PERAN PTKI DALAM MENCETAK DA’I MODERAT

Penulis : Administrator


Tanggal Posting : 17 Juni 2016 06:33 | Dibaca : 656


Oleh: Hayadin

Peneliti pada Pusat Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan

Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI

hayadin006@gmail.com

 

            Secara historis, kemunculan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) bermula dari Perguruan Tinggi Agama Islam,diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1950. Pertimbangan utama terbitnya peraturan tersebut adalah “bahwa dalam beberapa lapangan pemerintahan dan oleh masyarakat, banyak dihajatkan tenaga ahli dalam ilmu keagamaan pada umumnya. Untuk mencapai keahlian (kompetensi) tersebut, pelajar Indonesia saat itu terpaksa mengikuti pelajaran pada perguruan-perguruan tinggi di Luar Negeri yang tidak mempunyai hubungan yang seksama dengan madrasah-madrasah di Indonesia”. Maksud dari pembentukan PTAI, kemudian disempurnakan menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) sebagaimana dinyatakan dalam Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 1960, adalah untuk memberikan pengajaran dan menjadi pusat perkembangan dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang Agama Islam[2]

Sejalan dengan semangat tersebut, ditengah situasi dakwah yang kompleks dengan aktorbermacam-macam,peran dan fungsi PTKI dapat dirujuk kembali pada khittah-nya, yakni membangun jiwa umat Islam Indonesia yang terombang-ambing oleh keadaan. Peran strategis PTKI di era kontemporer menjadi penting karena beberapa faktor, antara lain: kehadiran organisasi keagamaan Islam transnasional, kehadiran perilaku kekerasan dan radikalisme berbasis agama, serta maraknya kasus penyimpangan dan penistaan agama. Munculnya paham dan gerakan radikal di tanah air pada dua dasawarsa terakhir, kebanyakan berasal dari dan berafiliasi dengan organisasi keagamaan dari luar negeri (transnasional). Mereka membawa paham dan mengajarkan antidemokrasi,anti barat khususnya Amerika, anti pemerintah, anti Pancasila dan UUD 1945. Secara umum, mereka dikategorikan sebagai Islam Takfiri,cenderung mengafirkan muslim lainbukan golongan mereka sendiri.[4]Demikian pula dengan Hizbut Tahrir (HT) bertujuan mendirikan khilafah Islamiyah dengan menggantikan pemerintahan yang sah, menjadi salah satu organisasi memengaruhi pemikiran mahasiswa pada banyak perguruan tinggi umum seperti IPB Bogor, ITB Bandung, UI Depok, UGM Yogyakarta, dan Unibraw[6]

Dalam konteks psikologi dakwah, fenomena radikalisme dalam Islam, hanya akan merusak citra positif dan membangun citra negatif ajaran Islam rahmatan lil alamin. Beberapa tindak kekerasan mengatasnamakan Islam atau menyebut dirinya dengan kelompok diasosiasikan dengan istilah Islam, melahirkan stigma negatif tertentu. Kini terdapat stigma tentang Islam yang sangat kental, terutama melalui media, yakni: 1) Islam adalah agama kekerasan dan teror; 2) Islam adalah perusak dan tidak memberi solusi; 3) Islam adalah agama yang ingin eksis sendiri di muka bumi dan tidak menghendaki adanya kelompok lain di muka bumi.

[2] Penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1950tentang Perguruan Tinggi Agama Islam.

[4] Hayadin, “Tragedi Kecolongan Rohis” dalam  Jurnal Al-Qalam BLA Makassar, No. 2 Tahun 2013.

[6]Ahmad Rizky Mardhatillah Umar, Melacak Akar Radikalisme Islam di Indonesiadalam Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. 14, Nomor 2, November 2010, hal. 172.

[7]Koentjori, Beben Rubianto, “Radikalisme, Radikalisme IsLam dan Perilaku orang Kalah dalam perspektif Psikologi Sosial”  dalam Psikobuana, Vol.1, No. 1, 2009, hal. 68.

Selain kasus-kasus tersebut, juga terdapat penyimpangan agama dimasyarakat secara luas. Penyimpangan tersebut disebabkan oleh kekosongan fungsi dakwah “Islam rahmatan lil alamin”yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk  mengambil keuntungan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya Gafatar, Lia Eden, dan nabi palsu.

PTKI dituntut tampil kedepan meluruskan permasalahan di atas. Mereka memilikimodal dasar dan potensi, yaknipara alumni memiliki kompetensi dasar di bidang keagamaan, meskipun terdapat perbedaan muatan keagamaan dan konsentrasi antara satu program studi dengan lainnya. Kompetensi dasar dimaksud diperoleh melalui mata kuliah seperti Pengantar Ilmu Tafsir, Pengantar Ilmu Hadis, Fikih, dan Ilmu Kalam.[2]maka setiap warga PTKI dapat memilih perannya secara dinamis sebagai pendebat, penceramahhandal. Peran ini ditujukankepada mereka yang secara personal memiliki kapasitas keilmuan dan stabilitas mental psikologis yang baik dan terlatih untuk menjelaskan kebaikan Islam sebagai Rahmatan lil Alamin, dan menjelaskan bahaya perilaku zolim dan tindak kekerasan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Selain peran tersebut, sivitas akademik PTKI juga dapat memainkan peran sebagai role modelaktif. Tidakperlu memiliki stok pengetahuan luas dan banyak. Tidak harus menjadi  penghafal Al-Qur’an dan Hadits, tetapi pemahaman yang baik terhadap ajaran Islam dan visinya sebagai agama Rahmatan LilAlamin, memungkinkan mereka tampil di masyarakat atau di lingkungannya sebagai role model yang diteladani, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dengan demikian, PTKI menjadi instrumen hidup bersifat strategis yang dapat digunakan oleh negara atau pemerintah dalam melawan aksi radikal dan perilaku kekerasan atas nama agama. PTKI di samping PTK lainya, menjadi salah satu instrumen negara untuk menciptakan kehidupan keagamaan yang damai, rukun, maju, dan beradab.

Bukan hanya melalui aktivitas dakwah penyiaran agama, melainkan juga dengan berbagai potensi keilmuanyang dimiliki seperti disiplin ekonomi Islam, kesehatan, dan enterpreneur, PTKI dapat menawarkan solusi atas keterbelakangan umat, sebagai salah satu faktor penyebab aksi tindak kekerasan.

Oleh karena itu, kesadaran berdakwah, atau kemauan untuk menjadi pelaku dakwah dengan cara dan peran yang sesuai dengan kompetensi dan kapasitas yang dimiliki menjadipenting untuk ditumbuhkan di kalangan mahasiswa PTKI. Laboratorium dakwah dituntut memainkan peran tersebut, yakni menumbuhkan kesadaran mahasiswa menjadi pelaku dakwah yang menebar kebaikan Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’anul Kariem.

Arraiyyah, Hamdar, “Mengembangkan Laboratorium Dakwah bagi Mahasiswadalam http://balitbangdiklat.kemenag.go.id/arsip/artikel-ilmiah/mengembangkan-laboratorium-dakwah-bagi-mahasiswa.html.

Hayadin, Tragedi Kecolongan Rohis:dalam Jurnal Al-Qalam BLA Makassar, No. 2 Tahun 2013.

https://en.wikipedia.org/wiki/Takfiri.

Koentjori, Beben Rubianto, Radikalisme, Radikalisme IsLam dan Perilaku Orang Kalah dalam Perspektif Psikologi Sosial” dalam Psikobuana, Vol.1, No. 1, 2009, hal. 68.

Mardhatillah Umar, Ahmad Rizky,Melacak Akar Radikalisme Islam di Indonesia” dalamJurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. 14, Nomor 2, November 2010, hal. 172.

Penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1950tentang Perguruan Tinggi Agama Islam.

Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1950dan Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 1960tentang Pembentkan Institut Agama Islam Negeri.

Qodir, Zuly, “Gerakan Salafy Radikal dalam konteks Islam Indonesia” dalam Islamica, Vol. 3, No. 1, September 2008.


[2]Al-Qur’an Surat An-Nahl, ayat125.


Kalender Kegiatan

Pengelolaan Sekolah Islam Terpadu di Kawasan Indonesia Timur

  • Tanggal : 26 Juni 2016 18:05
  • Waktu : 01 Januari 2016 - 02 Februari 2016
  • Pukul : 12:00 - 13:00 Wib
  • Tempat : Kemenag