“Eropa Perlu Belajar Multikulturalisme dari Indonesia”!

30 Mei 2014
“Eropa Perlu Belajar Multikulturalisme dari Indonesia”!

Jakarta(30/05 2014). Ungkapan diatas disampaikan Prof. Dr. Azyumardi Azra  saat menjadi pembicara pada kegiatan Bedah Buku “Semerbak Dupa di Pulau Seribu Masjid”.  Kegiatan diselenggarakan Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Jum’at, 30 Mei 2014 di Hotel Grand Cemara, Jakarta, .

 

Kegiatan ini menghadirkan Prof. Azyumardi Azra sebagai pembedah, dan mengundang Dr. Suprapto sebagai penulis.

Azyumardi Azra menyampaikan bahwa konflik  yang terjadi di Indonesia bukanlah konflik yang berkesinambungan dan saling berkelindan satu sama lain. Ia menyatakan bahwa konflik lebih bersifat isolated conflict, tidak ada kaitannya antara satu konflik dengan konflik lainnya.

Azyumardi Azra selanjutnya menjelaskan bahwa konflik keagamaan atau yang berlatar belakang pemeluk agama tertentu sebenarnya tidak di picu oleh permasalahan keagamaan. Konflik Ambon dan Poso, konflik masyarakat Dayak-Kristen dengan etnis Madura-Islam, dan konflik lainnya  yang  terjadi sesungguhnya bukan dipicu oleh permasalahan keagamaan. Persoalan sosial ekonomi dan politik justru lebih memberikan andil  dalam setiap konflik yang terjadi.

Pendapat Azyumardi Azra selaras dengan temuan Dr. Suprapto dalam buku “Semerbak Dupa di Pulau Seribu Masjid”. Penelitian yang dilakukan di Kota Mataram, NTB, ia menemukan bahwa potensi konflik antara etnis Bali-Hindu dan Sasak-Islam lebih dikarenakan faktor-faktor selain keagamaan. Ia mengungkapkan bahwa faktor historis (narasi masa lalu yang kurang menyenangkan bagi etnis Sasak-Muslim), faktor  politik (menguatnya identitas etnis), faktor sosio-ekonomi (terbatasnya lapangan kerja dan kualitas sumberdaya manusia), dan faktor melemahnya unsur-unsur  modal sosial, memiliki peran dominan atas terjadinya konflik antar etnis.

Dalam kesempatan ini Azyumardi Azra berpesan kepada penulis dan  Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama untuk aktif menerjemahkan buku “Semerbak Dupa di Pulau Seribu Masjid” dan buku-buku sejenis ke dalam bahasa asing. Hal ini dimaksudkan agar khazanah-khazanah literatur berbahasa asing yang mengetengahkan multikulturalisme di Indonesia semakin banyak tersedia.

Selanjutnya Azra meyakinkan masyarakat dunia, bahwa Indonesia merupakan negara plural dengan multi etnis, ras, dan agama yang mampu mengelola perbedaan dengan baik. Dengan percaya diri ia menyampaikan: “Eropa perlu belajar multikulturalisme dari Indonesia”! (AG)

Editor:
Apakah informasi di atas cukup membantu?

TERKINI

OPINI