Top
    sisinfobalitbangdiklat@kemenag.go.id
(021) 3920663, 3920668
Pesantren Salaf Mindset Modern

Pesantren Salaf Mindset Modern

Jumat, 28 Mei 2021
Kategori : Berita
212 kali dibaca

Jombang (28 Mei 2021). Lembaga pendidikan Islam yang berbasis asrama atau lebih dikenal dengan Pondok Pesantren (Pontren) tersebar di Kabupaten Jombang. Saking banyaknya Pontren di sana, membuat Jombang  terkenal dengan sebutan Kota Santri. Kota Santri banyak memberikan inspirasi bagi pecinta seni yang melahirkan lantunan syair bernuansa Islami. Berdasarkan data tahun 2020, jumlah Pontren yang sudah terdaftar di Kemenag Jombang berjumlah 124 Pontren.

Seiring dengan perkembangan era, maka Pontren terbagi menjadi 3 model. Pertama, model Pontren Salaf, atau Pontren Klasik. Kedua, Pontren Modern dan terakhir model Pontren perpaduan salaf-modern. 

Model Pontren yang ketiga ini terlihat pada Pontren Fathul ‘Ulum Kabupaten Jombang. Pontren yang diasuh K.H. Ahmad Habibul Amin atau masyhur dengan sebutan K.H. Amin ini berdiri pada tahun 2006. Pontren ini terletak di perbatasan antara Desa Puton Kec. Diwek dengan Desa Blimbing Kec. Gudo dan Desa Sidowarek Kec. Ngoro, tepatnya di Desa Sidowarek, Kec. Ngoro, Kabupaten Jombang.

Meskipun termasuk Pontren Salaf tetapi Pontren Fathul ‘Ulum merupakan Pontren entrepreneur yang berbasis skill. Visi yang dimiliki Pontren ini pun luar biasa, yaitu bisa menghantarkan generasi anfa. “Artinya bagaimana santri ketika kembali ke masyarakat bisa memberikan manfaat sesuai passion dan potensi yang dimiliki oleh setiap santri dengan agama tetap menjadi pondasi pokok, bukan harus menjadi kiai”, jelas K.H. Amin.

Ungkapan tersebut disampaikan K.H. Amin saat kunjungan Pusdiklat Teknis dalam rangka monitoring dan pendampingan tidak lanjut Pelatihan Pemberdayaan Ekonomi Bidang Peternakan Ikan  Pondok Pesantren, Jumat (28/5).

K.H. Amin menuturkan, yang melatarbelakangi Pontren berbasis entrepreneur ini karena kepercayaan masyarakat terhadap Pontren mengalami penurunan dan output lulusan Pontren di dunia kerja dianggap kurang menjanjikan. 

Dengan pertimbangan di atas, K.H. Amin memilih fokus ke pengembangan Pontren di bidang pertanian dan peternakan ikan karena masyarakat Indonesia mayoritas agraris khususnya di Jombang dan sekitarnya banyak petani dan peternak ikan.

Memiliki lahan yang luasnya sekitar dua hektar dan sekitar 300 santri dari berbagai daerah merupakan sumber daya utama  Pontren Fathul ‘Ulum. Apalagi ditambah latar belakang dan potensi keterampilan dalam pengelolaan pertanian dan  peternakan ikan memperkaya Pontren ini untuk mengembangkan potensinya.

Dalam pelaksanaannya, santri diharuskan mandiri dengan sistem bagi hasil. Nantinya para santri bisa membiayai dirinya sendiri dari skill yang dimiliki. Maka, dikembangkanlah usaha di Pontren ini dalam bidang: pertanian (padi, jagung, buah-buahan, dan sayur mayur); peternakan hewan (sapi, kambing); peternakan ikan (gurameh, lele, mujaer, nila, dan patin).

Oleh sebab itu, sangat tepat peserta dari Pontren Fathul ‘Ulum mendapat kesempatan mengikuti pelatihan Pontren di Blitar yang  berfokus pada bidang peternakan ikan. Setelah selesai pelatihan, peserta ditugaskan untuk praktik sesuai pelatihan. 

Peserta Pontren Fathul ‘Ulum langsung membeli bibit ikan Koi untuk mempraktikkan materi yang didapatkan saat pelatihan. Usaha dan semangat dari peserta ini menghasilkan budidaya ikan Koi cukup bagus walau dengan fasilitas yang masih terbatas. 

Hasil tersebut membuka jalan untuk pengembangan lebih serius, mencakup peningkatan modal, sumber daya dan fasilitasnya. Dalam janjinya, K.H. Amin berusaha mengembangkan pemeliharaan ikan Koi dari yang sudah ada.

Di akhir pertemuan, K.H Amin berharap agar Pontren  Fathul ‘Ulum tetap dilirik untuk bisa diikutkan dalam pelatihan Pontren sesuai potensi yang dikembangkan pada pesantrennya. 

“Terima kasih kepada Pusdiklat Teknis yang telah memberikan motivasi dan keterampilan untuk pesantrennya, ucap K.H Amin. (Tamam/bas)

 


Sumber :

Penulis : Tamam

Editor : Abas

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP