Top
    sisinfobalitbangdiklat@kemenag.go.id
(021) 3920663, 3920668

PEREMPUAN DAN KEMISKINAN

Selasa, 23 September 2008
Kategori : Kajian Akademis Kehidupan Beragama
231 kali dibaca

PEREMPUAN DAN KEMISKINAN 
(Studi Tentang perjuangan Hidup Bakul Jamu Asal Wonogiri di Jakarta) 
Marzani Anwar, 2000, 37 halaman 

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran karakteristik perempuan yang bergerak di sektor informal terutama perempuan penjaja jamu gendong, kegiatan sehari-hari, dan berbagai masalah yang dihadapi serta cara mengatasi masalah tersebut.

Penelitian ini dilaksanakan di Jakarta. Sasaran penelitian adalah perempuan penjual jamu gendong yang berkeliling di Jakarta setiap hari yang berasal dari Wonogiri.Penelitian ini merupakan studi kasus (case study), dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara mendalam (depth interview), observasi terlibat(participant observation), dan telaah dokumentasi.Dari penelitian diperoleh beberapa temuan yaitu :

  1. Kelompok bakul jamu adalah warga bangsa yang memiliki latar belakang budaya agraris, yang hidup di tengah budaya metropolis.
  2. Menjadi bakul jamu adalah pilihan yang didorong oleh desakan ekonomi, sebagai alternatif lain karena sektor pertanian tidak lagi memberikan harapan bagi kehidupan keluarganya.
  3. Sebagai perempuan, bakul jamu memiliki kemandirian. Meskipun secara budaya statusnya sebagai pendamping suami yang sering dipahami sebagai kepala rumah tangga. Namun dalam kenyataan isteri juga keluar rumah membantu mencari nafkah.
  4. Semangat kebersamaan antara bakul jamu memperkuat keberadaan mereka sekaligus memperlemah. Memperkuat, karena dapat membangkitkan semangat kepercayaan diri untuk hidup dengan profesinya. Kelemahannya, mereka bekerja monoton dan tidak berkembang.
  5. Tingkat pendidikan yang rata-rata rendah menyebabkan mereka tidak dapat memiliki keberanian untuk berinovasi atau mengembangkan usaha ke arah yang lebih besar.
  6. Mereka tergolong perempuan yang tidak tahu bahwa dirinya menjadi korban kultur, yang menempatkan perempuan secara tidak adil dan tidak setara dengan laki-laki, meskipun mereka tidak peduli soal itu, namun penampilannya lebih mencerminkan realitas dimana seorang istri telah berdiri setara dengan suami, meskipun hanya dalam hal mencari nafkah keluarga.(U.H)


Sumber :

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP