Close

Laporan Workshop Pendidikan Multikultural

Laporan Workshop Pendidikan Multikultural

Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan
2005, 65 hlm.



Di masa depan sistem pendidikan agama dan keagamaan perlu melakukan perubahan mendasar dengan mengembangkan paradigma keragaman, demokratis, berkeadilan dan tidak diskriminatif, merupakan langkah strategis untuk membangun kembali masyarakat dan bangsa Indonesia yang lebih bermartabat dan berkeadaban. Pendidikan agama dan keagamaan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional  seyogyanya dapat memberikan kontribusinya dalam menanamkan nilai-nilai keragaman, saling memahami dan menerima perbedaan sesama warga yang berbeda etnik, sosial, budaya dan agama yang bersumber dari ajaran agama. Pendidikan agama diharapkan dapat memberikan tawaran alternatif bagi berkembangnya etika sosial yang lebih humanistik dan  multikultural bersumber dari ajaran agama.

Menindaklanjuti berbagai pemikiran dan persoalan di atas, Puslitbang Pendidikan agama dan Keagamaan Badan Litbang  dan Diklat Dep Agama melakukan kajian bertemakan Pendididikan Agama dalam Perspektif Multikultural yang dilaksanakan pertama kali di Kuta Bali (2004) dan dilanjutkan di Ciloto, Bogor pada 17-19 Maret 2005. Maksud dari kedua kegiatan ini adalah untuk menyatukan berbagai gagasan yang ada ke dalam tataran yang lebih teknis operasional implementatif dengan mengundang para ahli dan praktisi pendidikan yang berpengalaman dalam pengelolaan pendidikan di sekolah.

Pendidikan multicultural masih  sulit dilaksanakan bahkan masih perlu dirumuskan aspek-aspeknya. Pertama, apa yang disebut multikulturalisme itu, apa saja materinya keragaman agama, atau keragaman budaya, apakah bersifat kognitif, atau bersifat pendekatan pembelajaran, berapa porsinya, dan sebagainya. Kedua, bagaimana metode guru agama dalam mengajarkannya, guru yang bagaimana yang mampu mengajarkannya, diklat apa yang diperlukan oleh para guru agama itu, dan sebagainya. Ketiga, sarana apa saja yang dapat mendukung wawasan multikulturalisme itu, buku sumber belajar yang bagaimana, alat belajar – mengajar apa dan bagaimana yang diperlukan dan sebagainya. Keempat, lingkungan sosial yang bagaimana yang diperlukan itu

Kegiatan ini telah menghasilkan draft konsep pengembangan pendidikan agama dalam perspektif multikultural. Diharapkan konsep ini menjadi salah satu solusi untuk menanamkan kesadaran tentang pentingnya toleransi dan kerjasama di antara kelompok agama yang berbeda, dalam konteks pendidikan multikultural.***