Kaban Suyitno: Mengelola Masjid Ibarat Mengelola Negara

29 Jan 2023
Kaban Suyitno: Mengelola Masjid Ibarat Mengelola Negara
Kepala Badan Litbang dan Diklat memberikan arahan pada elatihan Manajemen Kemasjidan di wilayah kerja Kankemenag Kab. Boyolali dan Pelatihan Penilaian Kinerja ASN di wilayah kerja Kankemenag Kab. Blora melalui zoom meeting, Sabtu (28/01/2023). (Foto: Muk

Semarang (Balitbang Diklat)---Manajemen masjid bisa dilihat dari tata kelola masjid yang terukur. Artinya secara penuh memiliki tanggung jawab publik dan menggunakan pola-pola manajemen, sehingga mengelola masjid ini digambarkan seperti mengelola negara.

Kepala Badan Litbang dan Diklat Prof. Suyitno menyampaikan hal tersebut saat memberi arahan pada Pelatihan Manajemen Kemasjidan di wilayah kerja Kankemenag Kab. Boyolali dan Pelatihan Penilaian Kinerja ASN di wilayah kerja Kankemenag Kab. Blora. Kegiatan diselenggarakan BDK Semarang pada 23 s.d. 28 Januari 2023.

“BDK Semarang perlu memetakan masjid di Jawa Tengah. Pemetaan terkait manajemen masjid yang bisa dilihat dari pelaksaan tata kelola masjid yang terukur. Mengelola masjid ini digambarkan seperti mengelola negara,” ujarnya melalui zoom meeting, Sabtu (28/01/2023).

Menurut Kaban, dalam sejarah awal perkembangan Islam, masjid adalah tempat untuk mengembangkan sumber daya manusia. Bahkan saat zaman Rasulullah, dapat dikatakan masjid sebagai istana tempat mengatur sebuah pemerintahan.

“Filosofinya masjid bukan hanya sebagai tempat ritual ibadah, tapi difungsikan sebagai corongnya tata kelola umat. Penekanannya, dari masjid kita bisa belajar cara mengelola negara, ekonomi, dan umat,” kata Kaban.

Kalau masjid hanya digunakan untuk salat jumat atau ceramah, artinya masjid baru berfungsi sebagai tempat ibadah saja. Padahal Islam mengajarkan kita makna ibadah yang luas, termasuk ibadah sosial seperti menjaga kebersihan.

“Sebagai contoh penerapan annadhofatu minal iman atau kebersihan sebagian dari iman. Jangan sampai kita ceramah soal kebersihan tapi kondisi masjid paradoks dengan isi nasihat,” ungkapnya.

“Bagaimana kita mau mengajarkan kebersihan kepada umat, kalau toilet saja tidak mencerminkan kebersihan itu sendiri,” lanjut pria kelahiran Tulungagung ini.

Kaban menekankan bahwa manajemen masjid bukan hanya dimaknai sebagai kegiatan rutin, tapi menjadi sebuah amal. “Alasan saya menekankan pada pengelolaan kebersihan tempat wudu dan toilet karena dalam salat hal pertama yang perlu diperhatikan adalah taharah. Kesucian dimulai dari berwudu karena ini yang menentukan ibadah berikutnya,” tandasnya.

Diad/Sri Hendriani

 

Penulis: Dewindah
Sumber: Wini
Editor: Sri Hendriani
Apakah informasi di atas cukup membantu?

TERKINI

OPINI