Top
    sisinfobalitbangdiklat@kemenag.go.id
(021) 3920663, 3920668
Bibliobattle,  Semangat Literasi Awal Tahun
Foto: Filman Ghaida

Bibliobattle, Semangat Literasi Awal Tahun

Selasa, 14 Januari 2020
Kategori : Berita
67 kali dibaca

Jakarta (Balitbang Diklat). Mengawali tahun 2020, Perpustakaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama menggelar acara Bibliobattle. Acara ini diharapkan menjadi awal tahun yang berkah dan penuh semangat.

“Bibliobattle adalah permainan mereview buku yang dikembangkan oleh Graduate School of Informatics di Universitas Kyoto di Jepang. Permainan ini booming di Jepang sekitar tahun 2013 dan sudah menyebar di seluruh dunia. Orang yang menyajikan buku dalam bibliobattle disebut bibliobattler atau presenter buku,” ujar Hariyah Pustakawan Balitbang Diklat di Jakarta, Selasa (14/01).

Bibliobattle merupakan kompetisi mereview buku yang telah dibaca dalam waktu terbatas. Review buku disampaikan secara lisan tentang isi buku yang paling menarik supaya audiens juga berkeinginan mengetahui isi lengkap buku yang dimaksud. Bibliobattle mempunyai Motto yaitu: ”Know People through Books, Know Book Through People” (Mengenal orang melalui buku, mengenal buku melalui orang). 

Sementara itu, Kepala Bagian Umum dan Perpustakaan Anshori mengatakan bibliobattle diharapkan menjadi bagian yang integral bagi para pemustaka khususnya ASN di lingkungan Kementerian Agama.“Bibliobattle diharapkan dapat meningkatkan gairah membaca, mendengar, knowledge sharing,  dan saling menghargai sehingga akan membentuk masyarakat yang literate dan moderat. Individu yang tahu akan kebutuhan informasinya serta  mampu menggunakan informasi yang dimilikinya untuk kemajuan dan kesejahteraan hidupnya,  bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” ungkap Anshori.

Kegiatan hari ini merupakan bibliobattle kali ketiga yang dihelat Perpustakaan Balitbang Diklat. Review buku diikuti oleh para pemustaka dari lingkungan Unit Eselon I sebagai presenter.

Bibliobattle kali ini diikuti oleh lima presenter yaitu Yustinus Ari Wijaya dari Bimas Katolik, Edijun dari Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, Syafaat Muhammad dari Bimas Islam, Willa Widharari, dan Musthofa Asrori dari Balitbang Diklat. Tampak hadir pula peneliti senior, Kustini dan Ibnu yang terlihat antusias menikmati acara ini. 

Yustinus Ari memaparkan buku Anti Mainstream Marketing: 20 Jurus Mengubah Banyuwangi yang diterbitkan oleh Gramedia. Buku ini diluncurkan oleh Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas. Buku ini berupaya mendokumentasikan semua ikhtiar dari pemerintah kota Banyuwangi dengan jatuh bangunnya membangun daerah. Buku ini  memaparkan 20 prinsip kreatif mengembangkan Banyuwangi dengan pendekatan-pendekatan yang tak lazim. Di dalamnya ada 20 jurus yang dipetakan dari sisi strategi, inovasi, dan leadership. Sejumlah pendekatan anti-mainstream yang dikerjakan di Banyuwangi antara lain pada setiap Kantor Dinas, antara lain Dinas Pariwisata: Dari Kota Santet Menuju Kota Internet; Semakin Terbawah Semakin Prioritas Teratas; Semakin Misteri Semakin Diminati; Semakin Tersembunyi Semakin Dicari, hingga Rumah Sakit Bukan Tempat Orang Sakit.

Kemudian ada Edijun yang memaparkan buku karya Kuntowijoyo yang berjudul Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. Kuntowijoyo adalah seorang sejarahwan. Ini merupakan buku ilmiah yang masih relevan dalam melihat dan memahami dinamika  permasalahan umat dan bangsa. Melalui buku ini Kuntowijoyo hendak mengatakan bahwa dengan pemahanan yang tepat maka wahyu Islam bisa ditangkap maknanya dan dipahami dengan baik.

Buku ini merekam hampir semua tema penting pemikiran keislaman Kuntowijoyo, terutama mengenai realitas historis dan empiris Islam di Indonesia. Adanya interpretasi-interpretasi tematik untuk memahami Islam adalah sebagai wujud adanya koherensi historis Islam di Indonesia. Analisisnya mengenai proses transformasi sosial umat Islam dalam suatu kurun panjang sejarah—sejak zaman Demak hingga Orde Baru—merupakan temuan yang paling penting dari kajian historisnya itu. Dari sinilah, Kuntowijoyo tidak saja berhasil menawarkan semacam pendekatan baru dalam kajian-kajian keislaman yang selama ini cenderung didominasi oleh pendekatan normatif, tetapi juga memberikan kerangka paradigmatik untuk menafsirkan apa yang sedang terjadi, dan ke mana gerakan transformasi tersebut sebaiknya diarahkan.

Tak kalah juga adalah buku yang disampaikan oleh Syafaat, Moderatisme Islam: Kumpulan Tulisan Para Penggerak Moderasi Beragama. Buku ini memotret mengenai Moderasi Beragama dari persektif mereka yang berkecimpung dalam kehidupan umum masyarakat. Para penulis tersebut ada yang berasal dari Banten, Bandung, Jogjakarta dan Jawa Timur. Mereka bisa disebut  komunitas wasatha’, yaitu komunitas yang secara istikamah berpihak pada kebenaran dan keadilan sehingga dua karakter itu melekat pada diri mereka. Makna moderasi beragama dimaknai oleh pemikiran dari orang paling sederhana dan kecil yang tak kalah pengalamannya dalam memaknai dan mengamalkan nilai-nilai moderasi beragama secara universal. Para penulis dalam buku ini seolah menyampaikan pesan bahwa menjadi orang yang moderat adalah seperti orang yang mendayung di tengah lautan. Untuk mencapai tujuan harus menyiasati arah angin dan bermain-main dengan dayungnya untuk mengantisipasi ombak dan arus air. 

Kemudian Willa Widharari yang menceritakan sebuah novel dengan judul Love Story karya Ollyjayzee. Novel ini pebuh dengan kisah-kisah yang sarat emosi. Mengajak pembaca untuk menghayati sebuah dunia konstruksi dengan segala dimensinya. Melalui tokoh utamanya, Rara, seorang kepala divisi civil engineering dan Rahman, project manager pada proyek pembangunan jalan tol, beserta seluruh timnya, pembaca akan berkenalan dengan kehidupan para pekerja yang selama ini selalu diidentikan dengan dunia yang keras dan penuh persaingan. Para tokoh dalam novel ini digambarkan seluk-beluknya mewujudkan misi dalam menyelesaikan pekerjaan, menghadapi konflik internal, persaingan untuk mendapatkan jabatan, korupsi, negosiasi, hingga bencana alam. Perjuangan para tokoh untuk mencapai ambisinya, serta pengorbanan yang harus mereka lakukan, hingga tiba di titik tertinggi ambisi mereka. Ketika pekerjaan lebih dari sekedar pengabdian. Ketika pekerjaan menjadi sebuah pelarian. Dan tentu saja, selalu ada kisah cinta yang terselip di baliknya. Bagai sebuah lampiran tak terpisahkan, yang akhirnya bisa menjadi jalan keluar untuk menyelesaikan semua hal yang selama ini selalu menjadi ganjalan.

Terakhir, Musthofa Asori yang menceritakan novel berjudul Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shiarzy. Novel ini bercerita tentang seorang pemuda Indonesia yang mencari ilmu jauh di tanah Arab. Berbekal iman yang kuat dan ketabahan, Fahri mengalami banyak hal yang menggetarkan hidupnya. Novel ini berisi kisah cinta dengan latar belakang agama Islam dalam kehidupan. Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al-Azhar. Ia harus berkutat dengan berbagai macam impiannya dan kesederhanaan hidup di Mesir. Ia bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama.

Fahri adalah laki-laki taat yang begitu lurus. Pindah ke Mesir banyak hal-hal terjadi. Tersebutlah Maria Girgis. Tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tetapi mengagumi Al-Qur'an, dan mengagumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta. Lalu ada Nurul. Anak seorang kyai terkenal yang juga mengeruk ilmu di Al-Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak. Setelah itu ada Noura, tetangga Fahri yang selalu disiksa Ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh dengan Noura dan ingin menolongnya. Terakhir muncullah Aisha. Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisha jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya.

Pada sesi tanya jawab, Bu Kustini memberikan masukan yang bagus, “Boleh juga mbak, buku yang akan dipresentasikan disampaikan di layar, apa judulnya, penulisnya, penerbit dan tahun terbitnya.” Demikian pula di akhir acara Bu Fahriyati memberikan apresiasi, “Saya senang banget acara ini. Bagus. Acaranya bermanfaat dan have fun juga. Kalo boleh usul, mungkin bisa dibuat dalam format yang lebih santai dan rileks duduknya. Sepertinya di ruang koleksi perpustakaan bagus juga. Ada nuansa-nuansa buku juga. Presenter dan audiens bisa duduk dan berdiri secara leluasa,” ungkapnya.

Demikianlah acara bibliobattle ini menjadi penyemangat di awal tahun 2020. Sebuah kegiatan ilmiah yang dikemas secara ringan, fun dan penuh kebersamaan. Ini menjadi ajang knowledge sharing, berbagi informasi, berbagi pengetahuan. Ajang menyampaikan gagasan, ide, membangun dialog, kesepahaman, dan saling pengertian yang kemudian menjadi hikmah  dan pelajaran bagi para audiens. 

Bibliobattle menjadi arena mendekatkan pemustaka pada buku. Buku masih menjadi idola dan belum tergantikan sementara ini. Walaupun di era yang serba digital dan disrupsi seperti sekarang ini, tentu membaca buku tercetak sudah mulai bergeser. Adanya ebook dan media elektronik lainnya menggantikan hampir semua media dalam bentuk tercetak, dan menjadi trend bagi kalangan milenial saat ini. Namun Bibliobattle membuktikan sebaliknya. Tidak semua media digital menggantikan 100 persen media cetak. Walaupun kita melihat pada prakteknya memang banyak  layanan bahkan koleksi perpustakaan yang dialihmediakan bahkan born digital karena kemudahan yang didapat dari bentuk seperti ini. 

Perpustakaan Balitbang Diklat Kemenag masih mentradisikan membaca buku sebagai ajang pendidikan dan rekreasi di perpustakaan. Selain juga perpustakaan memiliki fungsi riset dan pelestarian. Masih banyak pemustaka yang “enjoy” membaca buku dalam bentuk tercetak. Selain karena kemudahan dalam membawanya ke mana-mana, juga tidak tergantung listrik dan tidak membutuhkan media elektronik apapun. Bahkan beberapa pameran buku baik pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional masih ramai diminati pengunjung. 

Nah, disinilah perpustakaan Balitbangdiklat mengambil bagian. Salah satu inovasi rekreasi di perpustakaan adalah mengadakan acara Bibliobattle seperti yang tersebut di atas. Kegiatan mereview buku ini adalah bagian untuk mendekatkan pemustaka pada buku dan pada perpustakaan. Acara ini memang sedianya dikemas dalam bentuk yang ringan, cair, sederhana, dialogis dan membuka kesempatan bagi siapapun pemustaka untuk hadir, bertanya, mengungkapkan gagasan dan idenya tanpa takut salah, tertekan, dikendalikan dan sebagainya. Di sinilah aura demokrasi, kebebasan, keterbukaan, saling menghargai pendapat satu dan lainnya saling dirajut dalam suatu wadah yang intelektual akademis kekeluargaan.  

Semoga perpustakaan balitbangdiklat Kemenag menjadi bagian penting dalam membangun gerakan meningkatkan budaya baca masyarakat Indonesia. Dan peran ini tentu sangat tepat dimainkan oleh perpustakaan sebagai salah satu media bahkan mitra lembaga dalam memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. 

(HAR/Foto: Filman)

Editor: Dewi Indah Ayu


Sumber :

Penulis : Hariyah

Editor : Dewindah

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP