Close

Membangun Hubungan Harmonis antara Aswaja dan Kelompok Lain

Membangun Hubungan Harmonis antara Aswaja dan Kelompok Lain

oleh Machasin

Pendahuluan

Hubungan baik yang mesti diusahakan oleh satu atau sekelompok orang dengan kelompok lain selalu bersifat timbal balik, tidak pernah dapat dilakukan oleh yang satu terhadap yang lain secara sepihak. Suatu pihak dapat berinisiatif untuk berhubungan baik, namun kalau pihak lain tidak memberikan tanggapan yang sebanding atau cukup, hubungan baik tidak akan terjadi. Setidak-tidaknya mesti ada kesediaan kedua belah pihak seberapa pun kecilnya demi terjalinnya sebuah tali pertemanan, persahabatan atau persaudaraan. Kesediaan ini memang tidak mesti muncul dari inisiatif sendiri, melainkan dapat didesakkan melalui berbagai penyadaran akan pentingnya pertalian itu.

Tulisan ini selanjutnya akan berisi pembicaraan mengenai usaha membuat pertalian itu dapat terjadi di antara kaum Ahlussunnah wal-Jama’ah (selanjutnya disingkat Aswaja) dan kelompok lain. Pembicaraan akan mencakup berbagai hal, mulai dari prinsip-prinsip ajaran yang berkaitan dengan itu, sebab-sebab ketiadaan hubungan baik, usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk menjalin hubungan baik dan pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk itu, sampai contoh-contoh dari para tokoh Aswaja sendiri mengenai hubungan baik yang mereka jalin dengan orang-orang yang berbeda pendapat.

Ajaran Dasar untuk berbuat baik kepada semua orang

Pada dasarnya Aswaja mengajarkan hubungan baik dengan kelompok lain. Akan tetapi, dalam sejarah memang terjadi perselisihan dengan kelompok-kelompok seperti Syi’ah, Mu’tazilah dan Khaw?rij. Perselisihan yang sengit dan berdarah-darah terjadi bukan karena perbedaan ajaran atau perbedaan pendapat, melainkan karena perebutan kekuasaan atau kewenangan untuk mengelola kekuasaan politik. Ketika perselisihan awal terjadi antara kaum para pendukung ‘Ali dan para sahabat yang mendukung pemerintahan Abu Bakr, ajaran Syi’ah dan Aswaja belum dirumuskan, demikian pula ketika perselisihan terjadi antara kaum Khaw?rij dan para pendukung pemerintahan khilafah Islam. Ketika berlangsung perselisihan antara kaum Mu’tazilah dan kaum Ahl al-Hadis yang merupakan cikal bakal kelompok Aswaja, ajaran Aswaja pun belum dirumuskan dengan baik. Ajaran baru dirumuskan sedikit-demi sedikit seiring dengan perkembangan waktu.

Di antara ajaran Aswaja yang penting dalam hal hubungan dengan kelompok lain adalah silaturrahim, menyambung tali persaudaraan. Memang bisa dipahami bahwa silaturrahmi hanya dilakukan terhadap orang-orang seiman. Akan tetapi, sebenarnya hubungan persaudaraan yang mesti dijaga tidak hanya yang menyangkut orang-orang sekelompok, semazhab, segolongan atau seagama, melainkan dengan sebanyak-banyak manusia. Dalam bahasa K. H. Achmad Shiddiq, persaudaraan yang mesti dijaga ketersambungannya itu mencakup: persaudaraan seagama (ukhuwwah isl?miyyah), persaudaraan sebangsa (ukhuwwah wathaniyyah) dan persaudaraan sesama umat manusia (ukhuwwah basyariyyah).

Selain itu, kebersamaan akan meringankan beban dan ketegangan hubungan akan menghabiskan banyak enerji. Beban yang berat, kalau ditanggung bersama dengan orang lain akan berkurang beratnya dan persatuan akan membuat kekuatan bertambah. Sebaliknya, dalam ketegangan hubungan, orang menjadi hidup dengan kecurigaan akan munculnya hal-hal tidak baik dengan orang atau kelompok yang menjadi partner dalam relasi ketegangan. Ketenangan menjadi hilang dan bumi menjadi terasa sempit. Kalau ketegangan berlanjut dengan konflik, maka kerugian yang diderita menjadi lebih banyak lagi, baik berupa tenaga, pikiran dan harta benda yang terbuang, maupun kesempatan yang memperoleh keuntungan yang tertutup.

Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang manusiawi dan tidak akan pernah dapat dihapus dalam kehidupan manusia. Karena itu, sikap yang paling tepat adalah menerima perbedaan itu dengan setiap orang berhak untuk memegangi pendapatnya. Pertukaran argumen dapat dipakai untuk memperkaya pengetahuan dan kesetiaan kepada pendapat sendiri. Dalam banyak pertukaran argumen yang terkait dengan keyakinan, sering kali kekalahan berargumen tidak berujung pada konversi, melainkan pada pencarian bukti-bukti, dalil-dalil, susunan pemaparan dsb. untuk dapat menang dalam pertukaran pendapat berikutnya.

Hubungan pergaulan yang baik tidak boleh dikalahkan oleh perbedaan pendapat. Dorongan untuk membenci orang lain atau memutuskan hubungan baik dengan orang lain lebih banyak berupa ketidakmampuan untuk mengendalikan diri. Sayangnya, kebencian sering kali justru diwariskan dari orang tua ke anak, dari generasi terdahulu ke generasi kemudian, tanpa menyadari bahwa kebencian itu kontra produktif terhadap dakwah dan pencapaian tujuan penyelenggaraan kehidupan yang bertanggungjawab.

Salah satu petunjuk yang sangat indah dalam al-Qur’an mengenai hal ini adalah yang tersebut dalam surat 41/Fushshilat: 34-36

????? ????????? ??????????? ????? ???????????? ??????? ????????? ???? ???????? ??????? ??????? ???????? ?????????? ????????? ????????? ??????? ???????. ????? ??????????? ?????? ????????? ???????? ????? ??????????? ?????? ??? ????? ???????. ???????? ????????????? ???? ???????????? ?????? ??????????? ????????? ??????? ???? ?????????? ??????????.

Tidaklah sama kebaikan dengan keburukan. Karena itu, tolaklah dengan yang lebih baik sehingga orang yang terdapat permusuhan di antara dia dan kamu menjadi seperti teman yang akrab. Sikap seperti itu tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar, tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Jika setan mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dengan demikian, orang Islam semestinya tidak bersifat reaktif, perbuatannya ditentukan oleh sikap dan perlakuan orang lain kepadanya, melainkan secara aktif melakukan tindakan yang lebih baik. Sikap seperti ini memang tidak mudah dilakukan. Karena itu, yang berhasil melakukannya disebut dengan orang-orang yang sabar dan orang-orang yang mendapatkan karunia yang besar. Untuk dapat melakukannya, kesadaran mesti terus dijaga dengan selalu memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Termasuk di dalam godaan setan ini, atau bahkan yang terutama, adalah kecenderungan untuk memperturutkan emosi atau hawa nafsu.

Selanjutnya, Aswaja mengembangkan metode berfikir yang mengedepankan kehati-hatian (ihtiy?th) dan mengambil keseimbangan antara dalil naql? dan ‘aql?. Disertai pengakuan kepada pluralisme dalam pendapat, metode berpikir ini membentengi kaum Aswaja dari ekstrimitas dalam berpendapat dan membuat mereka tidak ngotot memegangi pendapatnya sebagai satu-satunya yang benar.

Itu dilengkapi dengan sikap moderat, toleran, rendah hati dan merangkul sebanyak-banyak orang. Dengan sikap seperti ini semestinya kaum Aswaja dapat menjalin hubungan baik dengan kelompok-kelompok lain dengan baik. Masalahnya kemudian, mengapa masih juga sering terjadi hubungan ketegangan dan konflik?

Mengapa terjadi ketidaksukaan dan konflik dengan orang lain

Ketika ada orang atau kelompok yang melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan atau mengganggu kepentingan kita, kita biasanya tidak suka. Ketika hal itu terjadi berulang-ulang, ketidaksukaan itu akan tumbuh menjadi ketidaksukaan kepada pelakunya, di samping kepada perbuatannya. Ketidaksukaan ini dapat berasal dari pengalaman seseorang dan menjadi miliknya sendiri, tetapi dapat juga ditularkan kepada orang lain dan diwariskan. Kita tidak jarang mewarisi ketidaksukaan kepada orang atau kelompok tertentu, bahkan kepada warna atau bau tertentu.

Sebenarnya dalam perjalanan waktu, setelah terjadi pengenalan yang baik terhadap hal-hal yang tidak kita sukai itu, ketidaksukaan kita dapat hilang atau setindak-tidaknya berkurang. Dapat diambil contoh dalam hal ini orang yang terbiasa makan nasi tidak suka makan roti. Dalam banyak kasus, orang Indonesia yang tinggal di Eropa atau Amerika pada awalnya tidak dapat makan roti. Kalau pun kemudian ia dapat makan roti, ia akan merasa belum makan kalau belum makan nasi. Akan tetapi, lama kelamaan, setelah beberapa kali makan roti, ia pun akan tidak lagi merasakan ketidaksukaan kepada makanan yang asing ini. Contoh ini menunjukkan bahwa diperlukan pembiasaan—yang kadang-kadang memerlukan waktu yang lama—untuk dapat mengenali dan menyukai hal-hal, bahkan kelompok, yang semula asing.

Ketidaksukaan kepada orang atau kelompok lain dapat pula terjadi karena kesempitan pandangan mengenai kehidupan bersama dan mengenai kebenaran ajaran agama. Banyak orang yang masih belum menyadari kemestian hidup dengan orang yang berbeda keyakinan dalam satu ruang yang ditinggali bersama. Kemajemukan adalah sunnatullah dan karenanya, semestinya orang menciptakan dasar kehidupan yang dapat memberikan ruang hidup yang sama bagi orang-orang yang berbeda. Kebenaran ajaran agama sendiri dijadikan alasan untuk meniadakan atau menganggap salah ajaran yang dipegangi orang lain. Hanya ada satu ajaran yang benar dan boleh diamalkan dan karenanya yang lain mesti ditiadakan. Orang yang menganutnya harus dibersihkan daripadanya dan, kalau tidak mau juga, boleh dimusuhi dan diserang.

Perasaan terancam dan terganggu dengan kehadiran kelompok lain juga merupakan sebab ketidaksukaan kepada mereka, apalagi kalau kehadiran itu kemudian menghilangkan banyak kesempatan yang semula dimiliki sendiri. Ini sebenarnya manusiawi juga. Tidak ada orang yang mengikhlaskan saja barang miliknya diambil orang. Hanya masalahnya, apakah sesuatu yang diklaim sebagai “miliknya” sebenarnya sepenuhnya miliknya ataukah ada hak orang lain di dalamnya. Kebenaran sering kali dianggap milik seseorang atau sekelompok orang saja. Sangat jarang orang yang mau berbagi dengan orang lain, hatta dalam tingkat yang sederhana seperti yang dikatakan oleh al-Nasaf? al-Hanaf? di dalam kitab al-Mushaff?: mazhab kami benar tetapi mungkin mengandung kesalahan, sedangkan mazhab orang lain yang berbeda dengan kami salah tetapi mungkin mengandung kebenaran (?????? ???? ????? ????? ????? ??????? ??? ????? ?????? ).

Banyak juga perselisihan yang terjadi karena perebutan kewenangan dan perbenturan kepentingan, terutama di kalangan elit. Dalam banyak kasus pertikaian dan perselisihan, para pengikut tidak mengetahui persoalan yang terjadi. Yang diketahui hanyalah bahwa pemimpin mereka mengajak mereka untuk membenci, mengutuk atau menyerang kelompok lain yang dikatakan sesat atau melakukan kejahatan yang tidak dapat diampuni. Pemimpin melakukan itu untuk memenangi persaingan dengan pemimpin (kelompok) lain.

Harus pula diingat bahwa hubungan antara dua kelompok ditentukan oleh hubungan-hubungan dengan kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat suatu daerah atau negara dan dalam hubungan yang lebih luas lagi dengan kelompok-kelompok yang ada di luar negara. Gambar berikut barangkali dapat menjelaskan hal itu.

 


Apa yang mesti dilakukan?

Dalam bahasa Arab terdapat kata-kata mutiara yang berbunyi, ??????? ??? ?? ??? atau sering dilanjutkan dengan ?? ??????? ??? ?????(Manusia adalah musuh bagi apa yang tidak diketahuinya; bahkan merendahkannya). Ketegangan hubungan sering kali terjadi karena tidak mendapatkan pendidikan yang mencerahkan mengenai bagaimana hidup dengan orang-orang yang berbeda pendapat dan kebiasaan. Untuk mengatasi hal ini diperlukan pendidikan yang membuat orang terbiasa untuk berbeda pendapat namun tidak bercerai. Pembentukan sikap seperti ini mesti dilakukan secara terus menerus dan dalam waktu yang lama. Diperlukan nafas panjang untuk mendidik dan membuat orang mampu mengatasi emosi dan dorongan-dorongan yang membuat pertimbangan nalar dan nurani tertutup. Kalau dalam ayat yang dikutip di atas dinyatakan bahwa orang yang dapat membalas perbuatan, terutama yang buruk, dari orang lain dengan yang baik, bahkan lebih baik, hanyalah orang-orang yang bersabar dan mendapat anugerah yang besar, itu berarti bahwa usaha untuk mendidik orang sampai mempunyai sikap seperti itu memang diperlukan kesungguhan dan waktu yang panjang.

Penyebaran nilai-nilai kebersamaan juga diperlukan. Walaupun ini sudah sering kali dinyatakan orang, tetapi tetap saja banyak orang yang tindakannya menunjukkan bahwa mereka lupa akan pentingnya kebersamaan. Kerja kemanusiaan tidak ada yang dapat dikerjakan sendirian. Diperlukan bantuan banyak orang dan semakin banyak orang yang berkerja bersama-sama akan semakin baik. Kebersamaan juga berarti bahwa bumi tempat kita hidup dihuni oleh banyak orang yang berbeda-beda pendapat dan kepentingannya, seperti juga tutur kata dan perilakunya. Berbagi tempat, berbagi kesempatan dan berbagi ruang dengan orang lain merupakan keniscayaan hidup bersama. Kalau itu semua dilakukan di atas hubungan yang baik, saling menghormati dan saling peduli, maka kehidupan bersama menjadi enak. Sebaliknya, kalau hubungan dengan sesama penduduk tidak baik, kehidupan menjadi terasa menyesakkan dada dan tidak menyenangkan.

Manusia memusuhi hal yang tidak diketahuinya. Sering kali orang tidak dapat berbuat baik dengan orang lain karena tidak mengenalnya dengan baik. Karena itu, pengenalan terhadap orang lain diperlukan untuk dapat menjalin hubungan dengannya. Pertemuan dan pergaulan sering kali membuat kita melihat sisi-sisi tertentu yang selama ini tidak kelihatan dalam diri orang lain. Wajah yang kelihatan sanggar mungkin menyembunyikan hati yang lembut dan rasa humor yang menyenangkan. Itu baru terlihat ketika orang sudah berhubungan cukup akrab.

Dialog juga sangat penting untuk mengetahui sikap orang atau kelompok yang kelihatan bermusuhan atau aneh. Dengan saling mengemukakan perasaan dan pendapat orang dapat menjadi dekat. Sikap tertentu yang selama ini tidak dipahami menjadi dimengerti alasannya dan karenanya dapat diterima sebagai ungkapan yang wajar bagai kekesalan atau ketakutan, misalnya. Langkah perbaikan kemudian dapat diambil untuk menghilangkan hal-hal yang tidak menyenangkan itu. Tidak hanya karena pengetahuan tentang apa yang dirasakan dan diyakini pihak lain, melainkan juga kebersamaan dalam pertemuan itu sendiri merupakan sarana yang efektif dalam membina pertalian.

Memperbanyak kerja bersama dalam menangani masalah kemanusiaan, seperti bencana alam, kebersihan dan keamanan lingkungan. Juga kerja bareng dalam menyelenggarakan upacara-upacara sosial.

Siapa yang melakukan?

Para pemimpin kelompok semestinya mengemban tugas paling pokok untuk menjalin hubungan baik ini, baik pemimpin Aswaja maupun kelompok lain. Pemimpin Aswaja bertanggung jawab untuk ke dalam membina warga pengikut agar membedakan antara ketidaksukaan kepada tindakan yang tidak baik dan kemestian menjalin hubungan kemanusiaan dengan kelompok apa pun. Perbuatan buruk tidak merupakan keadaan yang terus ada pada seseorang atau kelompok, melainkan dapat datang dan pergi. Oleh karena itu, sewajarnyalah kalau penilaian atas kelompok lain juga tidak tak berubah.

Para pemuda juga dapat diajak untuk mengubah keadaan ini. Karena beban kehidupan yang relatif lebih ringan dibandingkan dengan orang tua, mereka lebih mudah untuk diajak bergaul dengan pihak lain. Kebersihan jiwa mereka dari kepentingan membuat mereka lebih mudah menerima orang lain dan melihat sendiri keadaan sebenarnya dari orang atau kelompok yang mungkin digambarkan sebagai musuh.

Aktivis kemasyarakatan juga dapat mengambil bagian yang penting dalam usaha ini. Perannya dalam mendesakkan perubahan dalam masyarakat sangat diperlukan dalam memperbaiki sikap kelompok Aswaja terhadap orang lain. Sebagai kelompok terbesar, Aswaja mempunyai potensi untuk tidak peka terhadap perlakuan tidak adil, intimidasi dan peminggiran yang dialami kelompok minoritas. Kedudukan aktivis kemasyarakatan sangat diperlukan untuk mengingatkan kaum Aswaja mengenai hal-hal seperti ini. Pergaulan para aktivis yang pada umumnya melintasi batas kelompok dan jaringan yang dibangun di antara sesama mereka membuat mereka mempunyai lebih penglihatan yang lebih tajam terhadap ketidakwajaran dalam hubungan antar kelompok

Pemikir dapat melihat persoalan dengan lebih terang. Dengan pikirannya yang tajam ia dapat melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat orang lain. Memang sering kali pemikir tidak terlibat secara langsung dengan kegiatan kemasyarakatan dan karenanya tidak dapat secara aktif melakukan tindakan untuk terjalinnya hubungan baik di antara kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat. Akan tetapi, ia dapat mengajak orang untuk melihat persoalan secara komprehensif dan menyadari bahwa hubungan yang tidak baik dapat dan semestinya diganti dengan hubungan baik.

Pemerintah berkewajiban untuk menjaga ketertiban dan kedamaian bagi seluruh warga negara. Hubungan yang baik di antara kelompok-kelompok yang ada di dalam masyarakat tentu merupakan salah satu dari perhatian pokoknya dalam rangka menjalankan tugasnya menjaga ketertiban dan kedamaian itu. Perangkatnya yang menjangkau seluruh wilayah dan lapisan masyarakat semestinya membuatnya lebih mampu menyelesaikan masalah konflik dan persengketaan daripada pelaku lain.

Pemerintah dengan kewenangan dan perangkatnya semestinya lebih tegas dalam penerapan aturan-aturan yang terkait dengan penyelenggaraan kehidupan yang harmonis. Tutur kebencian (hate speech) terhadap individu atau kelompok, harus dicegah dan pelakunya mesti ditindak dengan tegas sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, siapa pun pelaku itu dan apa pun kedudukannya. Hanya alat negaralah yang mempunyai kewenangan untuk melakukan itu atas dasar ketentuan undang-undang. Masyarakat boleh mengingatkan dan mengritik sampai melaporkan kepada pemerintah, tetapi tidak boleh melakukan penghakiman dan/atau eksekusi sendiri.

Akan tetapi, pencegahan mesti didahulukan atas tindakan pengobatan dan penghukuman. Untuk itu pembuatan sinergi dapat dilakukan oleh pemerintah dengan melibatkan semua pihak yang berkenaan dengan pembinaan relasi harmonis di antara warga masyarakat yang sebagiannya telah disebutkan di atas.

Contoh dari para pemimpin

Cerita-cerita yang dinisbahkan kepada tokoh-tokoh Aswaja mempunyai pengaruh yang siginifikan dalam membentuk kesadaran akan pentingnya penjaga kepada orang atau kelompok lain yang berbeda pendapat, bahkan ideologi dan orientasi perjuangan. Walaupun cerita seperti itu tidak mudah dicari sumber rujukan dan rangkaian periwayatannya yang terpercaya, namun penisbahan kepada tokoh itu sudah cukup bagi jiwa warga untuk menjadikannya sebagai teladan. Dalam jiwa para pengikut, penyebutan nama tokoh yang mereka hormati sudah cukup untuk membuat mereka melakukan atau tidak melakukan sesuatu tindakan. Asal dilakukan dengan iktikad baik dan tujuan yang mulia kelemahan sanad dalam cerita seperti ini tidak mengurangi keabsahannya sebagai alat penggerak atau pengarah para pengikut, walaupun adanya sumber dan periwayatan yang kuat sangat dihargai.

Di antara contoh yang dapat dikemukakan di sini adalah cerita tentang kentongan di masjid yang dinisbahkan kepada hubungan persahabatan antara K. H. Hasyim Asy’ari dan sahabat beliau dari Maskumambang, Gresik. Kiai dari Gresik ini berpendapat bahwa penggunaan kentongan di mesjid untuk menandai datangnya waktu salat berjama’ah tidak mempunyai dasar dalam Syari’at Islam, dengan kata lain: bid’ah, sementara bagi pendiri NU itu kentongan merupakan hal yang baik untuk dipakai sebagai pemberi tanda waktu salat. Ceritanya, setiap kali K. H. Hasyim ke Maskumambang, selalu ditemuinya kentongan di mesjid sahabatnya. Sebaliknya, beliau selalu menyingkirkan kentongan dari masjid setiap kali sahabatnya itu berkunjung ke Jombang.

Konon Imam al-Sy?fi’?, yang berpendapat bahwa membaca doa qunut pada rekaat kedua salat subuh adalah sunnah ab’adl, tidak mengamalkan pembacaan doa qunut itu ketika menjadi imam salat di masjid Abu Yusuf, murid Abu Hanifah yang berpendapat bahwa doa qunut dalam salat subuh tidak mempunyai dasar yang kuat. Sebaliknya, ditemukan juga cerita seorang tokoh pengikut mazhab Hanafi yang membaca doa qunut ketika mengimami jamaah masjid Imam Syafi’i.

Persahabatan K. H. A. Wahid Hasyim, Ketua PBNU, dengan Tan Malaka yang menganut paham komunis, bahkan menjadi pemimpinnya yang sangat penting, juga diceritakan—oleh Gus Dur. Waktu itu malam baru tiba, kata Gus Dur, seorang tamu datang ke rumah dan memeluk ayah dengan sangat erat. Mereka lalu duduk dan berbicara cukup lama. Setelah tamunya pergi, ayah memberitahuku bahwa tamu yang datang tadi adalah Tan Malaka.

Pandangan ke depan

Kelompok-kelompok keagamaan—juga kelompok-kelompok lain sejenis yang dibangun di atas kesamaan keyakinan dan kultur—sebenarnya semakin cair sejalan dengan globalisasi dan kemudahan transportasi serta kecepatan persebaran informasi. Batas-batas antar kelompok tidak lagi menjadi jelas dalam kehidupan sehari-hari, walaupun wujud kelompok banyak terdengar dibicarakan, disebarkan dalam penerbitan dan ditayangkan dalam televisi. Wujud kelompok itu menjadi lebih terasa ketika elit mempergunakannya untuk memenangkan kepentingan mereka. Tidak jarang lalu muncul provokasi untuk menyerang kelompok tertentu atau menghukumnya karena anggapan tentang kesalahan yang belum tentu mereka kerjakan atau bisa dijadikan alasan yang sah untuk melakukan itu. Penyalahgunaan emosi keagamaan merupakan salah satu sarana yang ampuh dalam menghasung penghukuman kepada orang atau kelompok tertentu.

Itu semua dapat mudah terjadi karena kemiskinan dan kebodohan yang dialami sebahagian besar dari mereka yang diprovokasi. Demikian juga ketidakadilan yang mereka rasakan dalam tatanan kehidupan, terutama ekonomi, sementara jalan keluar tidak mereka lihat. Itu semua sering ditambah dengan kebuntuan komunikasi dan kelemahan dalam mengelola kekuasaan, sehingga kebijakan-kebijakan yang diambil penyelenggara negara dan pemerintahan tidak berpihak kepada sebanyak-banyak warga negara.

Perhatian semestinya lebih banyak dicurahkan kepada tugas bersama untuk menyelesaikan problem kemanusiaan. Masa lalu yang penuh dengan konflik dan pertumpahan darah dengan intrik, keculasan, pengkhianatan dan hal-hal buruk lainnya dalam hubungan antara kelompok semestinya tidak boleh menghantui masa kina dan masa yang akan datang. Walaupun masa kini merupakan kelanjutan dari masa lalu dan tidak akan pernah dapat diputus hubungan masa kini dengan masa lalu, namun kita dapat dan seharusnya membina masa kini dan masa datang dengan pertimbangan dan nilai-nilai kita sendiri yang sesuai dengan jaman kita. Masa lalu menjadi pelajaran agar masa datang menjadi lebih baik.

Penutup

Permusuhan tidak perlu diwarisi dan diwariskan, melainkan mesti diganti dengan kebersamaan dan persaudaraan. Ngendon pada masa lampau tidak akan menolong membuat kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik. Hal itu hanya memuaskan diri sendiri atau merupakan pelipur lara bagi kesempatan yang dulu lepas dan kekalahan yang pernah diderita, sementara masa kini berada di tangan orang lain. Yang semestinya dilakukan adalah menatap masa depan dengan kerja masa kini yang dilakukan dengan kesungguhan dengan melibatkan sebanyak-banyak warga masyarakat.

Membangun masa depan yang lebih baik merupakan tanggung jawab kita semua. Sebagai mayoritas, Aswaja memikul tanggung jawab paling besar dalam menampilkan wajah Islam yang terbaik. Aswaja tidak cukup dengan baik pada dirinya sendiri—sesuatu yang masih memerlukan usaha keras untuk mewujudkannya—melainkan juga mesti baik kepada orang lain, baik di dalam lingkungan komunitas Muslim maupun secara lebih luas lagi dalam masyarakat dunia. Ketidakbaikan orang lain tidak semestinya dijadikan alasan bagi diri sendiri untuk tidak baik pula, melainkan untuk menunjukkan kualitas yang semestinya dimiliki.

Diperlukan kesungguhan dan keberanian untuk memutus kebiasaan yang sudah mendarah daging. Kesungguhan diperlukan karena masalah yang dihadapi tidak mudah untuk diselesaikan. Banyak hal yang membuat hubungan baik tidak dapat dijalin di antara sesama kelompok yang menganut Aswaja seperti juga antara Aswaja dan kelompok lain, sementara tidak sedikit pula tangan-tangan jahil yang memanfaatkan perselisihan dan konflik untuk kepentingan mereka. Keberanian diperlukan terutama karena banyak yang merasa dan berkeyakinan bahwa permusuhan adalah jalan yang dianjurkan, bahkan diperintahkan oleh agama.

Hubungan harmonis tidak dapat dibangun dengan kerja satu pihak, melainkan mesti dibangun bersama-sama oleh kedua belah pihak. Inisiatif boleh datang dari salah satu pihak atau bahkan dari pihak luar, namun pembangunan dan perawatan mesti dilakukan oleh semua pihak yang terlibat, terutama kedua belah pihak yang berkenaan. Hal-hal yang dapat mengganggu hubungan, seperti sikap menyalah-nyalahkan pihak lain, penistaan tokoh-tokoh atau simbol-simbol yang dimuliakan dan pemakaian ungkapan yang tidak pantas dalam menyebut pihak lain mestilah disingkirkan agar benih hubungan baik dapat tumbuh dan berkembang.

Demikianlah percobaan urun pendapat ini. Wallahu a’lam.

Jakarta, 11-12-2012

Machasin