Top
    sisinfobalitbangdiklat@kemenag.go.id
(021) 3920663, 3920668

AGAMA DALAM DIMENSI SOSIAL DAN BUDAYA LOKAL DI PROPINSI JAWA TENGAH

Selasa, 27 Januari 2009
Kategori : Kajian Akademis Kehidupan Beragama
2238 kali dibaca

AGAMA DALAM DIMENSI SOSIAL DAN BUDAYA LOKAL DI PROPINSI JAWA TENGAH

Oleh:H. Hamdar Arraiyah H. Juhardi, AS M. Shohib Tahar Bahari

Tradisi ziarah ke makam orang-orang terkemuka di Tanah air telah berlangsung cukup lama, yakni tradisi yang juga pernah semarak di dunia Islam. Namun, banyak peziarah yang melakukan penyimpangan dari segi akidah Islam. Situasi tersebut mendorong gerakan pemurnian yang dilakukan Muhammad Abdul Wahab untuk menghancurkan tradisi yang menyimpang. Di lain pihak tradisi ziarah masih terus dilestarikan, yang juga didasarkan kepada teks suci Al-quran. Karena apa yang mereka lakukan bukan meminta kepada arwah, melainkan kepada Allah. Bahkan dalam perkembangannya kegiatan berziarah ini cenderung dimanfaatkan untuk meningkatkan arus wisata alam dan wisata budaya.

Apalagi pada saat bangsa Indonesia mulai merasakan peningkatan kesejahteraan hidup tradisi ini menunjukkan gejala peningkatan, para pelaku pun cukup beragam dengan berbagai strata sosial. Kajian ini difokuskan pada usaha menangkap dan memahami perwujudan keagamaan masyarakat di berbagai lokalitas dan perspektif kebudayaan atau tradisi lokal yang dihubungkan dengan pemenuhan kebutuhan hidup dan usaha integrasi sosial.

Empat wilayah pedesaan dipilih sebagai sasaran penelitian masing-masing adalah Desa Piji, Kandang Mas, Ternadi dan Colo yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Kudus Propinsi Jawa Tengah. Studi ini menggunakan pendekatan holistik kualitatif, dengan menerapkan metode penelitian partisipan yang didukung teknik wawancara mendalam dan observasi secara langsung. Melalui analisis diskriptif diperoleh beberapa temuan.

Pada lokasi Desa Piji ditemukan: pertama, makam seorang wali bernama Syekh Amir Ibrahim Al Iraqy oleh peziarah dijadikan sebagai wasilah (perantara) dalam menyampaikan doa kepada Allah. Kedua, berziarah kepada wali hukumnya sunnah, karena wali memiliki sejumlah karomah yang dapat menolong orang yang masih hidup. Ketiga, ziarah ke makam sebaiknya dilakukan sebelum menyelenggarakan hajat. Bila tidak dilaksanakan biasanya akan ada di antara keluarganya yang mengalami kesurupan. Keempat, para peziarah biasanya membaca surat Yasin, tahlil, doa, dan adakalanya melakukan selamatan di makam. Kelima, berziarah ke makam salah seorang walisongo ini merupakan salah satu cara antuk mendekatkan umat kepada agamanya dengan menanamkan kecintaan kepada wali Allah.

Pada lokasi Desa Kandangmas ditemukan: pertama, masyarakat masih mempercayai adanya kekuatan gaib, makhluk halus yang terdapat di pohon-pohon besar, batu-batu besar dan tempat-tempat keramat. Kedua,makhluk halus ini suka mengganggu bahkan ada yang menimbulkan penyakit, untuk pengobatannya harus melalui paranormal atau dukun.Ketiga, menurut pengikut tariqah, ziarah kubur itu sunah Nabi yang dianjurkan kepada umat Islam untuk mengingat mati. Keempat,sebagian masyarakat memandang ziarah kubur sebagai sarana silaturahmi antara peziarah dengan yang diziarahi. Dalam kesempatan itu peziarah dapat pula meminta bantuan kepada orang yang diziarahi untuk memecahkan persoalan. Kelima, dua kuburan yang dianggap keramat oleh masyarakat adalah Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku. Tata cara berziarah dilakukan selama 7 kali berturut-turut setiap hari Kamis malam Jumat dan diakhiri dengan acara selamatan kurmat Rasul disertai penyediaan tumpengan, makanan kecil serta perlengkapan kecantikan. Keenam, berziarah ke makam ini harus melalui juru kunci.

Dalam upacara haul dan upacara ziarah makam Mbah Kaliyatno di Desa Ternadi ditemukan : pertama, upacara haul diselenggarakan setahun sekali setiap tanggal 10 Syura bertempat di lokasi makam. Tempat upacara harus bersih dari perzinaan, minuman keras, dan perjudian, jika di langgar akan mengalami kegagalan dan bencana. Kedua, selain itu dilakukan pula tradisi dukar bersama atau makan bersama, dengan makanan dan lauk pauk yang disiapkan dalam jumlah besar. Persiapan luwur makam, yang meliputi penggantian kain penutup dan tiang penyanggah dilakukan pada tanggal 9 Syura. Ketiga, bagi warga desa setempat Mbah Kaliyitno dianggap sebagai pepeunden yaitu leluhur yang dihormati dan dimuliakan. Para peziarah selalu membawa sedekah disertai dengan pisang mas sebagai syarat sesaji. Keempat, aktivitas berziarah ke makam sang tokoh disebut dengan istilah minggah artinya naik. Fungsi makam adalah sebagai pengikat emosional pengunjung sekitarnya sehingga mereka hidup rukun. Selain itu terdapat rasa kebanggaan bagi masyarakat sekitarnya karena memperoleh kehormatan tersendiri dan di lain pihak memiliki keberuntugan ekonomi.

Temuan yang terdapat di Desa Colo yaitu : pertama, doa yang diartikan sebagai permohonan kepada Tuhan. Secara empirik pada masyarakat Colo dikaitkan dengan berziarah ke makam Sunan Muria. Kedua, mereka berziarah melakukan doa meminta keselamatan di cungkup makam Sunan Muria atau mendatangi masjid Sunan. Ketiga, perilaku tersebut erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat Colo bahwa roh Sunan Muria masih hidup, roh inilah yang akan memperlancar doa umatnya kepada Tuhan. Mereka menganggap roh Sunan Muria adalah suci yang akan mendengarkan setiap doa umatnya. Keempat, ulama Colo mewajibkan bagi laki-laki berziarah ke makam. Dan berdasarkan tradisi yang telah di warnai budaya masyarakat setempat, mereka yang mempunyai nazar akan melakukan prosesi ziarah dengan bertahlil dan berdoa untuk meminta keselamatan dan ketentraman. Setelah itu mereka memotong ayam untuk dimakan bersama keluarga. Kelima, Selain itu, ada pula yang memandang meminum airnya sebagai keramat dari Sunan Muria yang dapat menyembuhkan sakit. Keenam, terdapat pula kepercayaan masyarakat terhadap buah parit jotoh yaitu sejenis buah buni yang rasanya pahit dan sepet, dapat memiliki khasiat bagi perempuan hamil akan memperoleh anak yang cantik atau tampan. Untuk itu dia harus membaca Alquran yang terdiri dari surat Yusuf dan Maryam bila akan memakannya. Ketujuh, air yang tersimpan dalam gentong diyakini sebagai air keramat yang membawa keberkahan. Bagi mereka yang berminat untuk minum di awali dengan berdoa kepada Allah melalui Sunan Muria.***

 


Sumber :

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP