Puslitbang LKMMO Selenggarakan Seminar Penelitian Implementasi PMA Nomor 42 Tahun 2016

15 Nov 2018
Puslitbang LKMMO Selenggarakan Seminar Penelitian Implementasi PMA Nomor 42 Tahun 2016

Bogor (15 November 2018). Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKMMO) menyelenggarakan Seminar Penelitian Implementasi PMA Nomor 42 Tahun 2016, bertempat di Hotel Permata Kamis, (15/11). Dr. Asroi selaku Kabid Manajemen Organisasi mengatakan seminar ini merupakan seminar ketiga. Sebelumnya, telah dilaksanakan seminar Penelitian Survei Indeks Layanan Kitab Suci, dan Seminar Implementasi Llima Nilai Budaya Kerja di lingkungan Kemenag. Asroi juga mengatakan bahwa Puslitbang LKKMO pada Tahun Anggaran 2019 melakukan terobosan baru dengan memberikan sejumlah penelitian kompetitif secara terbuka. Hal ini senada dengan adanya era baru dalam dunia penelitian yang berbasis luaran.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kapuslitbang LKKMO Dr. Muhammad Zain dan diikuti peserta dari masing-masing unit eselon satu.

Dalam sambutannya, Muhammad Zain menggulirkan tiga ide pokok.Pertama, peneliti adalah invention facts - penemu fakta. Artinya, misi utama seorang peneliti adalah mengungkap kebenaran fakta - peristiwa atau fenomena; mengartikulasikan kebenaran. Dalam buku “The Death of Expertise” yang ditulis oleh Tom Nichols, digambarkan sebuah hasil riset dari Oxford University tentang virus HIV aids yang diabaikan oleh Presiden Afrika Selatan. Pengabaian terhadap hasil riset para ahli tersebut berakibat fatal dan merenggut nyawa puluhan ribu rakyat Afrika Selatan. Senada dengan isi buku tersebut, Muhammad Zain menekankan agar para peneliti sungguh mengabdi kepada kebenaran, dan menyampaikan kepada pimpinan apa hasil temuan di lapangan secara genuine. Di sinilah letak perbedaan seorang peneliti dan pendakwah. Pendakwah akan fokus untuk mengajak umat kepada kebaikan. Sementara peneliti fokus untuk menguak (menyingkap) kebenaran, karena ia adalah researcher, scholar/sarjana.

Kedua, hasil-hasil riset perlu di-sharing, diklasifikasikan sehingga jelas apakah hasil riset itu berupa kebijakan, atau hasil riset yang dapat dipublikasikan. Penting disimak bahwa tidak semua hasil riset harus dipublikasikan, karena perlu ada sikap bijak dan mempertimbangkan sensitivitas publik. Bagaikan air yang sangat panas bila dituangkan ke dalam gelas maka akan membuat gelas tersebut pecah.

Terkait riset PMA No 42 Tahun 2016, di berbagai unit Eselon Satu ditemukan beberapa bagian yang  beririsan dalam tugas dan fungsionalnya. Maka diharapkan dalam pertemuan ini dapat menghasilkan pemikiran-pemikiran yang baik dan jernih berupa solusi yang jitu terkait struktur organisasi kemenag sehingga menjawab kebutuhan dan dapat bekerja secara efektif dan efisien. Seperti Direktorat Jenderal Bimas Islam memiliki subdit Kepustakaan Islam yang berhubungan dengan Kelekturan Keagamaan. Di Puslitbang Lektur sendiri ada bidang Manajemen Organisasi yang tugas dan fungsinya berhubungan langsung dengan Biro ORTALA, Sekretariat Jenderal Kemenag RI.

Ketiga, hasil-hasil riset sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan pemerintah. Apalagi saat ini, kita hidup dalam dunia yang sedang mengalami revolusi teknologi informasi. Tak terkira banyaknya informasi “berseliweran” di mana-mana. Bahkan hamparan informasi tersebut seakan-akan “menyerang, menyergap” manusia. Akibatnya manusia zaman now tidak mempunyai kesempatan untuk membacanya secara mendalam, bahkan informasi-berita tersebut tanpa dibaca, tanpa ada pemahaman yang mendalam, tanpa ada pengujian rasionalitas akan kevalidan isi berita langsung disebarkan begitu saja.

Dalam konteks inilah, kata Muhammad Zain, hasil-hasil riset menemukan urgensinya yang bermakna. Societas kita perlu diajak, dilatih agar memiliki kecerdasan literasi dengan membaca buku dan hasil riset. Lewat aktivitas membaca buku manusia mampu menemukan kedalaman hidup. Frasa “kedalaman hidup” merujuk langsung ke dalam nilai dan makna dari segala apa yang dilakukan manusia. Tidak mungkin apa yang kita sebut sebagai “inti, substansi, mutiara hidup, nilai, makna hidup” itu berada di atas permukaan, jika demikian halnya maka sebutannya bukan lagi “kedalaman” melainkan “kedangkalan” hidup.

Sekali lagi, kata Muhammad Zain, masyarakat kita membutuhkan kedalaman, yang diperoleh lewat membaca buku. Aktivitas membaca ini seringkali terganggu bahkan tidak sempat dilakukan karena banyaknya gangguan, baik dari dalam diri sendiri maupun dari luar.

Muhammad Zain mengajak agar kita membaca sebuah buku menarik untuk disimak berjudul Hyperfocus, How to Be More Productive in a World of Distraction ditulis oleh Chris Bailey. Buku tersebut menawarkan solusi bagaimana “menjinakkan” berbagai gangguan yang ada sehingga kita dapat fokus melakukan pekerjaan penting dengan hasil yang maksimal dan efisien. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah menjinakkan gadget agar tidak sering berbunyi sehingga membuat tidak fokus. “Singkatnya dapat dikatakan produktivitas rendah karena tidak fokus pada pekerjaan,and if so fokuslah agar produktif,” pungkas Muhammad Zain (AS/bas/ar)

Editor:
Apakah informasi di atas cukup membantu?

TERKINI

OPINI