Close

MENGASAH KETERAMPILAN DAKWAH MAHASISWA MELALUI LABORATORIUM

(H.M. Hamdar Arraiyyah, Kepala Puslitbang Pedidikan Agama dan Keagamaan)

 

         Bentuk kegiatan dakwah yang dikenal luas oleh umat adalah ceramah agama. Salat tarawih berjamaah di masjid pada bula Ramadan biasanya didahului ceramah agama. Program ini berjalan rutin di masjid besar di kota. Bahkan kegiatan sering juga disampaikan sebelum pelaksanaan salat Subuh berjamaah. Kegiatan ini dimungkinkan karena jumlah orang yang datang ke masjid pada waktu itu cukup besar. Banyak mubalig atau juru dakwah yang berdomisili di kota dan bersedia untuk berbagi ilmu dan waktu. Lagi pula banyak warga yang rela memberikan dedikasi mengurus masjid. Sebagian masjid sudah mulai dikelola secara profesional, dalam arti ilmu dan tenaga serta waktu yang digunakan oleh seorang juru dakwah diberi imbalan materi yang layak. Tidak mengherankan bila dewasa ini suasana keagamaan dan aktivitas dakwah di banyak kota lebih menonjol dibandingkan desa. 

Kehidupan keagamaan di banyak desa agaknya dihadapkan pada berbagai keterbatasan. Salah satunya adalah keterbatasan sumber daya manusia yang ahli dan menjadi panutan dan tempat bertanya di desa. Keadaan ini sudah dirasakan untuk waktu yang lama, terutama desa yang lokasinya terpencil dan susah dijangkau karena keterbatasan sarana transportasi. Masyarakat muslim di desa yang bersangkutan merasakan keterbatasan itu, namun belum  membuat program terencana untuk mengatasinya. Padahal, pesan Al-Qur’an sangat jelas. Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya (at-Taubah/9: 122). Respons terhadap pesan ini di banyak tempat umumnya dilakukan secara individual, oleh keluarga tokoh agama, atau bukan organisasi. Ormas keagamaan besar sudah melakukan program pengiriman mubalig ke berbagai daerah, tetapi jangkauannya sangat terbatas dibandingkan dengan kebutuhan.

         Ceramah disebut juga pidato, yang dalam bahasa Arab disebut khutbah. Ceramah atau kuliah agama dengan durasi tujuh menit dikenal dengan singkatan “kultum”. Belakangan ini, ceramah agama dikenal pula dengan sebutan taushiyah (penyampaian pesan) dan mau‘izhah hasanah  (nasihat yang baik). Kedua istilah yang disebut terakhir memberi penekanan pada substansi atau isi pesan yang disampaikan dalam ceramah. Adapun istilah ceramah, pidato, dan kuliah lebih ditekankan pada metode penyampaian pesan. Sejalan dengan hal itu, metode ceramah dikenal pula sebagai salah satu metode pembelajaran agama di sekolah atau lembaga pendidikan.

Khutbah Jumat dan  Ceramah Agama

          Khutbah Jumat adalah pidato yang disampaikan khatib sebelum pelaksanaan salat Jumat.  Ia menjadi bagian dari pelaksanaan salat Jumat. Karenannya, terdapat ketentuan khusus berupa rukun-rukun yang harus dipenuhi. Di antaranya, khutbah harus didahului dengan puji-pujian kepada Allah Swt., lafaz kalimat syahadat, bersisi wasiat takwa kepada Allah, memuat ayat Al-Qur’an. Selain itu, ulama umunya memandang lafaz salawat kepada Nabi Muhammad Saw. dan doa bagi kaum muslimin dan muslimat sebagai bagian yang harus pula ada pada khutbah tersebut (Rasjid, 2012). Ketentuan ini menunjukkan bahwa khutbah Jumat bukan ceramah agama biasa. Satu lagi pemahaman yang umum di kalangan ulama bahwa khatib itu laki-laki. Praktik keagamaan ini tidak diketahui banyak orang di luar Islam karena berbeda dari apa yang terjadi pada komunitas mereka. 

           Selain itu, Rasulullah Muhammad Saw. menganjurkan sejumlah hal lainnya. Di antaranya, khutbah Jumat sebaiknya singkat. Ini adalah bagian dari keutamaan ajaran Islam yang menaruh perhatian terhadap kebutuhan dan keadaan jamaah. Boleh jadi ada di antara mereka yang mempunyai keperluan mendesak, setelah selesai salat. Ini sejalan pula dengan tuntunan  Rasulullah Saw. yang menyatakan bahwa, Inna haaza-d diina yusrun (Sesungguhnya agama ini mengandung kemudahan) (HR al-Bukhari). Artinya, ajaran agama itu mudah dilaksanakan dan memberikan kemudahan. Islam memberikan jalan keluar bila umat menemui kesulitan.

           Ulama menunjukkan penghayatan yang mendalam terhadap khutbah Jumat sebagai sesuatu yang sarat dengan makna spiritual dan moral. Mereka mengenakan pakaian yang rapi yang menampakkan kewibawaan dan kemuliaan. Sebagian mengenakan surban seperti kebiasaan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Sewaktu menyampaikan khutbah, mereka berupaya mengutip ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis Nabi dengan tepat, melafazkannya dengan fasih, dan menjelaskannya dengan baik dan benar. Mereka menampakkan kekhusyukan dengan sikap tubuh yang berdiri tegak dan tak banyak gerak, hati yang takut kepada Allah,  ucapan yang terkendali sehingga tidak keluar kata-kata yang tidak pantas. Singkatnya, mereka mempersiapkan diri dengan baik sebelum tiba waktunya membawakan khutbah.

           Berbeda dari praktik yang ideal itu, kelihatannya, ada satu dua khatib kurang memperhatikan hal-hal tersebut di atas. Mereka menyampaikan khutbah Jumat dengan gaya yang tak jauh beda dari orang yang sedang menyampaikan ceramah agama pada kesempatan yang lain. Irama suaranya terkadang seperti orang yang sedang menyampaikan pidato kampanye politik. Seringkali materi khutbah kurang bersandar pada Al-Qur’an dan hadis atau riwayat yang sahih. Cara melafalkan ayat Al-Qur’an tidak fasih. Singkatnya, nuansa spiritual dari isi khutbah dan cara membawakannya kurang dirasakan oleh jamaah.

           Kondisi yang tidak kalah memperihatinkan adalah penyampaian khutbah Jumat di sejumlah masjid di desa. Ada khatib yang latar belakang pendidikan agamanya sangat minim. Khatib ini biasanya hanya membaca buku khutbah Jumat tanpa diolah sama sekali. Akibatnya, contoh yang dikemukakan sering tidak relevan dengan kondisi jamaah atau keadaan zaman. Karena buku khutbah yang tersedia sangat terbatas, maka teks khutbah yang sama dibaca kembali pada kesempatan khutbah berikutnya, setelah lama berselang. Keadaan ini terjadi karena jumlah orang yang memiliki pengetahuan dan keterampilan serta  kesediaan bertugas sebagai khatib sangat kurang di lingkungan yang bersangkutan.

Dakwah Face to Face

            Selain ceramah, dakwah dalam bentuk komunikasi orang  ke orang atau face to face telah lama dikembangkan. Umat Islam yang mengembara ke berbagai negeri untuk mencari nafkah juga memperkenalkan Islam kepada orang-orang yang mereka temui. Mereka menyampaikan pesan Islam secara lisan, berdialog, dan menampakkannya dalam bentuk praktik ibadah, muamalah dan tingkah laku yang terpuji. Metode ini juga menjadi pilihan bagi seorang juru dakwah yang baru pertama kali mengunjungi sebuah kampung atau kota yang penduduknya umumnya bukan muslim. Setelah beberapa orang terketuk hatinya untuk memperleh hidayah Allah, barulah kegiatan dalam bentuk ceramah di rumah dan mushalla dilaksanakan. Hingga waktu sekarang, dakwah dalam bentuk ini masih tetap berkembang. Beberapa mualaf menuturkan pengalaman mereka bersentuhan dengan Islam melalui komunikasi dengan teman kerja dan sahabat mereka yang menganut agama Islam kemudian tertarik untuk mempelajarinya lebih lanjut.

         Sebaliknya, keluarga muslim di Indonesia juga sering dikunjungi oleh penyiar agama profesional bukan muslim. Lewat kunjungan itu, terjadi dialog yang tidak seimbang, yakni dari seorang yang lebih tinggi pendidikannya dan pengetahuannya di bidang agama dengan warga kota atau desa yang terbelakang dari segi pendidikan dan umumnya dari kalangan ekonomi tidak mampu. Melalui pertemuan yang berulang kali, akhirnya ada satu dua orang penganut agama Islam berpindah ke agama lain. Oleh karena itu, penguatan iman di kalangan muslim terutama mereka yang kurang aktif ke masjid, termasuk kaum perempuan yang tidak aktif di kegiatan majelis taklim perlu didekati dengan dakwah face to face. Hanya saja ini bukan perkara gampang. Dibutuhkan tenaga terampil dan punya semangat dedikasi yang tinggi.

Fungsi Laboratorium Dakwah

            Salah satu fungsi laboratorium dakwah bagi mahasiswa adalah mengasah keterampilan mereka dalam berpidato. Keterampilan ini didasarkan pada pengetahuan tentang cara-cara menyampaikan pidato dalam berbagai aspeknya dan pengetahuan tentang substansi ajaran agama Islam yang akan disampaikan kepada audiens. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman tentang masyarakat atau golongan yang menjadi sasaran dakwah. Dalam kaitan ini, kajian anthropologis, sosiologis, psikologis, kesejarahan lokal, dan ilmu komunikasi perlu dimiliki oleh juru dakwah. Kombinasi dari berbagai unsur itu menjadi bekal yang baik bagi juru dakwah.  

            Lab dakwah menjadi sarana yang efektif untuk mengenalkan profil juru dakwah yang berhasil. Banyak orang yang menjatuhkan pilihan hidup sebagai juru dakwah profesional. Sebagian di antara mereka ditugaskan dengan kontrak untuk jangka waktu tertentu oleh organisasi kemasyarakatan Islam. Mereka ini ditugaskan di daerah tertentu yang belum mengenal Islam atau membutuhkan bimbingan keagamaan Islam. Hasilnya sangat besar, antara lain, ditandai dengan keberhasilan membimbing banyak orang menjadi mualaf. Salah seorang juru dakwah profesional yang penulis temui di suatu daerah minoritas muslim menuntun sekitar 360 mualaf dalam rentang waktu tiga puluh tahun. Semangat, strategi, dan metode dakwah yang dikembangkan juru dakwah berprestasi perlu ditularkan kepada mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, terutama jurusan keagamaan.

            Praktik dakwah di masyarakat juga perlu ditayangkan dan dibahas di lab dakwah. Di bawah arahan dan penjelasan dosen pembimbing mahasiswa dapat mengidentifikasi cara-cara menyampaikan pesan keagamaan yang baik untuk ditiru dan yang tidak tepat untuk dijauhi. Dengan bekal itu, pratik dakwah mahasiswa sendiri ditampilkan dan dibahas agar ditingkatkan. Hal lain yang perlu ditanamkan sedalam-dalamnya adalah ceramah agama dibuat sedemikian rupa agar audeins tertarik utnuk mendengarkan dengan penuh perhatian, menambah pengetahuan dan wawasan mereka, membawa kesan di hati mereka dan terekam dalam ingatan serta menimbulkan kesadaran untuk memperbanyak amal saleh. Lebih dari itu, kegiatan diskusi di lab dakwah diharapkan agar memicu lahirnya berbagai produk yang dibutuhkan, seperti peta dakwah lokal, buku bimbingan keagamaan, hasil-hasil kajian sosial di bidang dakwah. ***