Top
    sisinfobalitbangdiklat@kemenag.go.id
(021) 3920663, 3920668

AGAMA DAN PEMBANGUNAN DESA

Senin, 19 Februari 2007
Kategori : Kajian Akademis Kehidupan Beragama
1727 kali dibaca

AGAMA DAN PEMBANGUNAN DESA; 
Studi Tentang Tradisi Rasulan di Desa Kemadang Dalam kaitannya Dengan Pembangunan Desa



Haidlor Ali Ahmad
75 halaman

Balai Penelitian Agama dan Kemasyarakatan
Departemen Agama RI
1992-1993


Agama pada dasarnya memiliki otoritas tersendiri bagi pemeluknya melalui seperangkat nilai dan norma yang ada pada ajarannya. Pembangunan di bidang agama dimaksudkan untuk memberikan dukungan bagi usaha-usaha pembangunan kehidupan beragama agar sesuai dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat yang senantiasa mengalami proses transformasi sebagai akibat adanya pembangunan, di samping menjadikan agama sebagai pendukung keberhasilan pembangunan yang ada. Dengan kata lain keberhasilan pembangunan bidang agama akan terkait dengan keberhasilan bidang lain serta sejauh mana agama mampu memberikan dukungan terhadap pembangunan bidang-bidang lain tersebut.

Ulasan penelitian kasus ini bertujuan untuk mendapatkan informasi dan gambaran utuh tentang tradisi yang masih hidup dan berkembang di masyarakat Kemadang dan mengidentifikasi serta merumuskan keterikatan antara tradisi keagamaan (sebagai sumber tradisi).

Rasulan sebagai aset budaya memiliki nilai strategis yang menarik berbagai kalangan, baik dari kalangan birokrat maupun agamawan, yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembangunan baik pembangunan fisik maupun pembangunan mental spiritual. Dari kalangan birokrat, rasulan dikemas dalam satu paket wisata yang dijual bersama obyek wisata pantai baron. Sedangkan dari kalangan agamawan (Kristen dan Hindu), rasulan dimanfaatkan sebagai penyebaran agama. Di pihak Islam tertentu, rasulan dipandang sebagai hal yang bertentangan dengan akidah. Sedangkan kalangan tradisional berusaha mempertahankan keaslian rasulan sesuai dengan nilai keagamaan (agama rakyat) yang terkandung di dalamnya.

Oleh karena rasulan mempunyai nilai strategis sebagai tameng untuk membendung masuknya budaya asing dan sebagai cagar Bahasa Jawa yang baik karena rasulan menggunakan Bahasa Jawa halus (kromo inggil). Di samping itu untuk menarik berbagai kalangan sesuai dengan kepentingan masing-masing, maka kepada pihak-pihak yang berkepentingan (pemerintah dan kelompok masyarakat) hendaknya dapat ikut serta mempertahankan daya tarik rasulan agar tetap menarik bagi masyarakat pendukungnya dan masyarakat luas sekiranya rasulan dikemas dalam paket wisata.***

 


Sumber :

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP