Close

Puslitbang Penda Susun Pedoman Kompetensi Guru Madrasah

Semarang (24 November 2017). Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang Diklat Kemenag RI menyusun Pedoman Kualifikasi dan Kompetensi Guru Madrasah. Penyusunan sekaligus penyempurnaan pedoman tersebut dilakukan pada lokakarya (workshop) yang dihelat di Semarang Jawa Tengah.

Mewakili Kepala Puslitbang Penda, Kepala Bidang Litbang Pendidikan RA dan Madrasah, Sholahuddin, dalam laporannya di hadapan Kepala Balitbang Diklat mengatakan guru sebagai soko guru pendidikan seharusnya memiliki kualifikasi dan kompetensi tertentu.

“Guru mempunyai peran strategis dalam membangun anak bangsa. Oleh karena itu, seyogyanya para pendidik menguasai sejumlah kompetensi. Pada kesempatan ini, kami mengajak para guru menyempurnakan draf  pedoman tentang kualifikasi dan kompetensi tersebut,” kata Sholahuddin, Kamis (23/11) malam.

Secara khusus, Sholahuddin menyampaikan salam dari Kepala Puslitbang Penda yang berhalangan hadir di pembukaan lantaran ada sejumlah agenda di Jakarta dan Bogor. “Insya Allah beliau akan hadir pada penutupan nanti,” tambahnya.

Kepala Kantor Wilayah Kemeterian Agama Provinsi Jawa Tengah, H Farhani, dalam sambutannya menyambut gembira atas penyelenggaraan lokakarya tersebut. Secara khusus, Kakanwil mengucapkan Sugeng Rawuh  alias ‘selamat datang’ kepada hadirin. “Semoga kegiatan ibu bapak sekalian beberapa waktu ke depan lancar dan menghasilkan keputusan yang bisa kita pedomani bersama,” harapnya.

Kakanwil Farhani mengatakan baru kali pertama bertemu satu meja dengan Kepala Balitbang Diklat Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D. “Seumur-umur, baru kali ini saya duduk bareng dengan Bapak Kepala Balitbang Prof KH Abdurrahman Mas'ud Ph.D. Rasanya seperti dapat wahyu,” ujar Kakanwil disambut tepuk tangan hadirin.

Mas'ud yang disebut “kiai” hanya tersenyum simpul sembari menoleh ke Kakanwil. “Kami di Jawa Tengah ini memiliki banyak madrasah. Untuk Madrasah Negeri ada 300 buah. Sementara madrasah swasta kurang lebih 10688. Jadi, tepat sekali jika workshop ini dilaksanakan di Semarang,” kata Farhani bangga.

Sementara itu, dalam arahannya, Mas'ud menyebut peran guru amat besar bagi anak didik. Guru tidak hanya mengajar, namun juga mendidik.

“Empat kompetensi yang dimiliki madrasah yang telah kita kenal saya kira sudah biasa. Namun yang lebih penting adalah peran guru atau pendidik. Guru seperti Mbah Sahal Mahfudh, misalnya, itu rasional. Beliau selalu mengajarkan kepada para santri agar berpikir logis,” ujarnya.

Kepada para peserta workshop, Doktor jebolan UCLA Amerika Serikat ini berpesan, agar guru menjadi seorang motivator dan inspirator bagi anak didik. Sebab, mereka membutuhkan dua hal tersebut untuk bekal masa depan. Menjadi guru yang bisa memotivasi dan menginspirasi niscaya memiliki hubungan abadi dengan para murid karena mereka senantiasa terkenang motivasi dan inspirasi dari Sang Guru.

Hadir dalam kegiatan tersebut 75 peserta terdiri atas para pengawas, guru, kepala madrasah baik MI, MTs, maupun MA dari sejumlah kabupaten. Selain itu, hadir juga para widyaiswara dari BDK Semarang, peneliti Puslitbang Penda, dan sejumlah pegawai Seksi Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jateng. Acara ini dijadwalkan tiga hari, Kamis-Sabtu, 23-25 November 2017.

Usai pembukaan, koordinator workshop yang juga peneliti, Wahid Khozin, mengatakan para peserta diminta merumuskan kompetensi yang harus dimiliki guru 10 hingga 20 tahun ke depan. “Tempo hari saya diskusi dg Kepala MAN IC Serpong, kata beliau perkembangan teknologi informasi sungguh patut diwaspadai. Sebab, guru jika tidak banyak memiliki referensi bisa ‘dihabisi’ siswanya. Sebab, mereka melakukan riset via internet,” kata Wahid.

Oleh karena itu, lanjut Wahid, kita perlu merumuskan kompetensi guru madrasah yang khas. Misalnya, dari sisi akhlak, fikih, dan lain sebagainya. Workshop dibagi tiga komisi, yakni Komisi MI, Komisi Mata Pelajaran di semua jenjang, dan Komisi Kompetensi Inti. “Misalnya guru Matematika di MA itu harus mempunyai kompetensi apa. Kita berharap pedoman ini nanti diluncurkan Menag melalui KMA,” pungkasnya.  (Musthofa Asrori/bas)