ORIENTASI PENDIDIKAN MASYARAKAT VARIAN SANTRI, PRIYAYI, DAN ABANGAN DI INDRAMAYU

23 Sep 2008
ORIENTASI PENDIDIKAN MASYARAKAT VARIAN SANTRI, PRIYAYI, DAN ABANGAN DI INDRAMAYU

ORIENTASI PENDIDIKAN MASYARAKAT VARIAN SANTRI, PRIYAYI, DAN ABANGAN DI INDRAMAYU 
Fuaduddin, 74 halaman
Puslitbang Pendidikan Agama
Departemen Agama RI, 2000

Penelitian ini dilakukan di desa Pawedian, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Keluarga yang menjadi responden sebagaimana disebutkan di atas terdiri dari tiga jenis keluarga dengan status sosial yang berbeda. Informan pertama, adalah keluarga H.M. Masduki dan keluarga K.H. Fauzan Hariri yang dikategorikan sebagai keluarga santri. Informan kedua, keluarga Raman Adisumarto dan keluarga Umar Nitisiswoyo yang dikategorikan sebagai keluarga priyayi. Informan ketiga, keluarga Tarman sebagai abangan. Dari penelitian ini diperoleh beberapa hasil temuan yaitu :

  1. Masyarakat desa Pawidean secara kultural mencerminkan adanya varian-varian (kelompok-kelompok) sosial yang terbagi dalam tiga kategori: a). variant santri, mereka secara teratur melaksanakan ibadah sholat lima waktu, puasa wajib, membayar zakat bagi yang tergolong kaya dan pergi haji. Disamping itu mereka juga aktif di berbagai jamiyah/organisasi keagamaan. Dan sebagian besar mereka bekerja sebagai petani; b). variant priyayi, mereka belum melaksanakan solat lima waktu secara teratur, belum puasa wajib secara penuh, tidak membayar zakat, tidak pergi haji, bekerja sebagai pegawai negeri; c), variant abangan, mereka tidak/belum menjalani syariat Islam, belum, tidak melaksanakan solat, tidak puasa, tidak membayar zakat, tidak pergi haji. Sebagian besar mereka bekerja sebagai buruh tani atau sektor informal lainnya, Mereka lebih akrab dengan hal-hal yang bernuansa budaya lokal yang sering berseberangan dengan ajaran agama.
  2. Dari ketiga variant keluarga tersebut secara signifikan merefleksikm nilai-nilai sosial kulturalnya dari orientasi pendidikan yang mencakup visi, persepsi, ekspektasi dan pemilihan lembaga pendidikan. Keluarga santri karena pemahaman agamanya yang sangat doktriner, menyebabkan mereka kurang mampu mengembangakan orientasi pendidikan agama yang lebih komprehensif, antisipatif, dan memenuhi tuntutan dan harapan masyarakat yang berubah dengan cepat. Sebaliknya keluarga priyayi (pegawai negeri dan terdidik) selalu berusaha menempatkan pendidikan sebagai jalur survival dan mobilitas (intelektual dan sosial) mereka.
  3. Keluarga santri lebih banyak menyekolahkan anak-anaknya di sekolah/lembaga keagamaan seperti Madrasah dan Pesantren, setelah lulus kembali ke masyarakat Pawidean sebagai pelayan keagamaan, petani dan pedagang. Sementara keluarga priyayi menyekolahkan anak-anaknya ke Perguruan Tinggi, kemudian masuk ke berbagai instansi pemerintah/swasta, sektor formal perkotaan dan lebih banyak berkiprah di luar desa Pawidean, mereka berhasil survival dan mencapai posisi yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Orientasi pendidikan keluarga santri yang sangat religius sebenarnya bukan semata-mata terarah padakesalehan individual, tapi justru mengarah kepada kesalehan sosial,mereka akan mempertahankan status keluarga sebagai elit agama, dan pemimpin agama atau pendidikan diarahkan sebagai "religius invesment". Sedangkan keluarga priyayi atau abangan lebih mengarah pendidikan sebagai "economic investment" yang ditujukan kepadakesalehan individual yang berfungsi untuk kebutuhan individu seperti mampu menjalankan solat lima waktu, puasa, dan terhindar dari perbuatan yang dilarang agama. (U.H)
Editor:
Apakah informasi di atas cukup membantu?

TERKINI

OPINI