Top
    sisinfobalitbangdiklat@kemenag.go.id
(021) 3920663, 3920668

SURVEY TINGKAT DROP OUT PENDIDIKAN DASAR DI MADRASAH

Senin, 5 Februari 2007
Kategori : Kajian Akademis Pendidikan Keagamaan
286 kali dibaca

SURVEY TINGKAT DROP OUT PENDIDIKAN DASAR DI MADRASAH

Lisakdiyah dkk.,

Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, 2006, 100 hlm.



Dalam memerankan pelaksanaan Program Wajar Dikdas 9 Tahun tersebut, salah satu permasalahan  yang dihadapi dalam program penuntasannya adalah adanya siswa yang Drop Out. Karena dengan adanya siswa Drop Out akan berpengaruh terhadap pengukuran APK dan APM kemampuan madrasah dalam menyerap peserta wajar. Selain itu juga tinggi rendahnya siswa Drop Out dari madrasah akan mengindikasikan berhasil tidaknya pelaksanaan wajar. Pada realitasnya, Angka Drop Out siswa madrasah pada tahun ajaran 2004-2005 ternyata masih tinggi terutama pada siswa tingkat MTs yaitu masih terdapat 1,36% dari jumlah siswa 28.866. Di tingkat MI angka Drop Out lebih rendah di banding MTs yaitu 0,71 % dari 22,489 siswa

Penelitian ini adalah ingin mencari faktor dominan yang manakah yang menjadikan siswa drop out dari madrasah. Faktor internal atau faktor eksternal?. Survey ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Peta kecenderungan angka drop out siswa madrasah untuk tiga tahun terakhir pada masing-masing daerah survey; 2) Faktor-faktor dominan yang berkontribusi besar pengaruhnya terhadap tingkat drop out siswa madrasah; 3) Solusi-solusi yang telah dilakukan madrasah dan pemerintah untuk menekan angka drop out siswa madrasah.

Penelitian ini dilakukan pada 14 propinsi, yaitu  Nangro Aceh Darussalam, Sumatra Utara, Jambi, Lampung, Jawa Barat, D.I Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, NTT, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Maluku. Alasan pemilihan lokasi adalah: (1) berdasarkan wilayah administrasi dan letak geografis yang bisa mewakili  wilayah negara Indonesia yang terbagi dalam kawasan (region) Indonesia Barat (Sumatera, Jawa), Indonesia Tengah (Kalimantan), dan Indonesia Timur (Sulawesi, Gorontalo dan Maluku); (2) daerah sasaran penelitian adalah daerah-daerah yang memiliki jumlah  madrasah relatif banyak, dan  diduga drop out siswa madrasah terjadi di wilayah tersebut.

Penelitian ini berkesimpulan sebagai berikut : 1) SSE adalah faktor yang paling dominan penyebab Drop Out. Hasil analisis korelasi antara tingkat SSE orang tua dengan tingkat DO siswa menunjukkan hubungan yang bersifat negatif (semakin rendah tingkat SSE ortu semakin tinggi tingkat DO siswa), tingkat hubunganya menunjukkan hubungan yang subtansial; 2) Hubungan Kesadaran Orang Tua terhadap Pentingnya Pendidikan Anak dengan Tingkat DO diperoleh hasil yang  menunjukkan hubungan yang bersifat negatif (semakin rendah kesadaran orang tua akan semakin tinggi tingkat DO), tingkat hubungannya rendah tapi pasti; 3) Hubungan Kondisi Lingkungan Belajar Siswa dengan tingkat DO menunjukkan adanya hubungan yang bersifat negatif (semakin rendah kondisi lingkungan semakin tinggi tingkat DO), tingkat hubungannya  rendah tapi pasti; 4) Hubungan Motivasi Belajar di sekolah dengan Tingkat DO diperoleh hasil yang  menunjukkan hubungan yang bersifat negatif (Semakin rendah Motivasi belajar semakin tinggi tengkat DO), Tingkat hubungannya bisa diabaikan; 5) Hubungan Tingkat Kemampuan/kecerdasan Siswa dengan Tingkat DO diperoleh hasil yang menunjukkan hubungan yang bersifat negatif (semakin rendah tingkat kemampuan/kecerdasan semakin tinggi tingkat DO), tingkat hubungannya rendah tapi pasti; 6) Hubungan Tingkat Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dengan Tingkat DO diperoleh hasil yang menunjukkan hubungan yang bersifat negatif(semakin rendah tingkat kesempatan semakin tinggi tingkat DO), tingkat hubungannya bisa diabaikan

Solusi dalam menekan Drop Out yang pernah dilakukan oleh Madrasah yaitu: Memberi beasiswa bagi yang bersemangat sekolah dan miskin, Subsidi silang dalam pembiayaan sekolah, penyuluhan terhadap pentingnya pendidikan, Home Visit dan Pengadaan Sarana Transportasi (kasus Gorontalo). Dilakukan  Masyarakat, antara lain pemberian biasiswa melalui perusahaan (kasus NTT). Sedang dari Pemerintah selama ini sudah melakukan BKM, JBS, DBEP/ADB, BOMM, KBBS-1, KBBS-2, BLT, BOS, dan GN-OTA.

Penelitian ini merekomendasikan  1) Perlu dilakukan upaya menekan angka Drop Out siswa Madrasah yang disebabkan oleh SSE orang tua, melalui intensifikasi program PKPS BBM berupa BOS dan BKM  secara merata dan tepat sasaran; 2) Perlu pembentukan MTs Kecil bagi lulusan MI di daerah terpencil dan terisolasi; 3) Perlu dilakukan sosialisasi pentingnya pendidikan sebagai persiapan masa depan anak di wilayah-wilayah tertentu; 4) Perlu ditingkatkan jalinan kerjasama dengan lembaga-lembaga yang dapat membantu pembiayaan pendidikan bagi anak-anak dari kalangan SSE rendah. Misalnya melalui: a) Penyelenggaraan dana Kemandirian Madrasah; b) Pemberdayaan dana Zakat, Infak dan Shodakoh secara produktif bagi keluarga miskin yang sulit membiayai pendidikan dengan cara mengembangkan usaha keluarga (bukan dana konsumtif); c) Menggiatkan bimbingan dan penyuluhan dalam rangka meningkatkan ekonomi keluarga bagi masyarakat yang kurang mampu; 5) Perlu segera direalisasikan program pendidikan gratis untuk siswa pendidikan dasar MI/MTs.


Sumber :

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP