Close

RESPONSI MASYARAKAT PETANI TERHADAP TAYANGAN TV YANG BERMUATAN AGAMA; Studi Kasus Desa Sudayagirang, Sukabumi

RESPONSI MASYARAKAT PETANI TERHADAP TAYANGAN TV YANG BERMUATAN AGAMA;
Studi Kasus Desa Sudayagirang, Sukabumi

Oleh: Fuaddudin TM
38 halaman

Balai Penelitian Agama dan Kemasyarakatan
1994/1995


Industri pertelevisian di Indonesia, diantaranya telah turut menyebabkan banyak muatan tayangan TV yang cenderung mendorong konsu­merisme, padahal apa yang ditawarkan kepada masyarakat belum tentu sebuah kebutuhan bagi mereka. Disini nampak bahwa melalui TV masyarakat mengalami tranformasi kultural yang mengarah kepada "budaya massa" untuk menciptakan pasar hasil produk yang sifatnya "massa".
Selama ini masyarakat telah memiliki lembaga keagamaan yang relatif dianggap mapan. Berbagai tradisi juga telah berhasil menunjang keberadaan lembaga keagamaan tersebut. Belum lagi keragaman tingkat pemahaman keagamaan masyarakat sebagai akibat pengalaman dan latar belakang kultural mereka.

Secara umum penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi lengkap tentang bagimana masyarakat memperlakukan tayangan TV pada umumnya, serta bagaimana masyarakat mera­sakan tayangan TV yang bermuatan dakwah agama khususnya. Masyarakat petani di desa Sudajayagirang secara sosial ekonomi telah mengalami peningkatan. Kenyataan terse­but terlihat dari tinglsat kehidupan mereka. termasuk dalam pemilikan pesawat TV yang jumlahnya semakin meningkat. Dengan semakin banyaknya pesawat TV yang dimiliki masyarakat akan semakin terbuka dan merata jangkauan informasi sampai kepada masyarakat lapisan bawah. Artinya masyarakat kecil sudah memperoleh kesempatan menikmati lebih banyak pelayanan hiburan dan informasi.

Terbukanya arus informasi kepada masyarakat lapisan bawah bisa menimbulkan berbagai dampak dan pengaruh, baik yang bersifat positif (fungsional) maupun negatif (disfungsional). Pengaruh positif (fungsional) dalam artian masyarakat memperoleh kesempatan untuk mengem­bangkan wawasan, pendidikan, pengenalan terhadap berbagai bentuk budaya luar, yang pada akhirnya akan mendorong perubahan sosial dari masyarakat tertinggal dan tradisional menuju masyarakat maju dan modern.  Sebaliknya pengaruh negatif (disfungsional) dihawa­tirkan bisa merusak sikap dan moral serta menumbuhkan perilaku sosial destruktif dalam masyarakat, seperti kekerasan, sadisme, pornografi dan lain-lain.

Bagi masyarakat petani atau masyarakat lapisan bawah di pedesaan, struktur ekonomi dan pala kerja sangat rnempengaruhi dalam pendistribusian waktu, termasuk kesempatan untuk bisa menikmati tayangan TV. Mereka umumnya memiliki "prime time antara jam 18.00 sampai 21.00. Atau setelah mereka kembali dari sawah/ladang atau tempat bakerja di sektor informal sampai sebelum tidur karena terlalu capai bekerja. Artinya TV bagi mereka hanyalah dimanfaatkan pada waktu-waktu senggang diluar waktu bekerja.***