Close

LAPORAN WORKSHOP PENDIDIKAN DEMOKRASI DI PESANTREN

LAPORAN WORKSHOP PENDIDIKAN DEMOKRASI DI PESANTREN

73 halaman
Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan

 

Seminar bertujuan untuk menggali informasi tentang (1) kultur pesantren dan proses demokratisasi di pesantren, (2) peran pesantren dalam proses demokratisasi, dan (3) proses demokratisasi di pesantren (sosialisasi dan internalisasi demokrasi baik di kalangan kyai maupun santri)    Melalui seminar ini dapat mengetahui model demokrasi lokal yang berkembang khususnya di pondok pesantren, dan sekaligus bisa menjadi masukan bagi penentu kebijakan dalam pelaksanaan pendidikan demokrasi di pondok pesantren.

Kegiatan Seminar  dilaksanakan pada 20-22 April  2005 di wisma Bahtera Cipayung Bogor. Seminar diikuti oleh 74 peserta, yang terdiri dari pusat (Jakarta) dan dari daerah yaitu Medan, Palembang, Banjarmasin, Palangkaraya, Kendari, Mataram, Surabaya, Semarang, Yogyakarta dan Bandung (daftar peserta terlampir).

Dari kegiatan seminar ini dihasilkan rumusan pemikiran diantaranya sebagai berikut :  1) pendapat tentang sejalan atau tidak sejalan Islam dan demokrasi didasarkan pada fikiran dasar tentang sumber kekuasaan hukum. Agama (Islam) berpusat pada Tuhan (teosentris) sedang demokrasi berpusat pada manusia (antroposentris); 2) prinsip-prinsip Islam seperti syura, ‘adl, musawah, amanah, dan huriyah  secara substansi sama dengan pilar-pilar demokrasi seperti kebebasan berpendapat, persamaan, dan keadilan; 3) kultur yang paling dominan di pesantren adalah simbol dan otoritas tunggal di tangan kyai, terutama lagi kyai yang bergelar ‘Gus’ yang bisa mengontrol simbol-simbol. Dan itu bertentangan dengan demokrasi yang kekuasaannya terpencar-pencar tidak terkonsentrasi pada satu tangan. Namun sesuai dengan perkembangan pesantren seperti memiliki badan hukum, sistem sekolah formal, dan masuknya literatur dan bahan pengajaran baru, maka demokrasi itu sesungguhnya sedang tumbuh di lingkungan pesantren. Dan, sekarang bisa ditemukan di beberapa pesantren yang menggunakan kepemimpinan kolektif; 4) sebenarnya, tradisi keilmuan Islam seperti berfikiran bebas, kritik, toleransi, yang itu dipakai dalam tradisi kitab kuning, tidak brekembang dengan baik di kalangan pesantren. Kegiatan bahtsul masail di kalangan kyai di NU, misalnya, merupakan tradisi keilmuan Islam yang masih berjalan.

Seminar  ini merekomendasikan :  1) karena pesantren itu sangat beragam tipologinya, upaya pengenalan dan pengembangan pendidikan demokrasi di pesantren harus dilakukan dengan cara melihat kasus perkasus; 2) untuk menfokuskan pendidikan demokrasi di pesantren diperlukan pola yang terstruktur. Pertama, mendialogkan secara terus menerus wawasan tentang demokrasi, Islam dan pesantren. Kedua, merumuskan apa dan bagaimana bentuk program yang tepat untuk melakukan pendidikan demokrasi di pesantren. Ketiga, perubahan; 3) pada perilaku, atau program yang lebih memfokuskan pada perubahan dari perilaku ketika melaksanakan program-program demokrasi, dan keempat, adanya kesinambungan program.***