Di Konferensi Internasional, Ketua Dewan Sunni Sampaikan Pesan Kebangkitan Irak

26 Jun 2018
Di Konferensi Internasional, Ketua Dewan Sunni Sampaikan Pesan Kebangkitan Irak

Irak (26 Juni 2018). Konferensi Internasional tentang Moderasi dan Islam Wasathiyah di Baghdad dimulai hari ini,  Selasa (26/06). Konferensi ini diawali dengan sambutan Ketua Dewan Sunni Irak Dr Abdul Latif Al Humaim di auditorium Jami' Ummul al-Qura.

Tampak hadir, ribuan peserta,  termasuk tujuh delegasi dari Indonesia. Dalam sambutannya, Abdul Latif menyampaikan pesan bahwa Baghdad sudah aman. 

"Selamat datang di Baghdad, kota ilmu,  pusat lahirnya para nabi, imam Madzhab, para ulama, qurra, dan lainnya. Selamat datang di Baghdad, yang memiliki sejarah panjang dan kontribusi besar dalam perabadan dunia. Saat ini Baghdad sudah aman, dan sudah bebas dari kelompok radikal DA'ISY (ISIS)," ujarnya di Baghdad,  Selasa (26/06).

al-Humaim menjelaskan, konferensi ini dimaksudkan untuk merumuskan langkah bersama dalam menghadapi radikalisme dan terorisme yang sangat membahayakan kedamaian dan kerukunan umat beragama. Menurutnya, Islam mengajarkan tentang pentingnya bersikap moderat dan toleran (al-tasamuh) dalam banyak hal.

"Konferensi ini diadakan untuk menghadapi dan menanggulangi paham dan gerakan radikalisme dan terorisme yang nyata-nyata merusak nilai-nilai luhur agama dan mengancam kerukunan dan kedamaian. Islam dengan tegas menolak radikalisme dan terorisme karena Islam mengajarkan tentang wasathiyah dan Al-Quran menyebutnya sebagai umat jalan tengah atau moderat yang menjunjung tinggi al-i'tidal," katanya.

Senada dengan itu, Perdana Menteri Irak, Dr Haidar al-Abbady, yang hadir sebagai keynote speaker menandaskan bahwa  pemerintah Irak berkomitmen menjaga situasi yang kondusif di Baghdad dan Irak secara umum untuk menatap masa depan yang lebih baik. 

"Situasi Baghdad dan Irak secara umum saat ini telah kondusif dan bebas dari kelompok-kelompok radikal dan teroris. Kami pemerintah Irak berkomitmen untuk menjaga situasi ini untuk membangun Irak yang lebih menjanjikan di masa mendatang," ungkapnya.

Al-Abbady menilai, konferensi ini penting dalam rangka memberikan dukungan moral dan pemikiran bagi Irak, terutama melalui berbagai tulisan yang dipresentasikan para delegasi. Dia berkomitmen,  dalam dua atau tiga tahun ke depan, Irak akan kembali normal. Proses pembangunan pasca perang terus dilakukan.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh delegasi pada konferensi kali ini karena telah memberikan dukungan moral. Juga sumbangan pemikiran-pemikiran penting dari delegasi yang disampaikan dalam konferensi ini," ujarnya. 

"Kami ingin menyampaikan bahwa Irak tidak seperti sebelumnya. Saat ini Irak telah berubah dan akan bangkit dalam waktu dua atau tiga tahun dengan banyaknya gedung-gedung yang mulai dibangun. Juga kini Irak sudah bebas dari kelompok radikal," sambungnya.

Konferensi ini mengundang berbagai komponen kelompok agama di Irak, seperti Syiah, Kristen, dan lainnya. Tidak kurang delegasi dari 20 negara hadir,  antara lain Mesir, Palestina, Tunisia, Australia, Sudan, Indonesia, wakil dari lembaga riset Eropa, Lebanon, Al-Jazair, Iran, Maroko, Malaysia, India, Bangladesh, Turki, Rusia, dan Ukraina.

Delegasi Indonesia yang menghadiri konferensi terdiri dari tujuh orang, yaitu: Muchlis M Hanafi (Ketua Delegasi, mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin), Muhyiddin Junaidi (MUI), Ikhwanul Kiram Masyhuri (Alumni Al Azhar), Saiful Mustafa (UIN Maliki Malang/NU), Fathir H Hambali (Alumni Syam), Auliya Khasanofa (Muhammadiyah/UMT), dan Thobib Al-Asyhar (Kemenag). []

kemenag/diad

Editor:
Apakah informasi di atas cukup membantu?

TERKINI

OPINI