Top
    sisinfobalitbangdiklat@kemenag.go.id
(021) 3920663, 3920668
Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan: Sebuah Novel Biografi

Judul Buku Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan: Sebuah Novel Biografi
Pengarang Tasaro GK
Penerbit Bentang
Tahun 2010
Deskripsi

Penulis buku ini dengan nama lengkap Taufik Saptoto Rohadi yang lahir di Gunung Kidul alias Tasaro GK, mengajak pembaca untuk menikmati sebuah petualangan perjalanan religius sekaligus petualangan menikmati perjuangan Baginda Muhammad dan para sahabatnya dalam penyebaran Islam. Sebagaimana seorang  muslim mencintai Nabinya, maka Tasaro mengungkapkan kecintaan kepada Nabi Muhammad melalui kisah-kisah yang dituangkan dalam novel ini.

Cerita yang dituangkan Tasaro dalam novel ini berusaha mendekatkan pembaca dengan para pelaku yang dikisahkan cerita.  Karena itulah Tasaro menyisipkan cerita lain dalam sejarah, lebih kepada cerita fiksi agar pembaca lebih menikmati alur cerita. Jadi pada saat menceritakan tentang Makkah, pada saat yang bersamaan Tasaro juga menceritakan daerah lain di luar Makkah termasuk Romawi dan Persia. Hal ini agar pembaca mendapatkan pengetahuan dan pandangan yang luas tentang dunia Arab dan sekitarnya saat itu. Tentu saja cerita yang disisipkan tersebut juga melalui berbagai riset agar tidak menyalahi sejarah aslinya.

Novel ini menceritakan dua kisah. Kehidupan Nabi Muhammad SAW, dan seorang laki-laki Persia bernama Kashva, yang hidup di abad yang sama dengan masa kenabian. Kisah Nabi Muhammad SAW ini berseling dengan kisah Kashva. Dalam novel ini Tasaro selalu menyebut Rasulullah dengan julukan-julukan indah seperti Duhai yang Hatinya Bercahaya, Wahai Lelaki yang Jitu Perhitungannya, Duhai, Lelaki yang Tak Pernah Mendendam, Wahai Penghulu Manusia Utama, dan beberapa julukan lainnya.

Kisah-kisah indah tentang Rasulullah diramu dengan apik oleh penulis buku ini. Kisah Rasulullah SAW adalah kisah tentang cinta, perjuangan, dan pengorbanan. Sebuah kisah tentang penjungkirbalikkan peradaban jahiliah, digantikan dengan peradaban Islam yang gilang gemilang selama 14 abad. Sederetan kisah itu, diantaranya pada kisah perang parit yang mempesona dan mukjizat-mukjizat yang mencengangkan.

Saat sebuah batu besar menghalangi proses penggalian parit sebagai benteng pertahanan Madinah dari serbuan kaum kafir. Batu besar itu menghimpit orang Anshar. Orang-orang sudah mencoba memecahkan batunya, Namun hasilnya nihil. Rasulullah akhirnya turun tangan, memecahkan batu besar yang seketika retak disertai berkas cahaya berpendar ke tiga arah, kastil-kastil Yaman dan Suriah, serta istana-istana Khosrou di Persia.

Juga kisah tentang perang Uhud dan perang Badar di mana Muhammad terlibat di dalamnya.  Ini adalah perang yang sungguh-sungguh tak bisa dihindari oleh Muhammad demi kelestarian sebuah ajaran yang diwahyukan Allah kepadanya. Kisah ini berhasil menggambarkan kondisi perang yang membuat pembaca  merasa seperti terlibat di dalamnya. Mencium bau amis darah dan merasakan tebasan pedang.

Tak kalah indah, kisah seorang lelaki dengan penuh kasih sayang melunakkan makanan dalam rongga mulutnya untuk kemudian disuapkan kepada seorang pengemis buta dan renta. Setiap pagi pula, lelaki yang selalu membawakan makanan untuk pengemis itu akan dijejali dengan nasihat yang sama. “Jangan engkau mendekati Muhammad karena dia orang gila, pembohong, dan tukang sihir! Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya.” Selalu begitu setiap pagi, hingga si pengemis itu kenyang dan merasa bahwa ia telah membalas kebaikan lelaki itu dengan nasihat-nasihat yang selalu sama setiap pagi. Kelak, pengemis itu kemudian mengetahui bahwa lelaki yang telah menolongnya untuk bertahan dan melanjutkan hidup itu adalah lelaki yang sama yang selalu disebutnya orang gila, pembohong, dan tukang sihir. Lelaki itu adalah Muhammad Rasulullah.

Juga kisah lainnya saat  Muhammad Rasulullah ‘terusir’ dari Makkah, diboikot, ancaman pembunuhan dan sejenisnya atau ‘transformasi’ Umar bin Khattab dari pembenci menjadi sahabat Muhammad, pembela Islam sejati. Pada akhir novel juga dikisahkan tentang runtuhnya Berhala dengan deskripsi yang detil lewat kata-kata yang indah.

Sementara itu secara berseling, juga diceritakan kisah Kashva.Seorang pria Persia yang tinggal di Kuil Gunung Sistan pada masa pemerintahan Kaisar Khosrou di Persia. Ia menghabiskan hari-harinya dengan mengamati bintang dan menerjemahkannya. Ia menulis kisah-kisah indah yang memukau. Ia dijuluki rakyat Persia, sebagai Sang Pemindai Surga.

Kashva rajin berkorespondensi dengan teman-temannya dari berbagi negara di luar Persia. Teman koresponden khususnya adalah Elyas, seorang penjaga Biara Bashra di Suriah. Di sini banyak berisi percakapan-percakapan lintas agama. Mereka membicarakan seseorang yang kehadirannya diramalkan oleh berbagai keyakinan di dunia di abad tersebut. Seseorang yang dikatakan akan menaklukan dunia dan membawa kedamaian bagi seluruh alam. Sosok yang namanya ternubuat dalam ajaran Zoroaster yang diimaninya sebagai Astvat-Ereta. Nabi yang dalam kitab-kitab suci agama lain disebut Himada, Shalom, Namiuchi, dan Maitreya.

Hasratnya Kashva ingin  bertemu dengan Muhammad SAW sedemikian besar. Hal ini membawanya pada petualangan panjang yang mendebarkan dengan taruhan nyawa. Maut yang mengintai dari ujung pedang tentara Khosrou tidak menyurutkan kerinduannya bertemu Muhammad SAW. Kisah pencarian Kashva dalam novel ini mengajak pembaca  menelusur Jazirah Arab, India, Barrus, hingga Tibet.

Dikisahkan Kashva meninggalkan Khosrou, sang penguasa Persia tempatnya mengabdikan hidup. Dia ingin mencari Muhammad SAW, seorang lelaki yang Al-Amin, pembawa rahmat bagi semesta alam, pembela kaum papa, dan penguasa yang adil kepada rakyatnya. Kehidupan Kashva setelah itu berubah menjadi pelarian penuh kesakitan dan pencarian yang tiada henti terhadap sosok yang dijanjikan. Kashva mencari Seorang Pangeran Kedamaian yang dijanjikan oleh semua kitab suci. Sosok  yang dia cari dari setiap ungkapan ayat-ayat Zardusht sampai puncak-puncak salju di perbatasan India, Pegunungan Tibet, biara di Suriah, Istana Heraklius, dan berakhir di Yatsrib, sang Kota Cahaya.

Novel ini membuat pembaca ingin terus mengikuti kisah-kisahnya dalam buku selanjutnya. Novel ini adalah sebuah fiksi-sejarah agama. Bagian tentang Kashva adalah fiksi sedangkan kisah tentang Muhammad adalah sejarah Islam. Ini merupakan perpaduan format penceritaan yang menarik, termasuk dengan adanya gambar peta jalur perjalanan Kashva dan daftar Pustaka yang membuat novel ini kaya akan referensi.

Secara keseluruhan novel ini menarik dan enak untuk dibaca, meskipun tebal. Bahkan, pembaca diajak untuk mengikuti terus kisahnya dan melanjutkan membaca ketiga buku berikutnya dari Serial Muhammad SAW yakni Lelaki Pengeja Hujan, Sang Pewaris Hujan, dan Generasi Penggema Hujan. []

 

Hariyah/diad