Top
    sisinfobalitbangdiklat@kemenag.go.id
(021) 3920663, 3920668
Literate Melalui Bibliobattle
Foto: Hariyah

Literate Melalui Bibliobattle

Kamis, 22 Agustus 2019
Kategori : Opini
492 kali dibaca

Jakarta (21 Agustus 2019). Membangun komunikasi dan interaksi dengan sesama pemustaka di Perpustakaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI adalah perkara yang dinamis dan menarik. Inovasi kegiatan yang dilakukan dalam bentuk mereview buku yang disebut Bibiobattle cukup mendapatkan antusiasme pemustaka. Ini adalah kali kedua Perpustakaan Balitbangdiklat mengadakan Bibliobattle yang juga selalu melibatkan para pemustakanya di lingkungan unit Eselon 1 Kementerian Agama.

Bibliobattle kali ini, selain dihadiri oleh Sesban yang membuka acara dengan menyampaikan gagasan dan substansi yang diangkat di Majalah Litbang Diklat (Lidik) yaitu Jalan Senyap Peneliti, sekaligus menyampaikan bahwa betapa pentingnya gagasan untuk melihat kembali kaderisasi peneliti dan efisiensi serta efektifitas proses penelitian dari hulu hingga hilir.

Beberapa unit eselon satu lainnya juga  turut menyampaikan gagasan dan knowledge sharingnya melalui buku yang di reviewnya. Paulus dari PKUB memaparkan buku Projekt Weltethos dari Hans Kung. Tokoh ini dikenal membawa wacana dialog antar agama yang tidak sepenuhnya diterima oleh kaum konservatif saat itu.  Pak Paulus menceritakan dengan sangat menarik tokoh ini termasuk bagaimana Hans Kung menawarkan langkah-langkah membangun perdamaian dunia dan bagaimana Hans Kung menawarkan titik temu perdamaian dunia sementara dia adalah tokoh yang dimusuhi kaum konservatif.

Kemudian ada pula yang menyampaikan tentang kehidupan di Jeddah yang dialami oleh para istri diplomat ataupun warga Indonesia yang pernah mukim di sana.  Sterotype yang menggambarkan keterbatasan, kesulitan, pelecehan kaum wanita, dan nuansa negatif lainnya terbantahkan dalam buku antologi Memoir of Jeddah yang disampaikan dan ditulis oleh Nur dari Bimas Islam dan kawan-kawan, dengan sangat menarik dan menundang rasa ingin tahu. Bukan hanya itu, nuansa kehidupan beraneka ragam suku dan bangsa terjalin dengan baik di sana.

Tak kalah juga adalah buku yang disampaikan oleh Rut dari Bimas Kristen. Anak-anak Revolusi karya Budiman Sudjatmiko. Ada satu eangle yang disorot oleh Rut bahwa jiwa-jiwa perjuangan dan pantang menyerah hendaknya dimiliki oleh genarasi sekarang, para pemuda, anak-anak milenial agar mereka tak mudah cengeng, patah semangat, dan lemah dalam mengaruhi kehidupan yang serba keras dan penuah tantangan.

Kemudian buku Online Terus Bersama Allah dan Rasulnya, adalah buku yang ditulis dan dipaparkan oleh Nasrullah Nurdin dari Balitbangdiklat dalam bibilobattle ini. Menarik, bahwa buku ini mengajak generasi milenial yang hidupnya serba gadget untuk tidak melupakan Tuhannya. Ajakan ini diuraikan dengan gaya bahasa popular ala milenial, sehingga tidak terkesan menggurui dan mudah ditangkap pesannya dengan cara yang menyenangkan.

Terakhir, Sri Hendriyani dari Balitbangdiklat yang memaparkan hasil penelitiannya tentang kondisi aplikasi teknologi informasi di Kementerian Agama. Menariknya, data penelitian menunjukkan bagaimana carut-marutnya kondisi jejaring teknologi dan informasi yang harus dibenahi di Kementerian Agama.

Demikianlah acara bibliobattle ini sebagai media menyampaikan gagasan, membangun dialog, dan saling pengertian  yang kemudian menjadi hikmah serta pelajaran bagi para audiens.

Dihubungkan dengan era yang serba digital dan disrupsi seperti sekarang ini, tentu membaca buku utamanya buku cetak sudah mulai bergeser. Adanya ebook dan media elektronik lainnya menggantikan hampir semua media dalam bentuk cetak, dan menjadi trend bagi kalangan milenial saat ini.

Namun benarkah bahwa semua yang tercetak ini akan tergantikan seratus persen dengan media digital? Belum ada data yang pakem berapa banyak penelitian atau kajian mengenai hal ini. Walaupun kita melihat pada prakteknya memang banyak layanan bahkan koleksi perpustakaan yang dialihmediakan bahkan born digital karena kemudahan yang didapat dari bentuk seperti ini.

Disisi lain kita melihat, tidak sedikit pula pemustaka yang masih “enjoy” membaca buku dalam bentuk tercetak. Selain karena mudah dibawa, juga tidak tergantung listrik dan tidak membutuhkan media elektronik apapun. Bahkan beberapa pameran buku baik pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional masih ramai diminati pengunjung.

Sementara itu, gerakan meningkatkan budaya baca masyarakat Indonesia terus digalakkan. Peran ini tentu sangat tepat dimainkan oleh perpustakaan sebagai salah satu media bahkan mitra lembaga dalam memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan kita perlu mengingat kembali beberapa fungsi perpuatakaan yaitu sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan bangsa.

Nah, disinilah Perpustakaan Balitbangdiklat mengambil bagian. Salah satu inovasi rekreasi di perpustakaan adalah mengadakan acara Bibliobattle seperti yang tersebut di atas. Kegiatan mereview buku ini adalah bagian untuk mendekatkan pemustaka pada buku dan pada perpustakaan.

Acara ini memang sedianya dikemas dalam bentuk yang ringan, cair, sederhana, dialogis, dan membuka kesempatan bagi siapapun pemustaka untuk hadir, bertanya, mengungkapkan gagasan dan idenya tanpa takut salah, tertekan, dikendalikan dan sebagainya. Disinilah aura demokrasi, kebebasan, keterbukaan, saling menghargai pendapat satu dan lainnya saling dirajut salam suatu wadah yang intelektual akademis kekeluargaan. 

Maka seyogyanya, ini menjadi bagian yang integral bagi para pemustaka khususnya ASN di lingkungan Kementerian Agama untuk menumbuhkan gairah membaca, mendengar, dan knowledge sharing. 

Harapannya, tentu saja dapat membentuk masyarakat yang literate dan moderat. Masyarakat yang tahu akan kebutuhan informasinya dan mampu menggunakan informasi yang dimilikinya untuk kemajuan dan kesejahteraan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. []

HAR/diad


Sumber :

Penulis : Hariyah

Editor : Dewindah

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP