Top
    sisinfobalitbangdiklat@kemenag.go.id
(021) 3920663, 3920668
Pesan Khutbah Brussel: Menyadari Esensi Beragama

Pesan Khutbah Brussel: Menyadari Esensi Beragama

Rabu, 25 Maret 2015
Kategori : Berita
174 kali dibaca

Brussel – Dalam rangkaian seminar dan pertemuan di Brussel, Kabalitbang dan Diklat Prof. H. Abdurrahman Mas’ud didaulat memberikan khutbah Jum’at di hadapan masyarakat Indonesia Belgia di KBRI Brussel (20/3). Di hadapan jamaah Shalat Jum’at berjumlah sekitar 50 orang, 

Diawali dengan penggambaran borok-borok manusia modern yang terjerat pragmatisme dan materialisme. Sang Khatib menengarai penyebab penyakit manusia modern saat ini adalah sikap cinta dunia yang berlebihan, dan jauh dari sikap Zuhud. Bahkan, “ungkapan di Amerika yang berbunyi in God we trust,kini telah menjadi in money we trust,” ungkapnya. Bukankah ini sudah disinyalir dalam al-Quran bahwa ada kecenderungan sikap cinta materi yang berlebihan pada diri manusia. Hal ini perlu ditekankan untuk sweet reminder bagi sesama kaum beriman yang tinggal di negeri sekuler khususnya yang sedang mengembara di dunia Barat.

Khatib juga mengutip ajakan penyair Muslim Spanyol abad pertengahan, Ibn Hazm, (hidup 384?486 H/ abad 11/12.): “Pencari akhirat mirip dengan malaikat. Pencari keburukan sama dengan syaitan. Pencari keindahan suara dan kemenangan sama denganpredatory (binatang buas, pemangsa musuhnya). Pencari lazat (keenakan, kepuasan materi dengan segala bentuknya) sama dengan binatang buas dan ternak. Pencari harta benda hanya untuk pemilikan benda itu sendiri bukan untuk dinafkahkan dalam amal sosial dan ibadah ilahiyah yang terpuji lebih rendah dan buruk dari binatang. Tepatnya dia sama dengan Ghudran yakni sepotong tumbuh?tumbuhan langka yang berada di kedalaman gua yang tidak satu binatangpun memanfaatkannya)

Al?`Aqil, intelektual yang menggunakan akal sehatnya tidak pernah bangga melihat kelebihannya di banding animal, binatang buas, maupun benda. Tapi al?`a qil hanya bahagia karena kelebihan yang dianugerahkan Allah padanya dibanding tiga hal tersebut dari segidefferensiasi yang menyerupakan dia dengan Malaikat. Maka barangsiapa bangga dengan keberaniannya dalam konteks selain untuk agama Allah, ketahuilah bahwa semut lebih berani dari dia. Sesungguhnya pula singa, harimau, gajah, lebih bernyali besar dari dia. Barangsiapa bangga dengan kekuatan fisiknya, ketahuilah bahwa gajah, sapi, dan anak binatang lebih kuat darinya. Barangsiapa bangga dengan angkat beratnya ingatlah bahwa keledai lebih kuat darinya. Barngsiapa bangga dengan kecepatan larinya, ketahuilah bahwa anjing, kelinci, lebih kencang darinya. Barangsiapa bangga dengan keindahan suaranya ketahuilah bahwa kebanyakan burung lebih indah suaranya. Sesungguhnya pula seruling lebih meresap dan mengasyikkan dari suaranya. Maka apa yang bisa dibanggakan seseorang dibanding binatang?binatang ini?  Hanya orang?orang yang kuat differensiasinya dan luas ilmunya serta cantik tidak tanduknyalah yang mampu mengalahkan sifat binatang. Sesungguhnya dari segi ini, hanya manusia-manusia unggul dan malaikatlah yang menang).

Allah berfirman (surat Nazi`at ayat 40) "Adapun orang?orang yang takwa pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat yang layak baginya"  Ayat inilah yang menjadi pegangan bangsa yang beribadah dengan tulus, ikhlas.

Kabalitbang juga menyampaikan pesan khutbah tentang keharusan umat muslim untuk beragama dengan kesadaran, sehingga makna-makna esensial beragama lebih menonjol dibandingkan sekadar pemenuhan ritual.

Dalam sebuah dialog dengan para Sahabat, Nabi Muhammad saw. melempar pertanyaan tentang arti fakir-miskin. Mereka menjawab bahwa fakir miskin adalah manusia yang serba berkekarangan materi dan pemilikan. Rasulullah menjelaskan bahwa fakir miskin adalah bagian dari umatku yang datang di hari Akhir nanti dengan amal-amal salih seperti salat, zakat, dan puasa, tetapi dalam kehidupan sehari-harinya melanggar hak-hak asasi manusia, mengkambinghitamkan seseorang, menggunjing, merampas hak milik, menumpahkan darah, dan berbuat kekerasan. Di hari Pembalasan nanti Allah akan membagi amal-amal shalih yang bersangkutan pada para korban kedzalimannya. Dengan dosa-dosa sosial, orang  ini akan dilempar ke neraka.

Dalam ajaran Islam, hak-hak asasi manusia sangat diperhatikan.  Sesungguhnya hak-hak yang yang harus dilindungi dalam Islam demikian luas meliputi agama, jiwa, harta, keluarga, akal, dan kehormatan. Tentu hak-hak  untuk berpendapat, berbeda agama dan keyakinan, hak untuk mengingatkan dan melawan tirani kazaliman juga  sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Jihad yang terhebat adalah berkata benar (kalimat haq)  di hadapan penguasa yang zalim. Dalam surat `Abasa misalnya, Nabi Muhammad diingatkan bahwa rakyat yang buta dan miskin seperti Abdullah bin Ummi Maktum justru harus dilindungi hak asasinya, yaitu hak untuk didengarkan, hak memperoleh pendidikan dan informasi.[]

hb/abdR/diad  


Sumber :

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP