CHARACTER BUILDING PRINCIPLE

31 Okt 2012
CHARACTER BUILDING PRINCIPLE

Abstraksi:
Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa ditukar, karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar hari demi hari melalui suatu proses, tidak instan. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari. Pendidikan karakter merupakan sebuah proses untuk membentuk, menumbuhkan, mengembangkan dan mendewasakan kepribadian agar menjadi pribadi yang bijaksana dan bertanggung jawab melalui pembiasaan pikiran, hati dan tindakan secara berkesinambungan yang hasilnya dapat terlihat dalam tindakan nyata sehari-hari.  Pembangunan manusia unggul sangat diperlukan, apabila memiliki kriteria bermoral, berakhlak dan berperilaku baik, mencapai masyarakat yang cerdas dan rasional yang inovatif dan terus mengejar kemajuan, yang terus berupaya mencari solusi dalam setiap menghadapi kesulitan. Bangsa kita/ masyarakat diharapkan mampu  mengolah emosi, dan spiritual yang mampu mengeksplorasi dan menginternalisasi kekayaan fisik, rasa, dan spiritual.dalam kehidupan. Hanya suara hati yang bersihlah yang akan mampu mengambil dan menggunakan 6 prinsip moral dalam membangun karakter 

Abstract
Character can’t be inherited, character can’t be bought and character can’t be exchanged , but character must be built and must be consciously developed a day by day through a process, not instant. Character is not something innate that can not be changed anymore like a fingerprint. Character education is a process to establish, grow, develop and mature personality in order to become a person of wisdom and responsibility through a habituation of mind, heart and actions and related action that results can be seen in action daily. Superior human development is needed, if it has a moral criterion, moral and well behaved achieve an intelligent and rational people are innovative and continue to pursue progress, continue to look for a solution in every difficulty. Disinfect only conscience that will be able to take and use 6 moral principles in building character

A.    Pendahuluan
Bangsa Indonesia telah menikmati kemerdekaan selama 67 tahun, namun apa yang terjadi masyarakat Indonesia  masih ada orang yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak sedikit orang di negeri ini yang mempunyai jabatan melakukan tindakan korupsi. Tindakan tersebut merupakan tindakan yang tidak bermoral, tindakan tidak manusiawi, bahkan tindakan biadab. Pegawai yang melakukan korupsi ini membuat orang marah, menjadikan kesusahan banyak orang, mengapa pegawai yang sudah digaji cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan sudah disumpah untuk tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum seperti korupsi.
Mengapa orang yang mempunyai kedudukan dengan tega mengambil uang rakyat. kepentingan dirinya menjadi yang utama. Padahal disisi lain masih banyak di pelosok negeri ini masyarakatnya mengalami kelaparan.keterbelakangan pendidikan dll.. Berbagai permasalahan negeri ini adalah masalah moral/ karakter, perekonomian, pendidikan, kesehatan, penyalahgunaan obat terlarang, teknologi, dan kemiskinan.
Pemulihan ekonomi Indonesia saat ini yang sudah berada di jalur yang mendekati tepat, masih dihantui pembangunan manusia yang semakin merosot, oleh karena itu dibutuhkan prioritas utama bagi "penyerasian" antara pembangunan ekonomi dan pembangunan SDM. Perlu diingat bahwa besarnya investasi yang dilakukan di sektor SDM tidak akan membawa hasil yang baik bagi pertumbuhan ekonomi tanpa disertai peningkatan kualitas SDM yang dibutuhkan dan sarana-sarana penunjang.
Secara langsung atau tidak langsung, kualitas sumber daya manusia itu mempunyai peran yang paling utama dan sangat menentukan dalam pembangunan ekonomi. Indikator kualitas sumber daya manusia itu dapat berupa tingkat pendidikan dan tingkat kesehatan. Bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk memacu pertumbuhan ekonominya diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas dan berkarakter. Namun tingginya kualitas sumber daya manusia tidak dapat diukur dengan angka-angka semata, tetapi dapat dilihat dari bagaimana prosesnya dan apa yang dihasilkannya. Prosesnya adalah dengan menggunakan cara-cara terpuji atau tercela, sedangkan hasilnya manusia itu menjadikan manusia yang berkarakter baik atau tidak dan dapat memenuhi kebutuhannya atau tidak.
Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas sumber daya manusia karena kualitas karakter bangsa menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Bagaimanakah cara membangun karakter bangsa ini?


B. Pembahasan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Karakter memiliki arti: 1). Sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. 2).Karakter juga bisa bermakna "huruf"
Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Dekdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”.Adapun berkarakter, adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, dan berwatak.
Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti to mark (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku (Wynne, 1991).Oleh sebab itu seseorang yang berprilaku tidak jujur, kejam, atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek, sementara orang yang berprilaku jujur, suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Jadi istilah karakter terkait dengan personality (kepribadian) seseorang, dimana seseorang bisa disebut orang yang berkarakter (a person of character) jika tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral yang berlaku.
Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.
Aristoteles berpendapat bahwa etika merupakan suatu keterampilan semata dan tidak ada kaitannya dengan potensi dasar.Kepribadian merupakan hasil dari latihan dan pengajaran. Artinya seorang yang berlatih dan belajar untuk berbuat baik akan menjadi seorang yang bermoral. Aristoteles kemudian mengemukakan teori tentang moderasi (hadd al-wasath) yang menyatakan bahwa moral yang baik sesungguhnya identik dengan memilih segala sesuatu yang bersifat “tengah-tengah”.Artinya, pada dasarnya setiap perbuatan bersifat netral.Suatu tindakan dapat disebut baik jika ditempatkan pada posisi yang moderat (tidak berlebihan dan tidak berkekurangan).Kemudian Aristoteles mengemukakan tujuan tindakan etis yaitu menuju kebahagiaan yang bersifat intelektual (eudemonia).
Karakter bangsa dibentuk oleh semua warga negaranya, dimana warga negara mempunyai sifat-sifat, kebiasaan, prinsip-prinsip kehidupan dan aturan yang berbeda-beda.Karakter bangsa merupakan cerminan karaktersitik warga negaranya yang beragam budaya.Oleh karena itu karakter bangsa dibentuk berdasarkan nilai-nilai tradisi budaya masyarakatnya berdasarkan nilai luhur yang bersifat umum dan dapat diterima oleh semua masyarakat.  
Karakter bangsa bukan agregasi karakter perseorangan, karena karakter bangsa harus terwujud dalam rasa kebangsaan yang kuat dalam konteks budaya yang beragam. Karakter bangsa mengandung perekat kebudayaan, yang harus terwujud dalam kesadaran kebudayaan (cultural awareness) dan kecerdasan kebudayaan (cultural intelligence) setiap warga negaranya.Karakter menyangkut prilaku yang sangat luas karena didalamnya terkandung nilai-nilai kerja keras, kejujuran, disiplin, estetika, komitmen, dan rasa kebangsaan yang kuat. Oleh karena itu perlu dirumuskan esensi nilai-nilai yang terkandung dalam makna karakter yang berakar pada filosofi dan budaya bangsa Indinesia dalam konteks kehidupan antar bangsa.
Pembangunan karakter dan pendidikan karakter menjadi keharusan karena pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik cerdas akan tetapi juga berakhlak mulia. Pendidikan juga untuk membangun budi pekerti dan sopan santun dalam kehidupan. Pintar tetapi karakternya buruk jelas akan sangat bermasalah. Pintar tetapi tidak bisa menghargai sesama, tidak menghargai nilai-nilai kejujuran, kebenaran dan keadilan maka akan mendatangkan malapetaka bagi orang lain bahkan dalam scope yang lebih luas bagi bangsa kita.  Pengetahuan yang tinggi tetapi tanpa didasari oleh pemahaman tentang nilai-nilai yang benar maka hanya akan memberi kesempatan untuk bertumbuhnya benih-benih kejahatan yang akan termanifestasi dalam berbagai bentuk.  

Pendidikan Karakter Dengan Model ESQ 165
1.    Pendidikan Karakter
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.( wikipedia). 
Pendidikan adalah pembentukan hati nurani. Pendidikan adalah proses pembentukan diri dan penetuan-diri secara etis, sesuai dengan hati nurani.(kohnstamm dan gunning).
Tujuan pendidikan nasional menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 adalah: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, sehat, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Pendidikan karakter adalah pendidikan untuk “membentuk” kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya. (Thomas Lickona,1991)..
Menurut Elkind & Sweet (2004: 6) mendefinisikan pendidikan karakter sebagai “character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core athical values”. Pendidikan karakter adalah usaha yang sengaja dilakukan untuk membantu masyarakat, memahami, peduli dan bertindak atas nilai-nilai etika.
Santrock (2008:105) memberikan definisi tentang pendidikan karakter bahwa “character education is a direct approach to moral education that involves teaching students basic moral literacy to prevent them from engaging in immoral behavior and doing harm to them selves or other”. Pendidikan karakter adalah pendekatan langsung pada pendidikan moral, yakni mengajari murid dengan pengetahuan moral dasar untuk mencegah mereka melakukan tindakan tak bermoral dan membahayakan orang lain dan dirinya sendiri, hal ini bahwa prilaku seperti berbohong, mencuri, dan menipu adalah salah dan murid diajari mengenai hal ini melalui pendidikan mereka.
Pada dasarnya manusia menunjukkan telah memiliki karakter tertentu, namun perlu disempurnakan untuk menjadi lebih baik.
Pendidikan karakter merupakan usaha yang menyeluruh agar orang-orang memahami, peduli, dan berprilaku sesuai nilai-nilai etika dasar. Objek dari pendidikan karakter adalah nilai-nilai. Nilai-nilai ini didapat melalui proses internalisasi dari apa yang diketahui, yang membutuhkan waktu sehingga terbentuklah pekerti yang baik sesuai dengan nilai (nilai-nilai hidup yang merupakan realitas yang ada dalam masyarakat) yang ditanamkan (Nurul Zuriah, 2007:38)
Pendidikan karakter merupakan sebuah proses untuk membentuk, menumbuhkan, mengembangkan dan mendewasakan kepribadian anak menjadi pribadi yang bijaksana dan bertanggung jawab melalui pembiasaan-pembiasaan pikiran, hati dan tindakan secara berkesinambungan yang hasilnya dapat terlihat dalam tindakan nyata sehari-hari di sekolah.

