Top
    sisinfobalitbangdiklat@kemenag.go.id
(021) 3920663, 3920668
Kaban: Moderasi Beragama Wujud Rasa Syukur Bangsa Yang Besar

Kaban: Moderasi Beragama Wujud Rasa Syukur Bangsa Yang Besar

Senin, 31 Mei 2021
Kategori : Berita
141 kali dibaca

Klaten (Kemenag)---Moderasi Beragama merupakan bagian dari perwujudan rasa syukur atas bangsa dan negara yang besar. Bersyukur kepada Tuhan karena hidup di negara yang kaya akan perbedaan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama (Kaban) Achmad Gunaryo pada kegiatan Roadshow Jagongan Moderasi Beragama Umat Hindu dengan tema Beragama dengan Ramah Untuk Indonesia di Klaten, Senin (31/05). Kegiatan dihelat Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Balitbang Diklat sebagai unit yang mengkaji secara khusus kehidupan keagamaan di Indonesia.

Jagongan Moderasi Beragama menghadirkan beberapa narasumber, antara lain Kepala Kankemenag Kab. Klaten Anif Solikin, Ketua FKUB Klaten Syamsuddin Asyrofi, dan Pembimas Hindu Kanwil Jateng I Dewa Made Artayasa. Kegiatan bertempat di Gedung Pitamaha Klaten dengan peserta para pemuka agama dan penyuluh agama Hindu.

“Bersyukur saja tidak cukup, harus ditingkatkan menjadi syakur yaitu orang yang senantiasa dalam napas dan gerak menunjukkan rasa syukur kepada Tuhan. Sebab saya khawatir jika tidak bersyukur, maka nikmat bangsa yang besar ini akan diambil oleh Sang Pemilik Nikmat,” ujar Kaban Gunaryo mengawali paparannya di hadapan pemuka agama.

Sebagai perbandingan, Kaban Gunaryo memberikan gambaran kehidupan di Eropa. Ia melihat selama tinggal di Eropa,  kehidupan di sana tidak sehebat yang terlihat.

“Meski dianggap maju, negara-negara di Eropa hingga saat ini tidak bisa hidup dalam perbedaan. Mereka bisa pecah hanya karena perbedaan bahasa atau perbedaan kepercayaan. Kesamaan di sana kini mulai diupayakan melalui penyamaan mata uang Euro,” ungkap Kaban yang berpengalaman tinggal di berbagai benua ini.

Menurut Kaban, kesamaan agama dan budaya belum menjadi jaminan kehidupan yang rukun. “Perbedaan adalah sunatullah atau ketetapan Tuhan, jika suatu negara menginginkan persamaan maka sama saja dengan mengelabui Tuhan. Hidup dalam kesamaan pun belum tentu selalu rukun. Perbedaan harusnya dikelola, bukan diperuncing,” katanya.

Moderasi Beragama, lanjut Kaban, adalah bagaimana beragama di tengah perbedaan. Ini menjadi sikap dan cara umat beragama menjaga perbedaan di Indonesia.

“Kesalehan sosial menjadi dasar dari moderasi beragama. Sikap ini sebagai landasan beragama dengan mengutamakan nilai kemanusiaan, nilai keadilan, nilai keteraturan, dan nilai hukum,” ujar Kaban.

Mengakhiri paparannya, Kaban mengajak seluruh peserta untuk membangun kesalehan sosial. “Indonesia dibangun atas dasar perbedaan, maka kita harus mengapresiasi perbedaan tersebut dengan membangun kesalehan individual dan kesalehan sosial sebagai landasan moderasi beragama,” tandas Kaban.

Jika Kaban menjelaskan moderasi beragama dari perspektif internasional, lain halnya dengan Ketua FKUB Kab. Klaten Syamsuddin Asyrofi yang menjelaskan langkah-langkah membangun moderasi beragama di daerah terutama Klaten. Ia mengatakan moderasi beragama dimulai dari meningkatkan capacity buiding para tokoh agama.

“Salah satu sikap yang ditunjukkan oleh FKUB Kab. Klaten adalah tidak membagi agama berdasarkan mayoritas atau mayoritas. Sikap ini pun menjadi dasar pembangunan rumah ibadah. Kami berpegang pada peraturan perundangan yang berlaku,” ungkapnya.

Syamsuddin mengatakan bersikap atas dasar kemanusiaan lebih diutamakan daripada sekedar melihat mayoritas atau minoritas agama. Selain itu, meningkatkan moderasi beragama ini dilakukan dengan mengunjung masing-masing rumah ibadah dan tokoh agama.

“Dengan saling mengunjungi, muncul sikap saling pengertian antar agama. Selain itu, tokoh agama yang punya pandangan positif ini diperbanyak dengan cara pemberdayaan masyarakat. Kami bekerja sama dengan Kemenag, Kesbangpol, dan tokoh agama membentuk panduan beragama untuk masyarakat Klaten. Harapannya landasan moderasi beragama meluas,” tambahnya.

Syamsuddin menambahkan pula, saat ini di Klaten telah dibuat desa kerukunan sebagai percontohan. Program ini pun sejalan dengan program Kanwil Kemenag Jawa Tengah.

Sejalan dengan pembicara sebelumnya, Pembimas Hindu Kanwil Jateng I Dewa Made Artayasa mengatakan para pembimas Hindu telah membawa pesan moderasi beragama sejak dua tahun lalu. “Kami memiliki program meningkatkan moderasi beragama dan kerukunan umat,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Tata Usaha Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementerian Agama (BLAK) Rizky Riyadu mengatakan Jagongan Moderasi Beragama akan dilaksanakan secara berkelanjutan dengan berbagai tokoh agama. Jagongan dengan umat Hindu kali ini menjadi pembuka kegiatan roadshow.

“Jagongan ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan menuju tahun toleransi 2022. Tahun ini diagendakan roadshow di wilayah-wilayah yang menjadi lokus masing-masing agama,” ungkapnya.

Rizky mengungkapkan moderasi beragama merupakan salah satu isu bangsa yang dipandang penting dalam Rencana Pembangunan Jangka Menegah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024. Selain itu, tujuan lain diselenggarakannya kegiatan ini agar umat beragama mampu bersikap beragama secara ramah demi menjaga persatuan dan kesatuan negara Indonesia.

“Kami berharap melalui program Jagongan Moderasi Beragama nilai-nilai moderat dapat diserap oleh umat beragama,” katanya.[]

Diad/AR/diad


Sumber :

Penulis : Dewindah

Editor : Rahmatillah Amin

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP