Close

Unik, Kaban Buka Lokakarya Terjemah Al-Qur’an Bahasa Bugis Via Video

Makassar (29 November 2017). Ada yang unik dalam pembukaan lokakarya (workshop) pembahasan draf final terjemah Al-Qur’an ke Bahasa Bugis, Rabu (29/11) malam. Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D. membuka resmi cukup melalui video yang direkam di kantor Kemenag Jl MH Thamrin No 6 Jakarta.

Lokakarya tersebut dihelat di Hotel Aryaduta Jl Somba Opu No 297 Losari, Makassar, Sulawesi Selatan. Kegiatan hasil kerjasama dengan UIN Alauddin Makassar ini dijadwalkan selama tiga hari, Rabu-Jumat, 29 November-1 Desember 2017.

“Saya mengucapkan selamat kepada tim penerjemah Al-Qur’an. Mohon maaf tidak bisa hadir karena kesibukan akhir tahun yang luar bisa. Saya doakan mudah-mudahan kegiatan ini sesuai rencana, target, dan tujuan. Bisa menghasilkan terjemahan yang bermanfaat bagi umat.  Juga jadi ladang amal jariyah bagi tim,” kata dia mengawali sambutan.

Kaban kemudian mengajak peserta lokakarya bersama-sama membuka acara dengan bacaan basmalah. “Dengan demikian, temu ulama ini saya buka secara resmi. Bismillahirrahmanirrahim,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan kegembiraannya bahwa sejak 2016 sudah ada 12 terjemah Al-Qur’an dalam bahasa daerah atau lebih tepatnya bahasa ibu. “Dan tahun ini ditambah lagi bahasa ibu yang lain yakni Aceh, Bugis, dan Madura,” kata bapak empat anak ini.

Mas’ud menggarisbawahi, bahwa penerjemahan Al-Qur’an ini merupakan kegiatan unggulan Balitbang Diklat Kemenag melalui Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO). “Insya Allah ini akan terus dikembangkan, baik sekarang maupun di depan,” tandasnya.

Tujuan kegiatan penerjemahan Al-Qur’an ke sejumlah bahasa daerah, lanjut Mas’ud, sejatinya untuk memberikan pelayanan kepada umatnya. Ini juga bisa menjadi bukti bahwa negara benar-benar hadir melayani warga.

Menurut pria kelahiran Kudus ini, hal tak kalah pentingnya adalah upaya membantu pelestarian, konservasi, atau pemeliharaan budaya lokal. Khususnya dalam hal ini bahasa daerah sebagai unsur terpenting dalam budaya.

“Jadi, jika kita bicara soal local wisdom atau kearifan lokal, maka kita sesungguhnya telah berperan besar. Karena ini bagian dari penerjemahan, kami juga tidak bekerja sembarangan, tapi profesional. Alhamdulillah selama ini sudah bekerja sama dengan para ulama Al-Qur’an, akademisi, dan pakar bahasa,” ungkapnya.

Doktor jebolan UCLA Amerika ini menambahkan, para pakar tersebut memiliki kualifikasi penguasaan Bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an, penguasaan dasar Ulumul Qur’an dan Tafsir, serta menguasai bahasa dan budaya daerah yang menjadi sasaran terjemahan.

“Kami juga ingin mengingatkan bahwa LIPI beberapa tahun lalu menyatakan terjadinya kepunahan bahasa ibu. Oleh karena itu, sekali lagi ini peran ulama dan ahli bahasa. Bukan sekedar dakwah, bukan hanya tugas agama dan negara. Tapi jadi tugas bersama dalam rangka mempertahankan kearifan lokal yang menjadi pilar penting untuk budaya dan NKRI kita,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/bas)