PERILAKU KEAGAMAAN ORANG MADURA DI PERANTAUAN (Studi Kasus di Desa Jatimulya, Tambun Kab. Bekasi Jawa Barat)

23 Jul 2007
PERILAKU KEAGAMAAN ORANG MADURA DI PERANTAUAN  (Studi Kasus di Desa Jatimulya, Tambun Kab. Bekasi Jawa Barat)

PERILAKU KEAGAMAAN ORANG MADURA DI PERANTAUAN 
(Studi Kasus di Desa Jatimulya, Tambun Kab. Bekasi Jawa Barat)

Oleh: Drs. Fathur Rohim 
62 halaman

Badan Penelitian dan Pengembangan Agama
Proyek Penelitian Keagamaan 
Departemen Agama RI, 1996/1997


Pertumbuhan laju penduduk yang relatif tinggi serta semakin berkurangnya lahan pertanian, menjadikan kehidupan pedesaan kurang menarik bagi sebagian penduduk. Dari sekian banyak penduduk pendatang di Jabotabek, orang Madura termasuk salah satu kelompok etnik yang tergolong besar jumlahnya, mereka datang dengan membawa latar belakang pendidikan yang relatif rendah umumnya hanya bermodal ijazah diniyah. Mereka tinggalkan kampung halamannya yang sarat dengan nilai, norma-norma dan aktivitas keagamaan yang telah membentuk sikap dan perilakunya, menuju kota harapan yang penuh tantangan untuk mencoba mengadu nasib.

Tujuan penelitian ini memberikan informasi kualitatif mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penduduk perantau di perkotaan, khususnya tentang orang-orang Madura.

Metode penelitian dilakukan dalam bentuk studi kasus dengan metode kualitatif. Peneliti tinggal di tengah-tengah mereka agar bisa mengamati dari dekat secara langsung aktifitas-aktifitas mereka yang ditekankan pada perilaku keagamaan dalam keseharian.

Hasil penelitian menunjukan bagi orang Madura yang tinggal di lingkungan masyarakat yang cenderung individualistik (perkotaan), interaksi sosial sesama orang Madura tampak menonjol, dan tidak ditemukan interaksi orang Madura dengan non Madura; sedangkan bagi orang Madura yang tinggal di daerah pedalaman, interaksi sosial mereka dengan masyarakat umum lebih menonjol, dan tidak sebaliknya.

Terdapat perubahan perilaku keagamaan bagi orang Madura di perantauan, adakalanya positif (meningkat daripada ketika mereka di Madura), adakalanya negatif (menurun daripada ketika mereka di Madura, tetapi tidak sampai di bawah standar). Hal ini disebabkan oleh faktor motivasi yang ada pada dirinya, baik ekstrinsik maupun intrinsik, karena pengaruh kondisi ekonomi dan lingkungan (ekstrinsik), dan karena pengaruh minat dari dalam dirinya (intrinsik).

Hasil penelitian menyarankan kepada pihak-pihak yang berwenang agar banyak memberi bimbingan dan penyuluhan keagamaan kepada masyarakat perantau, untuk menghilangkan kesan bahwa agama mengenal RAS. Kepada para peneliti yang ingin mengetahui informasi tentang Madura, hendaknya jangan puas dengan apa yang ada dalam teks literatur semata, melainkan perlu mengenal secara empiris.***   

Editor:
Apakah informasi di atas cukup membantu?

TERKINI

OPINI