Close

Kepala Badan Litbang dan Diklat Buka Empat Angkatan Diklat

Ciputat (4 April 2017). Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan kembali menyelenggarakan diklat. Kali ini empat angkatan diklat dilaksanakan sekaligus, yaitu Diklat Teknis Fungsional Penyuluh Agama Madya, Diklat Diklat Teknis Fungsional Penghulu Madya, Diklat Teknis Substantif Edukasi Mushaf Al-Qur’an, dan Diklat Teknis Substantif Pembina Ekstrakurikuler Keagamaan Angakata III. Selasa, 4 April 2017 tepat pukul 08.00 WIB, Kepala Badan Litbang dan Diklat, Prof. H. Abd. Rahman Mas’ud, Ph.D membuka diklat tersebut secara resmi.

Diklat yang akan berlangsung selama 11 hari dari tanggal 3 s.d. 13 April 2017 ini, diikuti oleh 120 orang peserta, dengan komposisi 30 orang peserta untuk setiap angkatan. Peserta Diklat Teknis Fungsional Penyuluh Agama Madya, Diklat Diklat Teknis Fungsional Penghulu Madya, dan Diklat Teknis Substantif Pembina Ekstrakurikuler Keagamaan Angakata III merupakan utusan dari Kanwil Kementerian Agama seluruh Indonesia. Sementara peserta Diklat Teknis Substantif Edukasi Mushaf Al-Qur’an adalah utusan dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam.

Dalam pengarahannya, Mas’ud menegaskan bahwa tugas utama ASN adalah memberi pelayanan. Hal ini sesuai dengan konsepsi Islam bahwa semua manusia itu bernama abdullah, yang artinya hamba Allah. “Seorang hamba, tidak memiliki tugas apapun kecuali memberikan pelayanan. Pelayanan ini ditujukan untuk memperloleh ridha Allah swt. Pelayanan tidak sekadar kepada Allah tetapi juga kepada manusia. Siapa yang memberikan pelayanan terbaik akan menjadi hamba yang paling mulia. Siapa yang mampu memberikan pelayanan paling baik, dia yang akan paling diterima oleh customer”, imbuh Mas’ud.

Berkaitan dengan diklat Penyuluh Agama, Mas’ud mengajak Penyuluh Agama untuk kreatif melaksanakan tugas dan fungsinya. “Bila selama ini memberikan penyuluhan secara konvensional melalui ceramah, penyuluh kini harus beradaptasi dengan tuntutan zaman yang semakin mengandalkan teknologi informasi dan komunikasi dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Penyuluhan yang disajikan melalui ceramah hanya dinikmati oleh audiens terbatas, sementara bila melalui media internet, bisa dibaca oleh orang seluruh dunia”, tegasnya.

Mengenai Diklat Edukasi Mushaf Al-Qur’an, Mas’ud memberi stressing  agar para peserta yang bertugas di bidang pentashihan mushaf Al-Qur’an untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat khususnya umat Islam dalam hal memelihara (tahfiz) kemurnian Al-Quran. Apalagi saat ini mushaf Al-Quran tidak hanya berbentuk kitab atau lembaran kertas, melainkan sudah berkembang dalam berbagai bentuk terutama bentuk digital.

“Sekarang ummat Islam bisa membaca Al-Qur’an, tejemahnya, dan juga tafsirnya melalui internet dan juga aplikasi handphone. Dalam konteks ini, kita sebagai warga Kementerian Agama cukup berbangga karena Badan Litbang dan Diklat melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Qur’an telah memiliki aplikasi Al-Quran digital bernama Qur’an Kemenag. Aplikasi ini berisi mushaf Al-Qur’an, terjemah, tafsir, dan juga murottal”, terang Mas’ud.

Mas’ud juga berpesan kepada guru-guru Pendidikan Agama Islam yang mengikuti Diklat Teknis Substantif Pembina Ekstrakurikuler Keagamaan Angakata III terkait pentingnya penanaman keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. “Pada saat ini, Pendidikan Agama memiliki tantangan yang cukup berat seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Alat-alat komunikasi kini begitu mudah didapatkan oleh siapa saja dengan harga yang relatif terjangkau. Hal tersebut tentu membawa dampak besar terhadap pergeseran nilai, norma, dan juga budaya”.

Mas’ud mengingatkan bahwa Pendidikan Agama harus mampu menanamkan pemahaman agama yang rahmatan lil ‘alamin. Jauhkan anak-anak didik dari paham ekstrim dan radikal. Mas’ud menyitir hasil survei terbaru Balai Litbang Agama Semarang yang menunjukkan kecenderungan siswa yang mengidolakan tokoh-tokoh yang disinyalir berpemahaman ekstrim. Sinyalemen ini harus disikapi dengan tepat agar Pendidikan Agama mampu menangkal bahaya ekstrimisme dan radikalisme sejak dini, pungkasnya.[]

 Efa AF/diad