Kenapa Kita Harus Cinta Tanah Air Indonesia? Ini Kata Kiai Zawawi

19 Nov 2022
Kenapa Kita Harus Cinta Tanah Air Indonesia? Ini Kata Kiai Zawawi

Semarang (Balitbang Diklat)---Kenapa kita harus cinta tanah air Indonesia? Hubbulwaton minnal iman, cinta tanah air adalah sebagian dari iman.

K.H. D Zawawi Imron alias Si Celurit Emas memulai sajaknya dengan pertanyaan yang menggugah kalbu. Ia menyampaikan petuah bijak melalui sajak yang disampaikan pada Festival Toleransi dan Pagelaran Seni Budaya di Sam Poo Kong, Semarang.

Kegiatan dihelat Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan (BALK) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. Gelaran bertema “Diplomasi Moderasi Beragama melalui Seni Budaya” ini dihadiri Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Kepala Badan Litbang dan Diklat Suyitno, sejumlah pejabat eselon 1. Selain itu hadir pula Kanwil Kemenag Jateng dan Kepala Puslitbang BALK Arfi Hatim.

“Kita minum air Indonesia, dan itu menjadi darah kita. Kita makan beras dan buah Indonesia, dan itu menjadi daging kita. Kita menghirup udara Indonesia, itu menjadi napas kita,” ujar Kiai Zawawi di Semarang, Jumat malam (18/11/2022).

“Kita sujud di bumi Indonesia, berarti bumi Indonesia menjadi sajadah kita. Dan ketika tiba saatnya kita mati, kita akan tidur dalam pelukan bumi Indonesia. Daging yang hancur membusuk, akan bersatu kembali dengan harumnya bumi Indonesia. Maka tidak ada alasan untuk tidak cinta pada Tanah Air Indonesia,” tutur budayawan asli Sumenep ini.

Lebih lanjut, ia mengatakan Indonesia menjadi negara terindah nomor satu di dunia. Ini sejalan dengan ucapan rektor universitas Al-Azhar yang pernah berkunjung ke Indonesia.

“60 tahun lalu Indonesia kedatangan tamu dari Mesir, seorang rektor bernama Syekh Mahmoud Syaltout. Ketika melihat alam Indonesia, secara spontan dia berkata Indonesia adalah potongan surga yang diturunkan Allah di bumi,” tutut Kiai Zawawi.

Menutup petuahnya, Si Celurit Emas menyampaikan apresiasinya terhadap festival toleransi ini. “Pertemuan pada malam ini untuk menghidupkan pluralitas, multikulturlisme, dan bhineka tunggal ika. Karena dengan akal sehat kita ingin membangun persatuan dan kesatuan, dan dengan akal sehat pula kita malu untuk bertengkar dengan sesama,” tandasnya.[]

Diad/AR

 

 

 

 

Penulis: Dewindah
Editor: Rahmatillah Amin
Apakah informasi di atas cukup membantu?

TERKINI

OPINI