Close

Indeks Literasi Keagamaan Mahasiswa di Indonesia Bagian Barat

Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) disiapkan menjadi pendidik atau guru keagamaan di sekolah dan madrasah. Mereka diharapkan akan menjadi garda terdepan dalam  menangkal intoleransi, radikalisme atau  gerakan infiltrasi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan Indonesia. Oleh karenanya diperlukan kemampuan literasi keagamaan yang baik dari mahasiswa PIA. Untuk mengukur tingkat literasi keagamaan mahasiswa, khususnya di perguruan tinggi Islam, Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ), dalam waktu dekat  akan melakukan penelitian indeks literasi keagamaan mahasiswa di Indonesia Bagian Barat.

Menurut peneliti Balai Litbang Agama Jakarta, Rosadi, tujuan penelitian ini lebih pada melihat sumber-sumber pengetahuan agama yang digunakan mahasiswa PAI dalam memperoleh pengetahuan keagamaan.

“Sebagai calon guru agama,  kita ingin melihat tingkat dan corak keagamaan buku-buku PAI yang digunakan. Karena kita melihat beberapa hasil yang dirilis lembaga penelitian memperlihatkan ada mahasiswa perguruan tinggi keagamaan terindikasi intoleran. Benar tidak pengajar atau guru radikal dan intoleran itu karena pengaruh literasi yang mereka gunakan saat kuliah? Nah, ini yang akan kita lihat,” tutur Rosadi.

Agar penelitian nantinya bisa mendapatkan input yang baik dan sesuai keinginan, pada Kamis (9/05) kemaren, BLAJ mengadakan kegiatan seminar  “Presentasi Studi Penjajakan Penelitian Literasi Keagamaan Mahasiswa Di Perguruan Tinggi Indonesia Bagian Barat,” bertempat di Takes Mansion Hotel. Kegiatan yang berlangsung satu hari ini diikuti sekitar 70 peserta perwakilan Kementarian Agama, Kementerian Pendidikan dan Kemudayaan, Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi, serta dosen dan mahasiswa perguruan tinggi Islam.

“Masukan dan koreksi dari para pakar dan dosen serta teman-teman mahasiswa sangat penting, sehingga  penelitian ini nantinya dapat menghimpun data yang baik dan  bisa menjadi bahan rekomendasi institusi terkait,” kata  Rosadi dalam pembukaan kegiatan seminar tersebut.

Rosadi juga mengatakan, materi angket penelitian  yang dipresentasikan dalam kegiatan seminar ini telah dilakukan uji penjajakan di empat perguruan tinggi negeri Islam di Jawa Barat dan Banten pada awal Mei lalu. Pembahasan preelementary research penelitian ini juga masuk dalam agenda diskusi.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini Kepala Seksi Pendidikan Islam Kementerian Agama, Mahrus Elmawa dan Khamami Zada dari Universitas Islam Negeri Jakarta.

Dalam seminar ini, Mahrus Elmawa mengkritisi latar belakang Desain Operasional (DO) penelitian yang masih belum tegas.  Karena menurutnya, DO dapat  menjawab kenapa penelitian ini penting dan harus dilakukan.   Dia juga menyoroti kegunaan dari hasil penelitian ini nantinya. Karena  dilakukan oleh BLAJ, maka sejatinya hasil penelitian merupakan riset kebijakan (policy research).

Policy research adalah rekomendasi dan rekomendasinya harus jelas ditujukan ke siapa. Jadi penelitian ini harus dijelaskan di awal. Karena nanti akan dijelaskan kepada siapa rekomendasi akan dikirim. Rekomendasi untuk Menteri tentunya berbeda dengan rekomendasi untuk Dirjen atau Rektor, oleh karena itu perlu dijelaskan sedari awal tujuan rekomendasi ini ditujukan ke siapa?,” saran Mahrus Elmawa.

Sedangkan untuk materi angket, Mahrus Elmawa, mengusulkan penambahan pertanyaan tentang latar belakang sekolah dan orang tua dari responden. Karena menurutnya latar belakang pendidikan dan  orang tua  sangat mempengaruhi literasi mahasiswa.

“Misalnya pertanyaan, apakah responden pernah mengenyam pendidikan di madin atau sekolah sore? Bisa jadi literasi yang sekarang mereka gunakan memang telah dibaca sejak masa sekolah dulu. Pertanyaan tentang latar belakang orang tua juga menurut saya perlu. Berapa penghasilan orang tua dan latar belakang orang tua pernah mondok atau tidak. Menurut saya, latar belakang keagamaan orang tua harus ada,” kata Mahrus Elmawa. 

Sedangkan Khamami Zada mengatakan, penelitian ini sangat bagus bila semua dipersiapkan secara matang. Termasuk metode penelitian dan target hasil penelitian. Karena menurutnya sifat penelitian ini adalah CFA atau lebih berhubungan dengan statistik.

“Dari penelitian sebelumnya,  saya menangkap literasi  mempengaruhi mahasiswa  menjadi konsevatif, liberal, moderat, dan radikal. Nah, literasi keagamaan ini mau dihubungkan dengan model-model yang mana? Apakah mau dihubungkan dengan konsep keberagamaan yang empat tadi atau apa?  Ini harus dijelaskan. Karena seringkali peneliti itu sibuk dengan data, tetapi tidak bisa dikomunasikan dengan konsep teori yang sudah ada,” tutur Khamami Zada, dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta.

Penelitian indeks ini akan melibatkan sekitar 400 mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI)  tingkat akhir sebagai responden dan menggunakan campuran metode kualitatif dan kuantitatif. Dipilihnya mahasiswa semester terakhir karena mereka sudah mendapat materi kuliah untuk pengajaran di sekolah, sehinga bisa terlihat literasi yang digunakan. (Aris W Nuraharjo/bas/ar)