Sabtu, 25 Oktober, 2014

POLA AKTIVITAS KEAGAMAAN DI KALANGAN MAHASISWA PTU PASCA REFORMASI 
Tim Peneliti Pusat Penelitian Kehidupan Beragama
Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama

2005

Sejak awal dasawarsa 1980-an muncul fenomena baru di kalangan mahasiswa Islam, khususnya di Perguruan Tinggi Umum (PTU). Ketika itu mulai banyak ditemukan simbol-simbol keislaman antara lain: jilbab di kalangan mahasiswi, kecenderungan memelihara jenggot di kalangan mahasiswa, maraknya kajian keagamaan, serta sejumlah fenomena simbolik lainnya. Fenomena tersebut ditemukan merata hampir di seluruh kampus-kampus PTU di tanah air, khususnya di pulau Jawa. Padahal, secara umum, latar belakang para mahasiswa tersebut bukanlah berasal dari kelompok masyarakat yang selama ini dikenal lekat dengan nilai-nilai Islam (baca: santri).

Berangkat dari latar belakang tersebut Puslit Kehidupan Beragama mengadakan penelitian tentang Pola Aktivitas Keagamaan Di Kalangan Mahasiswa PTU Pasca Reformasi. Penelitian ini bertujuan: 1). Mendeskripsikan pola aktivitas keagamaan, khususnya menyangkut pola aktivitas belajar keislaman (model pembelajaran keagamaan), pada kelompok-kelompok keagamaan mahasiswa di kampus (PTU) pasca reformasi; 2). Menggali luas cakupan materi yang dikaji, pilihan metode belajar atau pembelajaran, termasuk simbol-simbol pembelajaran, serta sumber-sumber yang menjadi rujukan pembelajaran; 3). Mengidentifikasi faktor-faktor yang terkait dengan pola atau model pembelajaran, baik faktor internal, seperti kebijakan organisasi, ideologi, strategi, jaringan dll. Maupun faktor eksternal.

Penelitian ini lebih menggunakan metode deskriptif analitis karena bertujuan untuk mendeskripsikan aktivitas kelompok-kelompok keagamaan di kalangan mahasiswa di era reformasi dan mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh.

Penelitian ini menghasilkan beberapa penemuan diantaranya: Sistem dan model pembelajaran dalam kelompok-kelompok kecil seperti yang dikembangakan oleh kelompok-kelompok keagamaan itu terus berkembang dan tak bisa dibendung.  Maka sejumlah mata kuliah Agama Islam di beberapa kampus yang menjadi obyek penelitian ini, memfasilitasi model belajar mereka. Seperti IPB, ITB, UNS dan Unibraw, sistem mentoring/halaqah menjadi bagian dari satuan acara perkuliahan yang harus diikuti bagi mereka yang mengambil mata kuliah agama Islam, dengan bobot tertentu. Dengan model ini para dosen Pendidikan Agama Islam mengaku beban tanggung jawab mereka terbantu dan menjadi lebih ringan.***