Top
    sisinfobalitbangdiklat@kemenag.go.id
(021) 3920663, 3920668

MENCARI SOLUSI KONFLIK DAN KEKERASAN INTERNAL UMAT BERAGAMA

Selasa, 20 Maret 2007
Kategori : Kajian Akademis Kehidupan Beragama
2846 kali dibaca

MENCARI SOLUSI KONFLIK DAN KEKERASAN INTERNAL UMAT BERAGAMA

Oleh: Tim Balai Litbang Jakarta

Balai Penelitian Agama dan Kemasyarakatan
2003

 

Agama Islam barangkali merupakan agama yang paling banyak mengalami konflik internal. Sejak masa awal, sepeninggal nabi Muhammad, konflik dan kekerasan hampir tidak pemah reda menjadi fenomena kesejarahan. Berlangsung dalam seluruh kurun waktu peradaban. Ketegangan pada awalnya hanya mempersoalkan masalah siapa pengganti nabi untuk menjadi kepala pemerintahan saat itu, nampaknya berhasil direda berkat kepiawaian para sahabat sebagai pengayom umat. Namun tidak demikian, sewaktu pergantian kekuasaan berpindah dari Umar Ibn al-Khatab kepada ustman ibn Affan dan kemudian berpindah ke tangan Ali Ibn Abi Thalib. Pembunuhan terhadap Ali yang dilakukan oleh ekstremis Khawarij, mengawali babak baru kekerasan dalam sejarah pemerintahan Islam. Perang saudara terus mewarnai kehidupan umat Islam selama kekuasaan dipegang oleh Bani Umayyah. Di antaranya adalah saat terjadi pemberontakan Khawarij dan kaum Syiah secara bergantian, dan korban berjatuhan oleh kawan seagama.

Kekuasaan Khalifah Abul Abbas as-Saffah ( Khalifah Abbasyiyah), yang berlanjut pada kekuasaan khalifah Al-Makmun (813-833 M) harus diakui telah membawa kemajuan pesat perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam. Namun bersamaan dengan itu, kepentingan kelompok yang dilatarbelakangi oleh ambisi kekuasaan, perbedaan faham dan perebutan daerah teriotrial, ikut tumbuh dan berkembang, dan gesekan satu sama lain seakan tak terhindarkan.

Konflik dalam tubuh umat Islam di Indonesia, barangkali hanya sekedar aib yang harus ditutupi, manakala terjadi sesaat atau tidak banyak korbannya. Tetapi manakala peristiwa itu sudah mengorbankan sendi-sendi kebersamaan dan ukhuwah, perlu kiranya dijadikan pelajaran. Dari kasus yang dipicu oleh persaingan usaha, perebutan warisan, hingga pengrusakan rumah ibadah dan pembantaian pemuka agama, sudah sering terjadi. Tuduhan terhadap kelompok atau aliran sesat dalam agama, biasanya yang kemudian menimbulkan kerawanan internal. Ketika massa telah terbentuk opininya, mereka bergerak, dan biasanya timbul perilaku tidak terkontrol. Perusakan bangunan tempat ibadah dan memusnahkan nyawa manusia seagama pun, seakan menjadi hal yang halal. Sebaliknya, klaim atas kelompoknya sendiri sebagai "yang paling benar", dan yang lain sesat atau kufur, menjadi pemicu ketegangan yang bukan lagi barang baru. 
Agama sebagai sumber moral, nampaknya perlu dilihat kembali, dalam perspektif Indonesia masa depan. Seberapa besar kekuatan agama, mampu menjadi pengendali dan penggembala kedamaian dan keharmonisan.***


Sumber :

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP