Close

“Turnitin” Bisa Jadi Alternatif Aplikasi Terbaik Untuk Cek Plagiasi KTI

Jakarta (3 Mei 2019). Ada beberapa aplikasi untuk mengecek unsur kesamaan (similarity) atau plagiasi karya tulis ilmiah (KTI). Ada aplikasi Turnitin, iThenticate, dan Crossref. Di antara beberapa aplikasi itu, Turnitin bisa jadi alternatif terbaik untuk BalitbangDiklat Kementerian Agama, sebagaimana terungkap dalam kegiatan Bimtek Literasi Informasi Digital bagi Pustakawan, Peneliti, Widyaiswara, dan Pengelola Jurnal Ilmiah.

“Sejauh pengalaman kami, Turnitin menjadi alternatif terbaik untuk pengecekan unsur plagiasi dalam sebuah artikel ilmiah yang dipublikasikan pada sebuah jurnal ilmiah berbasis Open Journal System (OJS). Hal itu setidaknya mempertimbangkan aspek biaya dan bahasa yang digunakan”, demikian dijelaskan Ma’ruf, Pengelola Perpustakaan Universitas Indonesia, saat memberikan materi bimtek pada hari Jum’at (03/05/2019) siang kemarin.

Penjelasan narasumber itu muncul karena pertanyaan dari Hariyah, salah seorang Pustakawan di BalitbangDiklat Kementerian Agama. Ia menanyakan, mana aplikasi yang paling membantu untuk publikasi ilmiah di Indonesia, baik dari segi anggaran dan operasionalnya. BalitbangDiklat sangat butuh aplikasi untuk publikasi ilmiah para peneliti dan widyaiswara, karena produk kelitbangan dan diklat sangat banyak.

Kegiatan fullday yang diadakan di Hotel Grand Mercure Harmoni, Jakarta Pusat ini diikuti oleh 30 peserta dari beberapa unit instansi di lingkungan BalitbangDiklat, antara lain Sekretariat BalitbangDiklat, Puslitbang Bimas Agama dan Layanaan Keagamaan, Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi, Pusdiklat Teknis, Pusdiklat Admin, dan Lajnah dan Pentashihan Mushaf Al-Quran, Balai Litbang Agama Jakarta, dan Balai Diklat Keagamaan Jakarta.

“Aplikasi Turnitin sangat membantu dan efisien, walaupun berbayar dan cukup mahal sampai ratusan juta, tetapi lebih ringan dan membantu dibandingkan aplikasi lainnya,” ungkap Ma’ruf dalam jawabannya merespon pertanyaan salah seorang peserta. “Kalau aplikasi lainnya perhitungan biaya setiap dokumen, Turnitin hitungannya Akun User (email pengguna). Kalau aplikasi lainnya masih terbatas untuk penggunaan bahasa Indonesia, Turnitin sangat mudah mempublikasikan artikel berbahasa Indonesia,” tegasnya dengan lugas.

Acara berjalan menarik dan interaktif. Selama acara tidak jarang terjadi dialog dan diskusi serius antara peserta dan narasumber. Muncul harapan yang kuat dari pengelola Jurnal Harmoni (Puslitbang Bimas Agama dan Layana  Keagamaan), Edi Junaedi, agar BalitbangDiklat  secepatnya berlangganan Aplikasi Similarity seperi Turnitin ini. Bila BalitbangDiklat sangat berkepentingan untuk meningkatkan kualitas publikasi hasil kelitbangan dan kediklatan, maka tidak boleh tidak untuk secepatnya mengadakan Aplikasi Turnitin bagi para pengelola jurnal ilmiah di lingkungan BalitbangDiklat. Pernyataan ini muncul merespon pernyataan Rais Mustafa, Kasubbag Perpustakaan, saat menyimpulkan betapa pentingnya aplikasi seperti Turnitin ini.

Rais merespon untuk berusaha mendorong Bagian Sistem Informasi yang memiliki Tusi ini agar bisa mengadakan Aplikasi Turnitin. Kalau tidak tahun 2019 ini, semaksimal mungkin bisa dianggarkan pada tahun depan. Para peserta, terutama Pengelola Jurnal Ilmiah di lingkungan BalitbangDiklat Kemenag, sangat menyambut baik upaya tersebut dan menunggu dengan tidak sabar. [Edijun/bas]