Top
    sisinfobalitbangdiklat@kemenag.go.id
(021) 3920663, 3920668
Memahami Seksualitas Melalui Manuskrip

Memahami Seksualitas Melalui Manuskrip

Senin, 25 Februari 2019
Kategori :
594 kali dibaca

Oleh: Husnul Fahimah Ilyas (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

PERJALANAN risetku pada 2000 menghantarkanku bertemu berbagai kalangan. Kali ini, saya bertemu orang tua yang umurnya uzur, tapi sangat bijak, cerdas, dan menguasai ilmu agama. Nama orang tua itu, Karaeng Mappa (almarhum). Ia tinggal di sebuah gubuk kecil bersama istri yang jeda umurnya tidak berbeda jauh. Karaeng Mappa pernah menjadi abdi negara, tetapi dipecat dengan tuduhan terlibat G 30/S/PKI. Sungguh sangat disayangkan.

Karang Mappa pula yang kali pertama memperkenalkan saya mengenai hakikat hidup, dan memperlihatkan beberapa sumber yang dipakai sebagai rujukan. Saya saat itu belum mengetahui kalau sumber itu bernama manuskrip (MS). Sejak itulah, tumbuh kecintaan terhadap tumpukan kertas “kusam”  klasik, menggelutinya, dan mempelajari secara sepintas mulai hari itu juga. 

Dalam beberapa fase selanjutnya, setelah membaca kajian beberapa masnuskrip yang telah diedisi, rupanya memuat tentang tata kromo, sejarah, tokoh, astronomi, pertanian, pengobatan, cara pandang hidup, budaya, sastra, hingga pembicaraan tata hubungan suami istri yang disebut Assikalaibineng (dalam bahasa Bugis). Fase selanjutnya, ketika saya ditugaskan eksplorasi manuskrip di pedalaman Kalimatan Timur yang berbatasan Kalimantan Selatan medio 2008, sungguh takjub ketika menemukan manuskrip Assikalaibineng (ASK) yang ditulis akrasa lontarak.

Menemukan manuskrip ini belum menumbuhkan minat untuk mengkajinya lebih jauh. Namun, ketika mulai studi di UIN Syarif Hidatullah Jakarta (2009), saya ditugaskan me-review hasil edisi teks manuskrip yang telah dilakukan. Alhasil, setelah searching  di katalog online perpustakaan FIB-UI, saya menemukan tulisan Muhlis Hadrawi tentang Assikalaibineng: Teks Hubungan Suami-Istri dalam Naskah Bugis. Sanad manuskrip ini bersambung dengan manuskrip yang pernah saya temukan dan digitalisasikan di Sebakung, Kalimantan Timur. Sayapun kemudian me-review karya tersebut atas motivasi teman-teman kelas “Filologi Jilid I”, setelah saya menjelaskan keberadaan manuskrip tersebut. Teks ini sangat unik, yang menghubungkan antara syariat dan hubungan suami istri. Berbeda dengan pedoman buku seks yang terkenal di dunia modern ini, yaitu Kamasutra dan Tantra.

Kamasutra adalah karya tertulis pertama yang fokus pada seni bercinta, dan sampai kini menjadi buku seks paling terkenal. Meskipun awalnya diturunkan lewat tradisi lisan, buku itu ditulis oleh Vatsyayana sekitar AD 350. Seorang Inggris bernama Sir Richard Burton menghasilkan terjemahan bahasa Inggris yang pertama di tahun 1800-an.

Kamasutra tidak pernah dirancang untuk menjadi buku laris. Buku Kamasutra pada awalnya ditujukan hanya untuk orang-orang berpendapatan tinggi. Banyak orang membuat kesalahan dengan mencampurkan Kamasutra dengan panduan Tantra. Hal ini salah, meskipun Tantra dan Kamasutra memiliki sejumlah hal yang sama, kata Link Al, seorang guru lama Tantra dan penulis beberapa buku.

Seksualitas hanya sebagian kecil dari ajaran dan praktik di Kamasutra. Misalnya, hanya sekitar  50 dari 1250 ayat-ayat Kamasutra membahas posisi hubungan seksual. Sedangkan dalam praktik Tantra sebagian besar seksualitas diperkenalkan di akhir, kalaupun itu ada. Kedua, Tantra dan Kamasutra menekankan disiplin seksual praktik tertentu. Misalnya, laki-laki menunda ejakulasi sehingga bercinta dapat diperpanjang untuk jangka waktu lebih lama. Atau, pentingnya memastikan perempuan puas secara seksual. Mungkin perbedaan utamanya, Tantra adalah suatu praktik spiritual dengan tujuan pembebasan dan  pencerahan, sedangkan Kamasutra adalah manual sekular tentang teknik meningkatkan hubungan dan seksualitas. Pedoman seks tertua berasal dari Asia, Sex manual tertua di dunia adalah Chinese Handbooks of Sex ditulis 5.000 tahun lalu oleh Kaisar Huang-Ti (2697-2598 SM).

Kamasutra agung Vatsyayana diyakini telah ditulis pada abad  pertama sampai enam, dan memiliki reputasi terkenal sebagai manual seks, meski hanya sebagian kecil dari teks dikhususkan untuk seks. Disusun Vatsyayana, seorang bijak India antara abad kedua dan keempat Masehi. Karyanya berdasarkan Shastras Kama sebelumnya.

Kamasutra ditulis untuk penghuni kaya-kota. Hal ini tidak, dan tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi panduan  untuk massa. Sekitar tiga ratus tahun setelah Kamasutra populer, beberapa posisi bercinta yang dijelaskan di dalamnya ditafsirkan kembali dengan cara yang Tantric. Karena Tantra adalah ilmu yang mencakup segala hal sensual, posisi bercinta relevan dengan praktik spiritual.

Di daerah Graeco-Romawi, manual seks ditulis oleh Philaenis dari Samos, mungkin seorang pelacur (hetaira) periode Helenistik (abad ke-3 SM-1).  Yang menjadi sebagai sumber inspirasi bagi Ovid's Ars Amatoria, ditulis sekitar 3 SM. Sedangkan tantra sendiri sebenarnya adalah sejenis philosophy di mana Shakti merupakan dewi utama yang disembah. Tantra kebanyakan berisi penyembahan dan spiritual, yang tujuannya pembebasan dan kelahiran kembali.  Kepercayaan tantrism memengauhi banyak keyakinan lain seperti Buddha, Sikh, dan lain lain. Tantra sendiri merupakan bagian dari agama Hindu.

Di Jawa terdapat manuskrip bernama Serat Nitimani, yang dikelompokkan dalam ilmu pengetahuan physiognomy and eroticism. Manuskrip ini merupakan salah satu teks Jawa yang berisi risalat menjadi ayah dan erotisme dihubungkan dengan mistik Islam. Dalam teks Serat Nitimani dijelaskan ajaran pendidikan seks bagi pria Jawa yang akan berumah tangga. Salah satu ajaran yang penting diketahui adalah dalam berhubungan seks hendaknya manusia selalu ingat kepada Tuhan sebagai zat tertinggi yang Maha Pencipta.

Di kalangan etnis Bugis terdapat manuskrip yang sama dengan manuskrip Nitimani yang dikenal dengan Assikalaibineng (disingkat menjadi ASK). Kata ini bentukan dari dua kata; lai yang berarti laki-laki, dan biné atau bainé, perempuan. Dua kata dasar ini adalah kata sifat, kemudian membentuk kata majemuk yaitu laibiné. Kata majemuk ini mendapat imbuhan awalan a’+si+ka serta akhiran ng yang berfungsi membentuk kata dasar sifat itu menjadi kata benda. Kata lai dan bine sebagai kata sifat jenis kelamin berubah menjadi kata Assikalaibineng sebagai kata benda, yang berarti hal ihwal hubungan suami-istri (hubungan seksual).

Assikalaibineng secara semantik diartikan pengetahuan yang membicarakan hubungan suami-istri yang normatif. Secara general, Assilalibineng berbeda dengan Kamasutra, Tantra, dan Ars Amatoria. Tetapi lebih dekat dengan rumpun teks Serat Nitimani yang memadukan antara seks dalam versi lokal yang dikemas dalam dialog antara guru dengan murid dalam pengajaran seks yang bernorma.

Merujuk kajian Muhlis Hadrawi yang mengedisi tiga versi manuskrip ASK, saya lebih tertarik pada Teks C, dengan dalih Teks C berkulturasi antara budaya lokal dan agama yang diramu sedemikian rupa, sehingga gaya lokalnya sangat khas terbaca sesuai budaya yang berlaku, yang tercermin di dalam teks tersebut. Misalnya, (1) bangunlah dan akan kupersiapkan dirimu berangkat di rumah kajao; penggunaan gelar kepada nabi disebutnya kajao. Dalam masyarakat Bugis, kajao adalah orang yang dituakan atau seorang tokoh panutan yang memberikan nasihat, arahan, dan pelajaran mengenai kehidupan. Tokoh ini sangat bijak dalam memutuskan perkara maupun dalam trasmisi keilmuannya.

(2) berangkatlah ke kebun di mana Kajao berada; padahal tempat Nabi Muhammad di Madinah maupun di Mekkah bukan merupakan lahan perkebunan dan profesi nabi dalam sejarah tidak pernah menjadi petani. Hal ini sesuai kultur orang Bugis-Makassar yang dominan petani. (3) naiklah ke rumah Nabi;  padahal rumah nabi bukan rumah panggung jadi teks ini ditulis sesuai dengan konteks setempat. (4) Nabi menyuruh Ali turun mengambil buah-buahan; lalu turunlah Ali mengambil buah nangka dimakannya sebagian dan separuhnya dibawanya pulang. Buah nangka adalah salah satu buah yang berada di daerah tropis, dan di daerah Arab buah ini tidak dibudidayakan.

Dijelaskan pula secara detail ilmu persetubuhan. Pertama nyawa dan asal mulanya mani. Sebab, siapapun harus mengenal asal usulnya dari Allah, sesungguhnya mani itu berasal dari Allah, begitu juga hasrat dari-Nya pula, begitu pula kekuatan dan karunia, juga dari Dia pula. Setiap tindakan adalah karena kehendak-Nya, yang memberikan rasa, pendengaran, serta penglihatan. Demikian pula, keinginan dan kekuatan. Dia pun sebagai pencipta, Dia juga berkehendak pada tubuh kita. Artinya, cinta dan keinginan terhadap perempuan, begitulah jalan yang disebut hakikat diri yang akan dicari dan diyakini. Sebab, bila tak dicari, maka tidak dapat ditemukan apa yang sebenar-benarnya disebut mooda.

Apabila kamu telah menemukan yang diucapkan itu yang disebut mooda yang sebenarnya tercipta, sebab itulah yang menjelma, yang menyatu pada nasfsu kita. Apabila tidak menyatu pada nafasmu, maka kamu mengingkari zikir laa ilaaha illaahu. Itu pula yang dinamakan tali tak-putus di dalam tubuh kita, yang mengendalikan napas pada saat kita bersetubuh. Apabila kamu menginginkan muncul hawa panas saat akan bersetubuh, basahilah panggul hingga pusar dengan air.

Apabila kamu mensyariatkan nyawa (semangat) kita dalam kondisi yang kuat maka pada sisi kananlah diarahkan zikir laa illaaha illaahu. Jika kamu menginginkan munculnya kering pada buah kecil, di sisi kiri diarahkan zikir. Apabila kamu menginginkan tidak muncul bau, syariatkanlah pada gigimu ditunjuk zikir. Apabila menginginkan tidak basah dan kering maka syariatkan nyawamu berada di selangkanganmu ditunjuk zikir. Janganlah melupakan dan selalulah mengingat posisi nyawa. Meski hanya satu hal yang diucapkan, namun lakukanlah kata syariat itu. Apabila laki-laki telah mengalami klimaks agar tetap menahan nafsuu dan tidak lupa diri. Harus selalu ingat kata syariat dalam persetubuhan. Jika mani telah keluar, maka lepaskanlah nafas sedikit demi sedikit. Jangan melepaskan sekaligus, lepaskan sebanyak empat tahap lalu merasakan kenikmatan.

Apabila sudah melakukan persetubuhan, usaplah kemaluan perempuan hingga bersih. Tangan kanan yang mengusapnya, lafal yang dibaca “aku sengaja mengambil air matangnya Ali dan Fatimah. Istinja kemana pergi, junub tetap tak berubah sebagaimana yang telah ditetapkan dirimu oleh Allah Baraka laa ilaha illaahu Muhammad Rasulullah. Itulah kata-kata yang diucapkan. Demikian penegasan bagi orang yang melaksanakan ucapan syariat.

Penegasan Syaikh Abdullah dari neneknya dan kepada keempat anaknya untuk mengayomi dua kampung. Inilah yang menjelaskan disebut Ilmu Dunia. Apabila kita akan melakukannya, ambil air wudhu terlebih dahulu, kemudian masuklah di tempat tidur dan perbaikilah perasaanmu kepada Allah. Apabila kamu telah berbaring, niatkanlah menempatkan neraka di kiri dan surga di kanan. Letakkan di kaki titian siratal mustaqiim,syariatkan dengan membaringkan istri di arasy kursyi. Niatkanlah kepala istri pada lailatulqadri.

Bagi perempuan, dia syariatkan dirinya sebagai Fatimah kepada suaminya. Bagi laki-laki, syariatkan dirinya sebagai Ali kepada istrinya. Jika perempuan dibaringkan ke arah barat kepada Nabi dan sebutlah nama perempuan sebagai Siti Khadijah. Perempuan dibaringkan ke arah selatan pada saat persetubuhan dan sebutlah namanya Siti Aisyah. Membaringkannya lagi ke arah timur dengan nama Ummu Salama. Kepada Nabi kita Sallallahu Alaihi Wasallam pada imam kita Syafii. Apabila perbuatan sedang berlangsung, kita senantiasa meng-Esa-kan Allah. Adapun syariat bagi perempuan. Dia syariatkan dirinya lenyap pada Nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Begitulah perilakumu, sebagai laki-laki terhadap perempuan maka syariatkanlah dirimu kepada Allah Taala.

Apabila kamu akan menyentuh titik nyawa, pertemukan pusarmu dan pusar istrimu, apabila akan menyentuh sisi kiri, tekuklah kaki kirinya, apabila akan menyentuh sisi kanan, tekuklah kaki kanannya dan luruskan kaki kirinya. Apabila kamu akan menyentuh bunga melati, rapatkanlah hidungmu dengan hidung istrimu. Konsentrasikan ingatanmu kepada Allah Taala, begitu pula istrimu, lupakanlah segala yang lainnya. Tahanlah napasmu sebatas kemampuanmu.

Adapun syareat perempuan, berada pada tarikan napas kita. Tariklah nafas bersamaan masuknya zakar, apabila perempuan sudah tak sadarkan diri, pertanda tenggelamnya hamba kepada Tuhannya. Ketika laki-laki menahan napasnya, maka lenyaplah hamba pada Tuhannya pada saat itu perasaan telah menyebar keseluruh tubuhmu. Dan berbeda dengan bayangan orang yang memiliki bayangan.

Selain hal tersebut, dalam naskah ini juga menjelaskan tentang etika ketika akan memasuki kelambu, yang menjelaskan fardu tiga belas, menjelaskan hubungan suami istri apabila akan bertemu, menjelaskan pengetahuan perihal perempuan yang  terdiri atas empat pintu perempuan. Jika seorang laki-kali mengerti semua hal tersebut, dikategorikanlah sebagai laki-laki yang berpengetahuan terhadap istrinya.

Dengan demikian, naskah ini sangat unik dengan beberapa pertimbangan. Pertama, naskah ini merupakan ajaran yang sangat privasi. Kedua, diajarkan secara selektif kepada laki-laki yang akan berumah tangga (sebagai pendidikan seks yang normatif), Ketiga, ajaran ini tidak dibuka secara luas karena merupakan salah satu ajaran yang terdapat dalam tarekat tertentu. Inilah salah satu menjadi ciri khas lokalitas di tanah Bugis di Sulawesi Selatan tempo dulu yang mengalkuturasikan agama dan budaya setempat.

Bagi akademisi dan pemerhati naskah yang berminat mengkaji manuskrip ASK, Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar (BLAM) menyedikan metadata dan koleksi manuskrip kegamaan di KTI dalam bentuk digitalisasi, silakan mengunjungi Laboratorium Naskah Keagamaan Kawasan Timur Indonesia di BLAM. []

 

Sumber:

Hadrawi, Muhlis. 2006. Assikalaibineng Teks Hubungan Suami-Istri dalam Naskah Bugis. Tesis Program

Pascasarjana Universitas Indonesia Depok Fakultas Ilmu Budaya

Sumarni, Tuti. 2000. Serat Nitimani dalam Tesis. Fakultas Ilmu Budaya UI.

 

Husnul Fahimah/diad

Sumber foto: google


Sumber :

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP