Menguatkan NKRI dengan Moderasi Beragama

5 Nov 2018
Menguatkan NKRI dengan Moderasi Beragama

Minggu (4 November 2018). Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaa, dan Manajemen Organisasi bekerjasama dengan UIN Sumatera Utara menyelenggarakan acara pembukaan Dialog Budaya Keagamaan. Dialog Budaya Keagamaan dilaksanakan selama tiga hari tanggal 4-6 November 2018 di Hotel Grand Mercure Medan.

Dialog budaya keagamaan yang bertemakan moderasi beragama ini sejalan dengan visi Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bahwa nilai-nilai agama sebagai landasan utama dan pijakan dasar dalam kemajemukan NKRI dalam menjalani kehidupan bersama.

Kapuslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, Muhammmad Zain dalam sambutannya mengatakan bahwa agama dengan budaya bukanlah sesuatu yang dipertentangkan. Sesungguhnya tafsir agama itulah budaya. Sehingga agama datang untuk memahkotai budaya lokal bukan malah menggerusnya.

Budaya yang digerakkan agama timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakininya sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tetapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya.

Ritual keagamaan dalam bentuk larung saji, grebek mulud atau suronan sebagai ekspresi beragama. Seperti halnya Sunan Kudus berdakwah mengakulturasikan budaya lokal dengan nilai-nilai Islam. Sunan Kudus menghormati dan menghargai masyarakat Kudus dengan tidak melakukan penyembelihan sapi pada Hari Raya Idul Adha. Sunan Kudus menyembelih kerbau sebagai wujud toleransi antarumat beragama. Selain itu arsitektur bangunan Masjid Menara Kudus menyerupai Pura. 

Wujud moderasi beragama Islam dengan Hindu terlihat di Bali. Islam di Bali bersinergi dan berinteraksi dalam keharmonisan dan kerukunan antarumat beragama. Islam hadir di Bali ikut serta menyelamatkan raja-raja Bali dari serangan musuh atau pertarungan antarsaudara. Ulama muslim sebagai penasehat raja atau seketaris raja. Bahkan stempel raja-raja pun berlafazh Allah.  Umat Muslim dengan umat Hindu Bali hidup rukun, damai dan saling hormat-menghormati dalam pelaksanaan ritual keagamaan. Mereka ada tradisi ngejot saling memberi makanan_ saat Galungan umat Hindu Bali berkirim makanan ke umat Islam. Demikian sebaliknya ketika Idul Fitri Muslim Bali berkirim makanan ke umat Hindu.

Rektor UIN Sumatera Utara, Saidurrahman menambahkan bahwa agama dan budaya memperkuat kebangsaan NKRI. NKRI terbentang luas dari Sabang sampai Merauke terbentuk tidak ada benturan ataupun pertentangan antara agama dengan budaya. Berbagai persoalan fikih dijawab dan disatukan dengan budaya. Ulama dan tokoh agama pun turut serta dalam memprakarsai berdirinya NKRI dalam kepaduan dan harmonisasi agama dan budaya. NKRI berdiri atas keikhlasan dan mandat para raja-raja yang bersatu padu dalam kedaulatan NKRI. Hubbul wathan minal iman. Mencintai agama adalah sebagian daripada iman.

Acara pembukaan dialog budaya keagamaan dihadiri oleh civitas akademisi UIN Sumatera Utara, Kepala Bidang Khazanah Keagamaan dan peneliti Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, budayawan, antropolog dan tokoh masyarakat. Hadir juga dalam pembukaan dialog budaya keagamaan Usman Pelly antropolog kawakan dan salah seorang pendiri IAIN Medan. Acara ini juga dimeriahkan dengan senandung musik dan lagu Melayu yang dilantunkan oleh sanggar seni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sumatera Utara. []

(NS/MP/AS/diad)

Editor:
Apakah informasi di atas cukup membantu?

TERKINI

OPINI