2.    Strategi Pendidikan Karakter Model ESQ 165
Pendidikan karakter sudah selayaknya apabila mengikuti langkah-langkah yang sistematis, dimulai dari pengenalan nilai secara kognitif, langkah memahami dan menghayati nilai secara afektif, dan langkah pembentukan tekad secara konatif. Ki Hajar Dewantoro menterjemahkannya dengan kata-kata cipta, rasa, dan karsa.
Menurut Licona (1991:51) Karakter dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit). Karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja. Seseorang yang memiliki pengetahuan kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai dengan pengetahuannya, jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan) untuk melakukan kebaikan tersebut. Karakter juga menjangkau wilayah emosi dan kebiasaan diri. Dengan demikian diperlukan tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing (pengetahuan tentang moral), moral feeling  atau perasaan (penguatan emosi) tentang moral, dan (moral action) atau perbuatan bermoral. 
ESQ model 165 merupakan konsep pemikiran untuk pengembangan karakter dan kepribadian yang digagas berdasarkan nilai-nilai rukun iman, rukun islam, dan ihsan. ESQ 165 bertujuan untuk menghasilkan manusia unggul dalam mengolah emosi, dan spiritual yang mampu mengeksplorasi dan menginternalisasi kekayaan fisik, rasa, dan spiritual.
ESQ model 165 terdiri dari tiga bagian yakni, bagian satu mengenai (Zero mind process) penjernihan emosi, bagian kedua (mental building) membangun mental dengan enam prinsip moral berdasarkan rukun iman, dan bagian ketiga adalah (personal and social strength) ketangguhan pribadi dan sosial dengan lima langkah sukses berdasarkan rukun islam. Tiga bagian tersebut dari bagian satu sampai bagian ketiga terdapat hubungan yang yang sudah sistmatis, dimana bagian satu mempengaruhi bagian kedua dan ketiga, dan bagian kedua mempengaruhi bagian ketiga. Jadi dalam belajar harus tersetruktur dimulai dari Zero mind process dan bertahap sampai terakhir langkah sukses berdasarkan rukun islam. 
Pada dasarnya manusia sebenarnya memiliki suara hati yang sama, suara hati yang universal yang terekam dalam fitrah atau god spot. Suara hati nurani yang ada dalam diri manusia akan selalu mengingatkan ketika manusia melakukan tindakan yang tidak baik atau tidak sesuai dengan hati nuraninya. Hal ini karena Tuhan tidak menghendaki manusia berbuat kemungkaran dan ruh manusia telah mengadakan perjanjian dengan Tuhannya. Bukti adanya perjanjian yang dapat kita rasakan adalah manusia akan menyesal ketika berbuat kesalahan/kebohongan..
Suara hati yang dimiliki manusia yang sangat luar biasa sempurnanya perlu dijaga oleh manusia itu sendiri karena kalau tidak dijaga akan tertutupi oleh unsur-unsur yang akan menjadikan God spot tersebut menjadi tertutup/buta dan fungsinya tidak dapat dirasakan oleh pemiliknya. Ada tujuh belenggu yang dapat menutupi God Spot dan perlu diwaspadai serta dibersihkan oleh manusia agar belengu-belenggu tersebut tidak menutup fitrahnya.Tujuh belenggu tersebut adalah Prasangka, prinsip-prinsip hidup, pengalaman, kepentingan, sudut pandang, pembanding, fanatisme. Proses pembebasan atau pembersihan belenggu ini disebut dengan Zero Mind Process.
Zero Mind Process perlu dilaksanakan yaitu dengan; (1) Hindari berprasangka buruk, upayakan berprasangka baik kepada orang lain, berpikir positif pada orang lain;. (2) Berprinsiplah selalu kepada Allah yang maha abadi. (3) Bebaskan diri anda dari pengalaman-pengalaman yang membelenggu pikiran, berpikirlah merdeka tanpa ada tekanan dari sisi manapun. (4) Dengarlah suara hati, peganglah prinsip “karena Allah”, berpikirlah melingkar sebelum menentukan kepentingan dan prioritas. (5) Lihatlah semua sudut pandang secara bijaksana berdasarkan semua suara hati yang bersumber dari Allah. (6) Jernihkan pikiran anda terlebih dulu sebelum menilai segala sesuatu, jangan melihat sesuatu karena rekaan pikiran anda, tetapi lihatlah sesuatu karena apa adanya. (7) Janganlah terbelenggu oleh fanatisme saja.
Zero Mind Process berarti mengembalikan manusia pada fitrahnya.Setelah manusia terbebas dari belenggu berarti manusia siap menghadapi rintangan atau cobaan dengan pertimbangan mampu melihat dengan “mata hati”, mampu memilih, dan memprioritaskan pilihan dengan benar sesuai God spot. Dalam hidup, modal utama adalah kebersihan hati. Karena kebersihan hati akan melahirkan pribadi-pribadi  kreatif, berwawasan luas, terbuka, fleksibel, mampu berfikir jernih, dan God Spot yang bersih tanpa belenggu yaitu God Spot kembali bercahaya.

Setelah kita mengenal tujuh belenggu suara hati kita sedapat mungkin untuk mengantisipasinya dan kita tetap memiliki kejernihan hati yang terbebas dari belenggu. Bagaimana membangun kecerdasan emosi ?  Ada enam(6) Prinsip pembangunan mental,yakni :
1.    Star Principle: parinsip  iman kepada Allah 
Dengan hati nurani yang jernih maka kita akan sadar bahwa didunia ini kita adalah sebagai makhluk Tuhan yang mau, tidak mau kita akan mengakui adanya Tuhan. Hati nurani yang jernih menyadarkan bahwa tidak ada yang lebih baik dari pada Allah, karena hanya Allah yang abadi. Semua yang kita lakukan di dunia atas kehendaknya, manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan menyadari akan  keberadaanya, tidak ada yang dapat menolak kehendak Allah, dengan semau kita sendiri.
2.    Angel Principle: prinsip malaikat.
Kita mempunyai God Spot yang membawa kita berprinsip pada Allah.Setelah itu kita juga harus berprisip kepada malaikat yang sangat dipercaya oleh Tuhan untuk menjalankan segala perintah-Nya yang semuanya hanya mengabdi kepada Allah .Kita harus percaya dan meneladani malaikat sehingga tindakan kita di dunia akan lebih baik. Kita berprinsip memberi seperti malaikat, kita memberi karena God Spot yang memberi bisikan untuk memberi, tidak ada kepentingan apa pun keculai atas kehendaknya. Semua tindakan yang kita lakukan di dunia ini sudah pasti allah akan mengetahuinya.
3.    Leadership Principle: Prinsip Kepemimpinan.   
Prinsip yang selanjutnya adalah prinsip kepemimpinan. Kepemimpinan yang baik sudah diberikan tauladan kepada kita. Sebagai contoh kepemimpinan, kita patut meneladani model kepemimpinan Allah yang melandasi kepemimpinannya dengan kasih dan sayang, integritas yang tinggi, membimbing, konsisten yang dilandasi oleh suara hati yang fitrah sehingga sangatlah pantas jika Tuhan menjadi panutan kita.  
4.    Learning Principle: Prinsip pembelajaran.
Prinsip yang keempat adalah pembelajaran, kita disuruh belajar atau membaca dengan nama Tuhan.Jadi kita membaca/belajar dengan keyakinan bahwa yang kita pelajari adalah ketetapan Alam ciptaan Allah yang maha mengetahui. Yang kita baca atau kita pelajari bukan hanya buku-buku ilmu pengetahuan  saja akan tetapi semua kejadian/peristiwa yang kita hadapi baik dari diri sendiri maupun orang lain di mukabumi ini wajib kita baca/pelajari, yang nantinya dapat kita petik kesimpulan sebagai tauladan, atau peringatan baginya.
Pada intinya kita harus meyakini adanya kitab, dalam agama Islam adalah Al-Quran. ,Katolik dan Kristen pada alkitab  Kita wajib membaca, mempelajari meyakini serta mengaktualisasikan dalam hidup kita.
5.    Vision Principle: Prinsip Masa Depan.
Prinsip selanjutnya adalah pembangunan visi, dalam membangun visi kita harus berlandaskan pada prinsip-prinsip sebelumnya, yaitu mulai dari star principle yang  berlandaskan kepada Allah  berlanjut pada prinsip malaikat yang akan berusaha menjadi orang yang dapat dipercaya sampai dengan prinsip membaca agar kita selalu belajar dan mengadakan perbaikan. Dalam hidup mulailah dengan sebuah tujuan atau visi yang jelas, transparan dan tentunya untuk kebaikan dunia dan akhirat. Karena visi tersebut menjadi doa dan tujuan hidup kita.  Kita membangun visi hidup perlu dikategorikan dalam tiga golongan yaitu: jangka pendek, jangka menegah, jangka panjang. 
Visi dalam hidup tidak terbatas pada dunia saja akan tetapi sampai pada visi jangka panjang yakni setelah kita dipaggil oleh Tuhan, yang nantinya kita akan dimintai pertanggungjawaban prilaku kita ketika hidup dibumi. Buatlah visi yang terbaik dan berikanlah yang terbaik agar kemenangan dapat anda raih, baik di dunia maupun di hari kemudian. 
6.    Well Organized Principle: Prinsip Keteraturan
Dalam prinsip keteraturan kita harus berorientasi pada system dan berupaya menjaga pada system yang telah dibentuk.Tujuan atau visi sebelumnya adalah langkah awal untuk prinsip keteraturan. Visi jangka panjang yaitu hari kiamat sudah pasti akan terjadi, pergantian siang malam sudah pasti. Hal ini menunjukan bahwa hukum alam sudah pasti dan teratur dan harus kita yakini.Setelah kita mempunyai visi kita juga menentukan misi atau langkah untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam menjalankan misi kita juga perlu mempertimbangkan nilai-nilai yang berpengaruh dalam mencapai tujuan yakni nilai yang tidak berubah atau kekal yaitu God Spot.
Hidup itu jangan melanggar ajaran allah mengalirlah seperti air yang mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Karena hidup dan mati pasti akan terjadi, yang terpenting adalah jaga keseimbangan sehingga akan selamat dunia akhirat.

Setelah melakukan Zero mind process (penjernihan emosi), dan Mental Building (membangun mental dengan enam prinsip moral berdasarkan rukun iman), langkah selanjutnya dalam model ESQ 165 adalah bagian ketiga adalah Personal and Social Strength (ketangguhan pribadi dan sosial dengan lima langkah sukses berdasarkan rukun islam). Setelah seseorang membangun konsep spiritualnya yaitu memiliki 6 prinsip moral selanjutnya adalah mewujudkan dalam pelaksanaan pada dimensi fisik (execution), dengan lima pedoman yaitu:
1.    Mission Statement (Penetapan Misi)
Proses penetapan misi dibutuhkan pemikiran mendalam dan hati-hati. Misi yang telah ditentukan hendaknya tidak terpaku pada logika saja, tetapi juga mampu sejalan dengan suara hati serta fitrah manusia (The God Spot).Mission statement yang sesungguhya adalah penetapan misi yang efektif tidak dibuat berdasarkan logika semata, tetapi juga berdasarkan suara hati yang bersumber dari Tuhan.
Kalimat syahadat, cermin komitmen dari 6 prinsip rukun iman adalah kekuatan visi. Pada langkah satu (mission statement) setiap orang menetapkan visi masa depan sebelum melangkah. Apabila keyakinan bersyahadat itu telah ditanamkan kuat-kuat dalam hati, maka keyakinan itu akan berubah bentuk menjadi sebuah energi dahsyat yang mendorong jiwa manusia bergerak mencapai cita-cita. 
Misi manusia yang diikrarkan dalam bentuk syahadat membentuk sebuah tekad dan komitmen yang kuat untuk memenuhi perjanjian antara seorang manusia dengan Allah penciptanya. Syahadat akan membangun sebuah keyakinan dalam berusaha. Syahadat akan menciptakan suatu daya dorong dalam upaya mencapai tujuan.  Syahadat akan membangkitkan keberanian serta optimis, sekaligus menciptakan ketenangan batin dalam menjalankan misi hidup.  
2.    Character Building (Pembangunan Karakter)
Setelah penetapan misi langkah selanjutnya dalam pembangunan karakter adalah dengan proses terus-menerus sepanjang hidup melalui gerak sholat. Setiap gerakan shalat yang dicontohkan Rasulullah SAW tentu sarat dengan hikmah dan manfaat.Syaratnya, semua gerak tersebut dilakukan dengan benar dan tu’maninah (tenang dan khusyu). Melalui sholat, seseorang akan dapat memvisualisasikan prinsip hidupnya, yaitu keenam prinsip moral  dalam pembangunan mental berdasarkan rukun iman.
Sholat membuat pikirannya lebih rileks, dan setelah itu dapat berpikir jernih tentang dirinya, serta menemukan pemecahan-pemecahan masalahnya.Sholat juga memberikan informasi yang dapat membantu seseorang untuk lebih menyelaraskan nilai-nilai positif keimanan dengan realitas kehidupan. Selain itu sholat dapat meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritual, membangun pengalaman positif dan membangun paradigma yang positif, pembangkit dan penyeimbang energi batiniah, dan sholat adalah suatu cara untuk terus mengasah dan mempertajam ESQ yang diperoleh dari rukun iman.
3.    Self Control (Pengendalian Diri)
Perwujudan 6 prinsip moral berdasarkan rukun iman pada dimensi fisik adalah kemampuan pengendalian diri yang dilatih dengan dengan melakukan puasa. Puasa adalah suatu metode pelatihan untuk pengendalian diri, yaitu metode pelatihan rutin dan sistematis untuk menjaga manusia agar tetap memiliki kesadaran diri yang fitrah dan berakhlak mulia.Puasa bertujuan untuk meraih kemerdekaan sejati, dan pembebasan dari belenggu yang tak terkendali. Puasa yang baik akan memelihara aset kita yang paling berharga, yaitu suara hati Ilahiah, dan tujuan hidup sesungguhnya. 
Saat berpuasa, kedepankanlah sifat-sifat fitrah seperti sikap pengasih, penyayang, sabar, mencipta, adil, memberi, sunguh-sungguh dan sifat–sifat mulia lainnya dan tahhan egonya. Dengan ini akan muncul pribadi yang luhur dan tinggi, yang berhati emas, bermental baja dan berfisik beton. 
4.    Strategic Collaboration (Sinergi)
Setelah ketangguhan pribadi terbagun yaitu terbentuk pribadi yang kuat, memiliki prinsip dan integritas tinggi.Langkah selanjutnya adalah mengeluarkan potensi yang ada yaitu melalui zakat (Strategic Collaboration).Zakat mampu membangunkan kecerdasan social manusia, dengan mengangkat suara hati memberi kepada sesame yang kekurangan.
Zakat adalah langkah nyata untuk mengeluarkan potensi spiritual (fitrah) menjadi sebuah langkah nyata guna membangun sinergi yang kuat, yaitu berlandaskan sikap empati, kepercayaan, sikap kooperatif/kerjasama, keterbukaan dan sikap kredibiltas. Zakat yang didasari dengan memberikan potensi suara hati akan menciptakan interaksi dan investasi kepercayaan. Zakat menghasilkan sikap empati, dimana masing-masing pihak mampu merasakan apa yang diinginkan oleh pihak yang lain. Apabila sikap tersebut telah menjadi suatu kebiasaan maka sebuah rangkaian sinergi yang kuat dengan lingkungan sekitar mudah tercipta.
5.    Total Action (Aplikasi Total)
Haji merupakan puncak pelatihan untuk membangun ketangguhan pribadi dan ketangguhan sosial. Haji adalah sublimasi dari keseluruhan rukun iman, dan perwujudan dari langkah rukun islam. Haji juga sebuah langkah nyata dalam penyelarasan suara hati dan aplikasinya. Secara prinsip, haji adalah yang berpusat kepada Allah Yang Maha Esa, dan tidak berprinsip kepada yang lain. Secara social, haji adalah simbol kolaborasi tertinggi, yaitu pertemuan seluruh umat Islam sedunia yang memiliki nilai dasar yang sama, dengan tujuan dasar yang sama. Kesamaan langkah, gerak, dan tujuan yang dilandasi oleh kesamaan prinsip itu adalah syarat terjadinya sinergi yang dahsyat, dan ketangguhan social yang sesungguhnya.
3..Karakter yang Diharapkan untuk bangsa ini
Untuk mencapai karakter bangsa yang diharapkan sebagaimana tersebut di atas, diperlukan individu-individu yang memiliki karakter. Oleh karena itu, dalam upaya pembangunan karakter bangsa diperlukan upaya sungguh-sungguh untuk membangun karakter individu (warga negara).Secara psikologis karakter individu dimaknai sebagai hasil keterpaduan empat bagian, yakni olah hati, olah pikir, olah raga, olah rasa dan karsa..Karakter individu yang dijiwai oleh sila-sila Pancasila pada masing-masing bagian tersebut, dapat dikemukakan sebagai berikut.
1.    Karakter yang bersumber dari olah hati, antara lain beriman dan bertakwa, jujur, amanah, adil, tertib, taat aturan, bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko, pantang menyerah, rela berkorban, dan berjiwa patriotik;
2.    Karakter yang bersumber dari olah pikir antara lain cerdas, kritis, kreatif, inovatif, ingin tahu, produktif, berorientasi ipteks, dan reflektif;
3.    Karakter yang bersumber dari olah raga/kinestetika antara lain bersih, dan sehat, sportif, tangguh, andal, berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif, ceria, dan gigih;
4.    Karakter yang bersumber dari olah rasa dan karsa antara lain kemanusiaan, saling menghargai, gotong royong, kebersamaan, ramah, hormat, toleran, nasionalis, peduli, kosmopolit (mendunia), mengutamakan kepentingan umum, cinta tanah air (patriotis), bangga menggunakan bahasa dan produk Indonesia, dinamis, kerja keras, dan beretos kerja.

