Berorientasi Kuantitas, Kerangka Kerja Beragama Belum Mengarah Pada Kualitas

15 Jun 2023
Berorientasi Kuantitas, Kerangka Kerja Beragama Belum Mengarah Pada Kualitas
Kaban Suyitno pada Pelatihan Penggerak Moderasi Beragama Angkatan IV,V, VI, dan VII yang diselenggarakan Balai Diklat Keagamaan (BDK) Bandung, di Bandung, Kamis (15/6/2023).

Bandung (Balitbang Diklat)---Semua agama mengajarkan nilai-nilai yang positif, moderat. Tetapi beragama belum tentu moderat.

“Moderasi sejatinya merupakan pesan primordial. Pada 80an ada konsep Tri Kerukunan yang digelorakan  Menteri Agama Alamsyah. Moderasi merupakan recharging atas konsep demikian,” ujar Kepala Badan (Kaban) Litbang dan Diklat, Prof. Suyitno, saat memberikan materi pada Pelatihan Penggerak Moderasi Beragama Angkatan IV,V, VI, dan VII yang diselenggarakan Balai Diklat Keagamaan (BDK) Bandung, di Bandung, Kamis (15/6/2023).

Menurut Kaban, muatan moderasi yang diwujudkan senapas dengan pesan Abduh yang menyatakan dia melihat orang Islam banyak di negeri Arab (negerinya Abduh). Namun, tidak melihat Islam. Sementara Abduh justru melihat Islam ada di Eropa meskipun sulit menemukan orang Islam.

“Dia sejatinya menyatakan di negeri Islam sulit menemukan praktik-praktik nilai keislaman. Artinya, kerangka kerja beragama kita masih berorientasi kuantitas, belum kualitas,” imbuh Kaban.

Keberagamaan, lanjut Kaban, memiliki irisan dengan konteks dan budaya setempat. Seperti halnya Muslim Indonesia memiliki tampilan khas. “Maka, tidak sewajarnya jika kemudian ada klaim otentisitas dan otoritas yang ekstrem seperti takfiri. Hal ini akan memicu disharmoni dan disintegrasi di tengah bangsa yang majemuk,” ungkap Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang ini.

Pada kesempatan ini, Kaban juga mengingatkan dalam memasuki tahun politik ini banyak hal yang harus diwaspadai.

Oleh karena itu, penting bagi ASN Kemenag untuk mewaspadai politik identitas.Bukan berarti tidak boleh punya identitas. “Namun, jangan ada polarisasi tertentu atas nama identitas yang bermuara pada perpecahan. Termasuk yang sensitif adalah identitas agama untuk kepentingan politik,” tegas pria kelahiran Tulungagung ini.

Berdasarkan pengalaman empirik, betapa bangsa ini harus menanggung beban warisan dari politik identitas yang beririsan dengan agama. “Maka, melalui penggerak Moderasi Beragama (MB) ini nanti diharapkan mampu memperluas resonansi beragama yang moderat yang pada gilirannya berkontribusi memelihara harmoni dan kerukunan di tengah umat,” pungkas Kaban. (Firman Nugraha)

 

 

Penulis: Firman Nugraha
Editor: Abas/Sri Hendriani/Dewi Indah
Apakah informasi di atas cukup membantu?

TERKINI

OPINI