Top
    sisinfobalitbangdiklat@kemenag.go.id
(021) 3920663, 3920668
Dari Tacit Ke Mitigasi Bencana: Hasil Kolaborasi LKKMO dan Icaios

Dari Tacit Ke Mitigasi Bencana: Hasil Kolaborasi LKKMO dan Icaios

Senin, 27 Juli 2020
Kategori : Berita
38 kali dibaca

Jakarta (27 Juli 2020). Mitigasi bencana merupakan topik yang selalu hangat dibahas, diteliti, bahkan dijadikan buku untuk dipedomani. Pasalnya bencana seringkali terjadi tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu dan selalu datang menghampiri negara yang tercinta ini.

Menaggapi hal tersebut, Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) menyelenggarakan kegiatan webinar bedah buku “Peran Kementerian Agama dalam Menangani Bencana”, Sabtu (25/07). Webinar dibuka langsung oleh Kepala Puslitbang LKKMO, Muhammad Zain.

Dalam sambutannya, Kapus menyampaikan empat hal yang menjadi pekerjaan rumah (take home message) kita bersama, yaitu pertama tentang ring of fire di negara Indonesia yang membutuhkan penanganan bencana secara tepat dan akurat. Kedua, LKKMO sangat mendorong riset kolaboratif seperti ini, karena dengan riset kolaboratif, nilai riset menjadi lebih bermakna dan aplikatif. Ketiga, belum semua hasil riset bisa disampaikan dan dijadikan kebijakan oleh pemerintah dan masyarakat. Perlu ada perhatian lebih khusus lagi agar hasil riset dapat implementatif. Keempat, respon masyarakat yang masih sangat beragam. Ditambah dalam catatan manuskrip yang sangat luar biasa.

Dalam diskusi ini, Saiful Mahdi PhD, salah seorang penulis buku mitagasi Aceh sekaligus menjadi moderator dalam acara webinar bedah buku ini, menambahkan bahwa dalam menangani bencana terlihat belum terwujud komunikasi yang baik antara sains, teknologi, dan tokoh serta pemeluk agama. Hal ini terlihat dengan jelas ketika terjadi tsunami di Aceh pada tahun 2004. Bencana yang merupakan suatu keniscayaan dan akan terjadi lagi di masa yang akan datang, maka kearifan lokal dan pasif knowledge menjadi perantara dalam praktek masyarakat menghadapi bencana.

Muhammad Zain dalam paparan materinya menjelaskan bahwa bencana merupakan eko-teo-antroposentris dan bisa dimaknai sebagai peristiwa dalam menjaga keseimbangan alam. Sebagaimana dijelaskan oleh al-Ghazali tentang keseimbangan alam yang diciptakan Allah dimiliki oleh setiap unsur kejadian alam.

Selanjutnya pembahasan tentang buku ini disampaikan oleh Prof Eka Srimulyani, dari ICAIOS dan guru besar UIN Ar-Raniry, sekaligus salah seorang penulis buku ini. Paparannya yang cukup komprehensif dan gamblang, telah memudahkan peserta memahami isi buku dan temuan dari penelitian yang telah dilakukan. Para peserta terlihat menyimak dengan seksama, kemudian bertanya serta membahas isi buku ini dengan antusias. Mereka mengapresiasi bedah buku ini dengan mengungkapkannya dalam diskusi.

Di antara pertanyaan yang diajukan adalah tentang temuan hasil penelitian menyangkut irisan pemahaman yang terjadi antara mistis, teologis, dan rasional pada masyakarakat Aceh. Selain itu, tentang penggunaan manuskrip sebagai bentuk kearifan lokal yang ada di masyarakat Aceh juga dibahas. Para peserta antusias berdiskusi menggali informasi tentang mitigasi bencana.

 

Buku ini merupakan hasil kerjasama dengan pihak ICAIOS. Penelitian dan penulisan dilakukan secara bersama antara peneliti LKKMO dan peneliti ICAIOS dengan berbagai pendekatan yaitu arkeologi, filologi, sosiologi, dan psikologi. Buku ini memokus sasaran kajian pada bagaimana pola pendekatan masyarakat Aceh dalam bentuk kearifan lokal dalam menanggulangi bencana alam, langkah-langkah masyarakat dalam mempersiapkan pra bencana, menghadapi bencana, dan menanggulangi bencana setelah bencana terjadi. Aspek ini dibidik dari sisi sejarah lokal, kebencanaan, sosial keagamaan, antropologis, psikologis, dan spasial.

Diantara saran yang disampaikan dalam buku ini adalah perlu ada upaya untuk pendokumentasian tacit knowledge, menjembatani “missing link” antara tacit knowledge dan explicit knowledge, dakwah kebencanaan seperti menyampaikan khutbah kebencanaan, perlu menjadi mitigasi bencana sebagai salah satu tema bagi penyuluh agama dengan dipersiapkan modul untuk para penyuluh agama atau buku saku serta bimbingan tekhnis sehingga memudahkan mereka untuk menyampaikan dakwah-dakwah kebencanaan. Terakhir adalah pertimbangan dalam pembangunan infrastruktur dan tatanan spatial dalam perspektif mitigasi bencana.

Di akhir webinar ini, Kepala Pusat LKKMO memberi closing statement bahwa perlu tindak lanjut penyampaian hasil penelitian ini kepada penyuluh-penyuluh melalui Kanwil agar bisa dimanfaatkan langsung dalam menangani bencana yang akan terjadi. []

FI/diad


Sumber :

Penulis : Dewindah

Editor : Dewindah

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP