Close

Layanan Santri Asing di Pesantren

Jakarta (24 Mei 2019). Hasil penelitian Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama tentang Layanan Santri Asing di Pesantren (2018) mengungkapkan dari 14 pesantren yang diteliti terdapat 1587 santri asing. Mereka berasal dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Philipina, Vietnam, Kamboja, Timor Leste, Jepang, China, Yaman, Oman, Suriname, Sieraleone, Belgia, Rusia, Jerman, Afganistan, Sudan, Uzbekistan, dan Inggris. Santri asing paling banyak berasal dari Malaysia dan Thailand.

Dilihat dari tujuan belajar, motivasi belajar mereka adalah: pertama, tafaqquh fiddin, seperti di Pesantren Darul Habib Sukabumi, Sirajul Mukhlasin Magelang, Al Fatah Temboro, Darul Lughah Bangil, dan Al-Ihsan Banjarmasin. Kedua, tafaqquh fiddin dan pendidikan formal,  seperti di Pesantren Albahjah Cirebon, Luhur Wahid Hasyim Semarang, Amanatul Umah Mojokerto, Ar-Raudlatul Hasanah Medan, dan PMI Dea Malela Sumbawa. Ketiga, tafaqquh fiddin dan life skill, seperti di Pesantren Daruttauhid Bandung.

Dilihat dari alasan belajar, motivasi belajar mereka adalah adanya kesamaan paham keagamaan sunni, figur pimpinan dan akhlak Islami, kesamaan paham Aswaja, kesamaan paham dalam praktek dakwah dan dorongan semangat tabligh, kesamaan paham Aswaja dan pendidikan gratis, dan kesamaan paham dan jaringan Muhammadiyah, NU, Jamaah Tabligh, dan Salafi.

Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa persepsi santri asing terhadap pesantren adalah adanya   keunggulan pada kajian kitab kuning, Islam wasatiyah, kekhasan nilai dan tradisi pesantren, pembiasaan akhlak Islami, kemandirian, pendidikan gratis, dan kesamaan paham keagamaan. Mengenai harapan santri asing belajar di pesantren adalah untuk mengembangkan Islam wasatiyah, mendirikan lembaga pendidikan keagamaan, dan menjadi tokoh agama di negara masing-masing.

Terkait layanan santri asing di pesantren yaitu layanan administrasi, akademik, dan sarana prasarana. Layanan administrasi dikelola oleh pesantren, biro jasa,  organisasi, dan individu. Layanan akademik dilaksanakan dalam bentuk transfer keilmuan, kaderisasi ulama, dan nilai-nilai sosial budaya.  Namun, hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pesantren secara khusus belum memberikan layanan administrasi, akademik maupun sarana dan prasarana.

Hasil penelitian merekomendasikan: Pertama, untuk pemerintah: (a) perlu berperan aktif mempromosikan pendidikan pesantren sebagai destinasi pendidikan global dan pengembangan Islam Wasatiyah melalui berbagai kegiatan kementerian terkait, terutama dalam kegiatan skala internasional; (b) memberikan kemudahan dalam proses pengelolaan izin tinggal bagi santri asing di Indonesia; (c) Kementerian Agama perlu melakukan pengawasan dan pengendalian secara berkala terhadap keberadaan santri asing di Indonesia; (d) Kementerian Agama perlu membuat kebijakan khusus tentang layanan pendidikan bagi santri asing di pesantren.

Kedua, untuk pesantren: (a) perlu melakukan sosialisasi layanan pendidikan pesantren yang lebih luas melalui penguatan jaringan alumni, media sosial, media cetak, website, kerjasama kelembagaan pesantren dengan dunia luar; (b) meningkatkan layanan pendidikan baik terkait SDM, mutu belajar maupun sarana prasarana belajar.

Penelitian ini dilakukan di Pesantren Darul Habib Sukabumi, Daruttauhid Bandung, Albahjah Cirebon, Wahid Hasyim Semarang, Sirajul Mukhlasin Magelang, Al-Irsyad Boyolali, Al Fatah Temboro, Wali Barokah Kediri, Darul Lughah Bangil, Amanatul Umah Mojokerto, Madinatul Fata Aceh, Ar-Raudlatul Hasanah Medan, Al-Ihsan Banjarmasin, dan PMI Dea Malela Sumbawa. (bas/ar)

 

Sumber foto: https://www.google.com