkumpul di perpustakaan. Ini bisa menjadi blue print pengembangan SDM ASN di Kemenag. Selain itu ramaikan perpustakaan dengan mengadakan seminar-seminar hasil penelitian, seminar para WI (widyaiswara), workshop-workshop, bedah buku, diskusi-diskusi. Maksimalkan ruang-ruang pertemuan kita, sehingga Thamrin pun turut ramai,” demikian disampaikan Isom pada pembukaan.

Selain itu Isom menekankan, “Perpustakaan menjadi pusat data tentang kerukunan, kasus keagamaan, konflik umat beragama dan beragam hal keilmuan bidang agama dan keagamaan. Harus ada sinergi yang bagus pusat dan daerah serta unit eselon 1 lainnya. Semua data keagamaan baik yang dibutuhkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat tersedia di sini. Balitbangdiklat menjadi otaknya Kemenag, khususnya melalui perpustakaan. Perpustakaan harus menjadi energi yang mampu menggerakkan. Jadikan semua usaha-usaha tersebut adalah amal sholih.”

Menjadi catatan penting dalam acara ini adalah bagaimana “masyarakat” Balitbangdiklat Kemenag literate terhadap informasi digital. Mampu memahami dan menggunakan secara bijak. Selain itu Balitbangdiklat diharapkan mamiliki repositori institusi sebagai Guardian of  Knowledge-nya institusi. Tak kalah penting adalah usulan dari para peneliti, widyaiswara juga pengelola jurnal ilmiah untuk mengadakan mesin plagiarism checker salah satunya Turnitin.

Menjadi PR besar di perpustakaan untuk mewujudkan sedikit demi sedikit harapan-harapan yang diamanahkan ke perpustakaan. Semoga satu pintu penelusuran informasia dapat terwujud tentunya dengan dukungan penuh para pimpinan sebagai pengambil kebijakan dan regulator. [HAR/bas]