C.    Kesimpulan:
1.   Karakter bangsa bukan agregasi karakter perseorangan, karena karakter bangsa harus terwujud dalam rasa kebangsaan yang kuat dalam konteks budaya yang beragam. Pembangunan karakter dan pendidikan karakter menjadi keharusan karena pendidikan tidak hanya menjadikan  cerdas akan tetapi juga berakhlak mulia.
2.  Pendidikan karakter merupakan sebuah proses untuk membentuk, menumbuhkan, mengembangkan dan mendewasakan kepribadian menjadi pribadi yang bijaksana dan bertanggung jawab melalui pembiasaan pikiran, hati dan tindakan secara berkesinambungan yang hasilnya dapat terlihat dalam tindakan nyata sehari-hari.
3.  ESQ model 165 merupakan konsep pemikiran untuk pengembangan karakter dan kepribadian yang digagas berdasarkan nilai-nilai rukun iman, rukun islam, dan ihsan. ESQ 165 bertujuan untuk menghasilkan manusia unggul dalam mengolah emosi, dan spiritual yang mampu mengeksplorasi dan menginternalisasi kekayaan fisik, rasa, dan spiritual.
4.  ESQ model 165 terdiri dari tiga bagian yakni, bagian satu mengenai Zero mind process (penjernihan emosi), bagian kedua mental building (membangun mental dengan enam prinsip moral berdasarkan rukun iman), dan bagian ketiga adalah personal and social strength (ketangguhan pribadi dan sosial dengan lima langkah sukses berdasarkan rukun islam).
5. God Spot akan mempengaruhi seseorang dalam mengambil tujuan inti yaitu tujuan berdasarkan prinsip moral rukun iman. Hanya suara hati yang bersihlah yang akan mampu mengambil dan menggunakan 6 prinsip moral dalam membangun karakter. Suara hati yang terbelenggu tidak mampu mengantarkan seseorang mencapai tujuan. Setelah seseorang melakukan Zero Mind Process barulah bisa menentukan prinsip yang akan digunakan dalam mencapai tujuan yaitu 6 prinsip moral berdasarkan rukun iman. 
6.  Prinsip moral berdasarkan rukun iman yang terdiri dari 6 langkah dalam membangun karakter mempunyai keterkaitan dan saling mempengaruhi. Keterkaitan tersebut adalah ketika seseorang mau menegakan prinsip pertama (star principle) ketika ketauhidan seseorang diujicoba maka harus didukung oleh prinsip kedua dan lainnya dan sebaliknya.  
7.  Personal and Social Strength dengan lima langkah sukses berdasarkan rukun islam. Setelah seseorang membangun konsep spiritualnya yaitu memiliki 6 prinsip moral selanjutnya adalah mewujudkan dalam pelaksanaan pada dimensi fisik (execution), dengan lima pedoman yaitu: Mission Statement, Character Building, Self Control, Strategic Collaboration, dan Total Action. (Monica H)




DAFTAR PUSTAKA :

Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Edisi Keempat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Santroock, J.W. (2008) Educational Psychology, 3nd Edition. New York: Mc Grow Hil Companies, Inc. 
John Mccain,Mark salter,2008”Karakter-Karakter yang Menggugah Dunia”Gramedia Pustaka Utama”Jakarta
Takdiroatun Musfiroh. (2008). Character building. Yogyakarta: Tiara Wacana
Ary Ginanjar Agustian. (2009). Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ, The ESQ Way 165, 1 Ikhsan 6 Rukun Iman 5 Rukun Islam. Arga Publishing,Jakarta:.
Susanto,(2009).”Super Leadership”Gramedia Pustaka utama,Jakarta
Heri Gunawan, S.Pd.I., M.Ag.(2011).” Pendidikan Karakter  Konsep dan Implementasi”
Alfabeta,Bandung
Hamka Abdul Aziz,(2011).”Membangun Karakter Bangsa”Pustaka Al Mawardi.Surakarta,
Supriyoko,(2011)Pendidikan Karakter Membangun Peradaban,Samudera Biru, Jakarta.
Sutarjo Adisusilo,(2012).”Pembelajaran Nilai Karakter”,Rajagrafindo, Jakarta,
Yoyon Bahtiar Irianto(2012),Kebijakan Pembaharuan Pendidikan,Rajawali Press,Jakarta,

Editor:
Apakah informasi di atas cukup membantu?

TERKINI

OPINI